“Binar mata lo ternyata selalu menyimpan ribuan tangis. Senyum indah di bibir lo selalu menyimpan puluhan peluh. Bahkan raut wajah lo selalu menyimpan banyak harap”.
***
Sudah tiga puluh menit Meyyi berdiri mengantre demi dapat berfoto dengan Iki di foto box yang sudah ada di hadapannya. Tangan Meyyi sudah bersidekap di depan dadanya. Tiba saat mereka berfoto, Iki malah secara tiba-tiba mati gaya.
“Peace..!”, ujar gadis manis dengan baju hitam dan rambut di cepol asal.
“Aku mati gaya tau”, balas lelaki tampan yang duduk disampingnya dengan kaos putih pendeknya.
Ada sekitar enam foto yang mereka dapatkan dari sana. Meyyi tersenyum sejak tadi. Senyumnya tidak pernah luntur sejak ia mengambil foto itu dari tempat tadi. Meyyi mengajak Iki untuk membeli permen gulali di seberang mall. Tapi Iki menolaknya karena alasan malas berjalan. Akhirnya kini Meyyi sudah di pinggir jalan untuk menyebrang demi mendapatkan permen gulali yang ia mau. Meyyi celingak-celinguk melihat sekitar untuk menyebrang, tapi secara tiba-tiba tangannya di genggam oleh seseorang.
“Ngapain kesini? Katanya males jalan,” sindir Meyyi yang masih terus menatap wajah Iki yang dengan santainya menatap lurus kedepan.
“Aku liat ada anak kecil mau nyebrang. Kasian takut gak bisa nyebrang, makanya mau aku sebrangin”.
Meyyi mendecak kesal mendengar tuturan Iki. Lalu Iki menarik lengan Meyyi menyejahterakan langkahnya untuk menyebrang.
“Bang, mau gulali bentuk ayam nya satu”. Penjual permen gulali itu lantas mengangguk mengiyakan pesanan dri gadis cantik di hadapannya. Tanpa sadar, seseorang menatapnya tajam.
“Jangan di liatin melulu bang, dia cewek saya. Cantik kan?,” papar Iki yang membuat penjual permen gulali itu tersenyum lalu mengangguk pelan.
“Abang juga pernah muda, dulu punya pacar cantik juga kayak neng nya. Jadi dejavu deh.”
“Tapi tetep aja pacar saya yang paling cantik.”
“Ya menurutmu begitu, menurut abang mah...”.
“Siapa?”.
“Ya sama sih si neng nya heheh”.
Meyyi tertawa terbahak-bahak mendengar jawaban dari penjual permen gulali tersebut. “Ck. Seneng deh di puji sama abang-abang gini”, ucap Iki dengan wajah datarnya. Meyyi semakin tertawa dibuatnya.
Sepulangnya dari pertemuannya dengan Iki, suhu tubuh Meyyi kembali naik. Ia sudah tersiksa dengan dinginnya udara di kamarnya padahal semua yang mengeluarkan udara dingin sudah di matikan oleh Maya. Reva yang sedari tadi mencari-cari selimut yang masih ada di lemari untuk di pakai oleh Meyyi pun tak kunjung riuh sendirian. Maya masih mengompres kening Meyyi agar panasnya turun.
Sepuluh menit berlalu, Iki datang dengan kekhawatirannya lalu langsung membopong tubuh Meyyi ala Bridal style menuju mobilnya. Iki mempercepat laju mobilnya untuk ke rumah sakit. Sampai dokter mengatakan bahwa Meyyi harus di berikan perawatan inap di rumah sakit. Iki yang setia terus menunggu di samping brankar tempat tidur sambil menggenggam tangan Meyyi erat. Sedangkan kedua teman Meyyi sudah tertidur pulas di sofa.
***
“Mama... badanku kedinginan, tapi kenapa aku demam?”, tanya gadis cantik itu pada Berlian.
