Thea rasanya ingin ke Kota Liche dan menemui sang Duke secara langsung. Menunggu hal seperti ini memang tidak enak, dia tidak bisa tenang sedikitpun. Edmund juga tidak ada tanda-tanda membalas pesan yang dia kirim.
"Nai ... Masih belum ada jawaban?" tanya Thea.
Naina menggeleng, "belum Nona," jawabnya.
"Sebenarnya dia baca atau tidak sih surat itu? Aku sudah mengatakan penting!" gerutu Thea.
Naina yang melihat nonanya terus berjalan mondar mandir jadi pusing sendiri. "Nona, anda belum sarapan. Bagaimana jika saya ambilkan? Mungkin perasaan Nona bisa lebih baik setelah makan."
"Bawakan kemari ... Aku lapar," ucap Thea yang langsung di lakukan oleh Naina.
Thea memang belum sarapan sedari tadi. Dia bahkan tidak ke ruang makan untuk sarapan bersama keluarganya. Dia sengaja melakukan itu karena menghindari putra mahkota dan kekasihnya.
Dia bahkan tadi protes pada Naina dan tentu saja pelayannya itu tidak bisa melakukan apa-apa, dia hanya mendengarkan segala protesan Thea dengan bibir yang terkatup rapat.
Thea sudah memikirkan cara lain jika Edmund tidak mau bekerja sama dengannya. Meskipun cara itu tetap akan ia lakukan saat Edmund bekerja sama dengannya.
Dia tidak bisa hanya diam saja dan menunggu informasi dari Edmund. Akan lebih cepat jika dia juga melakukannya sendiri.
"Pria itu tidak akan mau bekerja sama jika dia tidak mendapatkan keuntungan apapun. Aku tahu yang dia inginkan, karena itu aku mengirim suratnya. Apa dia tidak paham dengan maksud dari suratku?" gumam Thea.
"Ini sulit karena tidak ada alat komunikasi canggih. Merepotkan jika aku harus menulis surat lagi," decak Thea malas.
***
"Kapan kita bisa pergi?" tanya Edmund.
"Sebentar lagi, Tuan. Kami sedang mengamakan beberapa tempat agar Nona Mai dan Tuan Muda Eden tidak bisa melakukan rencana mereka." jawab Nox.
"Aku harus bertemu dengan Putra Mahkota juga. Ada laporan yang harus aku berikan. Kita mampir ke istana dulu," ucap Edmund.
"Maaf, Tuan ... Putra Mahkota berada di kediaman Grand Duke Everly," jawaban Mox membuat senyum terbit di bibir Edmund.
Tapi karena pria itu tidak pernah tersenyum, senyumnya menjadi mengerikan dan Nox malah jadi merinding.
"Kenapa bisa sangat pas sekali. Percepat semuanya Nox,"
"Baik Tuan,"
Nox segera pamit undur diri dan menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat. "Dev," panggil Edmund.
"Saya Tuan," jawab Dev muncul entah dari mana.
"Kau disini dan pastikan mereka tidak bisa masuk ke mansion utama," perintah Edmund.
"Di mengerti Tuan," patuh Dev.
Edmund berjalan keluar dari ruangannya dan Dev mulai duduk di salah satu meja kerja disana. Dia mulai menggantikan mengerjakan pekerjaan Edmund. Jika biasanya dia akan bekerja dengan Nox di saat tuannya pergi, kini dia harus bekerja sendiri karena Nox akan ikut tuannya pergi.
"Semua sudah siap Tuan," lapor Nox.
"Kita berangkat,"
Portal langsung terbuka di hadapan Edmund dan Nox. Mereka keluar tepat di ruangan Edmund di gulid informasi.
Para pekerja di guildnya terkejut melihat sang tuan yang tiba-tiba turun dari ruangannya.
Tidak informasi yang mengatakan jika Edmund akan datang. Mereka terkejut bukan karena pekerjaan mereka yang buruk, mereka masih bekerja dengan baik seperti biasanya, mereka hanya terkejut karena ini bukan kebiasaan Edmund.
KAMU SEDANG MEMBACA
Make My Own Choice
FantasíaSetelah menerima undangan ke sebuah pulau bersama 12 orang lainnya. Masing-masing dari mereka menerima perhiasan dan dia menerima gelang cantik bermata berlian, setelah memakainya Ghea Kanaya terlempar ke suatu tempat asing. Ghea terpaksa harus bera...
