Hari yang Thea nantikan akhirnya tiba. Dengan penuh semangat dia mulai bangun dari tidurnya. Naina saja bahkan belum masuk ke kamarnya, karena ini nemang bukan jam nya dia bangun.
Terlalu senang membuatnya hanya bisa tidur sebentar. Dengan cepat Thea masuk ke kamar mandi dan mulai membersihkan diri. Dia juga dengan mandiri menyiapkan pakaian nya.
Mengambil tas yang akan dia bawa dan menaruh keperluan lainnya dalam magic storage, Thea sudah siap.
"No ... na," Naina yang akan membangun kan nonanya seketika terdiam,
Dia bisa melihat Thea yang denagn santai duduk di kursi dekat balkon sambil membaca buku.
Thea menoleh kearah Naina, "Kau sudah bangun, Naina?" sapa Thea.
Dengan gerakan kaku Naina mengangguk. "Anda bangun jam berapa nona?" tanya Naina sambil berjalan mendekat.
Thea diam lalu menggeleng. "Tidak tahu," jawabnya.
"Apa orang tuaku sudah bangun?" tanya Thea.
Naina mengangguk. Thea membuat gestur dengan tangannya agar Naina pergi dari sana. Sayangnya, pelayan nya itu malah diam saja dan tidak bergerak pergi sama sekali.
"Aku sudah bangun dan mandi, juga, pakaianku sudah aku kemas dengan baik. Pekerjaan mu sudah aku selesaikan semua. Apa lagi?" tanya Thea.
Thea mengangkat tasnya dan menaruhnya di punggung. Dia melewati pelayannya yang masih diam di tempat. Pertanyaannya saja tidak di jawab oleh Naina.
Dia bingung akan mencari orang tuanya kemana sekarang. Langkahnya berhenti di tengah-tengah ruangan. Para pelayan yang melihat sang nona muda ingin bertanya, tapi melihat kerutan di dahi Thea dan gesturnya yang seakan sedang berpikir membuat mereka mengurungkan niat untuk bertanya.
Setelah berdiam diri bak patung, akhirnya dia memutuskan untuk ke kamar orang tuanya, entah keyakinan dari mana, dia merasa orang tuanya berada disana.
***
"Kamu sudah siap, putriku?" tanya Dianna saat melihat putrinya masuk ke dalam kamarnya.
Thea mengangguk dengan senyum lebar. "Tidak mau sarapan dulu?" kini Apollyon yang bertanya.
"Aku makan nanti saja di perjalanan," tolak Thea.
"Semangat sekali," sindir Theo yang baru saja masuk kedalam kamar orang tuanya.
Thea menatap adiknya itu dengan tatapan permusuhan. Manusia yang paling menentangnya pergi dirumah ini adalah adiknya.
"Tentu saja aku sangat bersemangat. Sebentar lagi aku akan bebas dari segala omelanmu yang memekak kan telinga."
Apollyon dan Dianna hanya bisa menggeleng melihat kelakuan kakak adik yang baru baru ini terjadi. Entah karena apa, putra mereka sekarang suka sekali mengganggu kakaknya, hinga putrinya itu kesal dan berakhir dengan mengadukan tindakan adiknya pada mereka.
"Hati-hati," ucap Dianna dan Thea mengangguk.
"Benar tidak mau dijaga oleh kesatria?" tanya Apollyon.
Thea menghembuskan nafas lelah. Dia sudah menolak ratusan kali, tapi ayahnya itu sepertinya masih belum menyerah. Thea menggeleng dengan tegas. "Tidak."
Apollyon akhirnya mengalah dan membiarkan putrinya pergi. Wajah putrinya sudah sangat jengkel karena terus dipaksa membawa pengawal.
***
Saat sampai di luar mansion, banyak sekali bangsawan yang menatap kearahnya. Mata mereka menelisik dari bawah ke atas, seakan mencerna siapa yang ada didepan mereka.
Thea yang asli mana pernah berpenampilan sepertinya sekarang.
"Aku rasa berjalan kaki bukan pilihan yang bagus," ucap Thea lalu kembali masuk kedalam kediaman Everly.
Dia meminta satu kuda untuk dia tunggangi dan kesatria yang dia mintai tolong langsung pergi mengambil kuda di kandangnya.
Tak lama kudanya datang. Warnanya hitam legam dengan surai yang lebat. "Gagah sekali," ucap Thea sambil mengelus kepala kuda itu.