“Sayang.. jangan menangis terus, nanti demam kamu semakin naik”, ucap Berlian pada anak gadisnya yang sedang sakit. Ia membawakan bubur dengan taburan wortel di atasnya untuk anak gadisnya. “Ayo bangun dulu, sini mama suapin bubur buatan mama, habis makan ini pasti langsung sembuh”. Gadis itu lantas bangun dari tidurnya untuk menyantap makanan dari Berlian.
“Mmmm.... enakk banget buburnya”, lahap gadis itu dengan senyum yang merekah. Berlian tersenyum sambil terus menyuapi gadisnya.
Brakk...
“Mama, baju bola Lio kemana?”, tanya Lio yang baru saja mandi sehabis pulang sekolah. “Di lemari kamu nak”, balas Berlian santai. Lio menghentakkan kakinya lalu memukul pintu dengan keras. “Mama cariin baju Lio dong. Hari ini Mama terus-terusan di kamar Meyyi temenin dia. Waktu Lio sakit, mana ada Mama kayak gitu sama Lio. Dasar anak manja!”.
“Lio jangan gitu”, tegur Berlian sambil berjalan menghampiri Lio. “Halah. Mama dari dulu selalu mengutamakan Meyyi daripada Lio. Apa sih spesialnya Meyyi? Lio yang selalu Mama salahkan setiap hari tanpa tau siapa yang sebenarnya salah! Lio benci Meyyi”, teriak Lio. Ia menghentakkan kakinya sekali lagi lalu berlari. “PAPAAAA....”, teriakkan Lio yang terdengar menggelegar di seisi rumah mencari keberadaan Rodi untuk mengadu.
Berlian kembali duduk di sudut kasur gadisnya lalu membelai rambutnya. “Gak apa-apa kok sayang, nanti juga kakak kamu akan mengerti”, belaian rambut Berlian cukup membuat gadis itu tersenyum lalu memeluknya. “Maafin aku...”.
“HEI KAMU! KAMU PIKIR KAMU SIAPA? DASAR LEMAH. INI ALASAN SAYA TIDAK MAU PUNYA ANAK GADIS SEJAK DULU. LEMAH! DIKIT-DIKIT KAMU MENYUSAHKAN ISTRI SAYA!”, bentak Rodi yang membara di ambang pintu kamar gadis lugu itu. Gadis itu menangis.
“Mama, maafin aku. Maaf udah buat keluarga ini berantakan. Maaf udah terlahir padahal gak ada yang mengharapkan....”, air mata Meyyi mengalir deras. Ia terhenyak lalu bangun dari mimpi yang terus mengulang sejak Berlian pergi. Kilatan masalalu itu terus menghantuinya, membuatnya merasa bersalah dengan semuanya. Tersadar, ia melirik sekitar dan mendapati Iki yang menatapnya panik di sampingnya.
“Kamu mimpi apa?”, tanya Iki dengan seribu kekhawatirannya. Meyyi menangis lalu menceritakan mimpinya pada Iki. Iki mengelus rambut Meyyi perlahan. “Kamu jangan merasa bersalah. Seorang ibu pasti akan merelakan anaknya untuk lahir daripada kesehatan dia sendiri. Mama kamu udah merelakan operasi jantungnya demi melahirkan kamu. Sekarang kamu harus buktikan kalau kamu seistimewa itu di mata Mama kamu. Okey?”. Semakin tenang ucapan Iki padanya, semakin Meyyi terisak.
“Kita bertemu untuk merasakan berpisah. Walaupun gak begitu lama kamu bertemu beliau, tapi beliau akan selalu ada untuk kamu. Jangan hiraukan papa kamu dan kakak kamu yang gak pernah mempedulikan kamu.”
“Makasih ya udah buat aku setenang ini...”.
KAMU SEDANG MEMBACA
01.03
Подростковая литератураPernah mendengar ucapan orang "sejauh apapun lo maju, orang lama tetap pemenangnya"?. Senyuman itu, yang selalu terpikirkan di kala senja di iringi gemercik hujan rintik sore hari. Tawa itu, yang selalu terdengar saat diri ini tertawa dengan yang la...