Kudanya meringkik dan semakin menggosokkan kepalanya. Thea terkekeh, "aku ambil." lalu dia dengan cepat menaikinya.
Melihat Thea yang sudah pergi dengan kudanya, kesatria itu terdiam. "Nona muda belajar menunggang kuda kapan?" tanyanya dengan bingung.
Penjaga gerbang dengan terburu membuka gerbang saat mendengar suara tapak kuda yang terdengar semakin dekat. Melihat nona mereka pergi menunggangi kuda membuat mereka heran.
"Itu tadi nona kan?" tanya si penjaga gerbang pada temannya.
"Memang siapa kalau bukan nona,"
"Aku pikir, aku salah lihat."
Thea akhirnya sampai di guild informasi. Dia dengan segera turun setelah mengkaitkan tali kudanya pada pagar kayu yang ada disana.
"Ada yang bisa kami bantu?" ucap pekerja guild setelah Thea memberikan kartu petualangnya.
"Aku ingin tahu tempat yang sedang ada monsternya, tahu dimana?" tanya Thea langsung pada pointnya.
Setelah tahu dimana, Thea segera pergi dari sana. Ternyata di daerah Barat sedang banyak monster yang berkeliaran. Tentu saja Thea harus ikut bergabung.
Kudanya dengan cepat melesat kearah yang dia tuju. Dia suka tempat ini karena menggunakan sihir mereka jadi memiliki alat seperti gps yang sangat membantunya.
Untuk kali ini Thea berdoa agar sifat buta mapsnya tidak bangkit. Karena jujur saja, dia dulu sangat kesusahan saat bepergian tanpa teman, karena tidak bisa membaca maps. Jadi, dia tak jarang akan tersesat dan membutuhkan orang di sekitarnya untuk membantunya.
Alat yang di berikan oleh Theo itu berbentuk seperti kompas. Jika di buka maka akan keluar peta yang seperti hologram dan langsung menunjukkan posisinya.
Kini Thea harus membuka lagi alatnya karena sudah berada di hutan. "Aku suka ini." ucap Thea dengan senyum miring. "Kalau seperti ini bisa-bisa aku tidak akan pulang." ucapnya.
Dia mulai mencari tempat yang di tujunya dengan cara menggeser petanya. Saat dia sentuh maka secara otomatis akan ada tanda yang membantunya agar tidak tersesat.
"Ternyata tidak jauh dari sana. Aku rasa beberapa jam cukup. Kamu kuatkan, kuda?"
Kudanya meringkik sebagai jawaban. "Apa maksud dari ringkikannya?" tanya Thea dengan menggaruk kepalanya bingung.
"Disini ada sihir penerjemah hewan tidak ya? Sepertinya aku butuh." monolog Thea.
***
Saat sampai Thea langsung di hadapkan dengan monster yang menyerang para petualang. Monster monster besar itu terlihat memiliki mana yang cukup besara hingga susah di tumbangkan.
Thea bukannya langsung turun, dia malah diam di atas kudanya. Dia sedang menghitung berapa banyak petualang yang sedang sibuk meloncat kesana kemari di depannya.
"Hanya 5 dengan monster sebanyak ini? Mau bunuh diri apa bagaimana? Orang disini nekat-nekat ternyata." gumam Thea sambil turun dari kudanya.
Dia menoleh ke kanan-kiri dan tidak menemukan tempat untuk mengikat kudanya agar tidak lari.
"Jangan lari dan tunggu disini, sebentar lagi aku kembali." ucap Thea memperingati kudanya.
Dengan segera dia berlari ke bawa dan ikut membantu. Anak panahnya terus melesat tanpa berhenti. Dia tidak menoleh kearah para petualang sama sekali, Thea hanya fokus dengan para monster yang ada di depannya.
Ada satu pria yang terdiam menatap Thea tanpa berkedip. Ada berbagai pertanyaan yang hinggap di kepalanya, salah satunya adalah apa yang di lakukan Thea di tempat berbahaya seperti ini?
"Sial! Mereka susah sekali matinya." umpat Thea.
Sekali lagi pria yang ternyata itu terkejut saat mendengar umpatan Thea.
Dia bisa mengumpat juga ternyata.
***
Continued
KAMU SEDANG MEMBACA
Make My Own Choice
FantasySetelah menerima undangan ke sebuah pulau bersama 12 orang lainnya. Masing-masing dari mereka menerima perhiasan dan dia menerima gelang cantik bermata berlian, setelah memakainya Ghea Kanaya terlempar ke suatu tempat asing. Ghea terpaksa harus bera...
