CHAPTER 15-kelas tiga

8 2 0
                                        

“Semuanya memang menjadi baik-baik saja, tapi semua juga mulai berubah.”

***

Lano berdiri di depan mading. Menempelkan pemberitahuan ruangan ujian nasional kelas tiga. Melihat namanya yang masuk di ruang empat. Lano menghela nafas kemudian berjalan menuju ruang osis. “Udah gue tempel”, ucapnya pada seorang gadis di dalam sana. “Makasih ya Lano”, jawabnya santai. Lano mengangguk, memasukkan tangannya pada kantong celananya. “Lano?”, panggil seseorang dari belakang. “Gue mau ngajak lo untuk pergi ke perpustakaan nanti siang. M-mau gak?”, tanya seorang gadis cantik di hadapannya sekarang. Lano melihatnya dari atas hingga bawah. “Ya-yahh, yaudah deh maaf ya ganggu”, balas gadis itu. Lano memutar bola matanya malas. Ia memilih untuk pergi ke kantin kali ini.

“Kayaknya prom nanti couple goals kita Iki sama Meyyi deh”.

“Tapi kan mereka belum jadian”.

“Iya ya, siapa tau prom nanti Iki sama gue”.

“Emang paling bener Ami sama Zidan anjir”.

“Eh btw ya, sebenernya gue ini kekasih gelapnya Iki tauk”.

“Lah gue udah di lamar sama Iki”.

“Gak percaya sih gue, buktinya Iki ga tau lo hidup”.

“Hahaha”.

Sepanjang deretan kursi kantin dipenuhi pembahasan yang membuat Lano muak. Sejak itu, Lano tak banyak bicara pada orang-orang termasuk Meyyi. Bahkan sudah lama mereka tidak saling berkabar, hingga sekarang mereka menduduki bangku kelas tiga. “Eh itu Lano kan? Cowok dingin di sekolah kita”, desis siswi di kantin. Mereka menunjuk-nunjuk Lano yang terus berjalan santai menuju kantin ujung.

“Woi Lano, sini”, panggil seorang cowok di ujung sana. “Lo murung banget dah, eh emang begitu yak”, cibirnya lagi. Lano hanya menatap wajah lelaki di hadapannya dengan datar lalu memesan batagor. “Lo kenapa sih mukanya di tekuk mulu kan kesan orang yang liat lo tuh kayak lagi berhadapan sama musuh. Nih kayak gue dong, udah ganteng, murah senyum, pacar gue cantik lagi.” Lano melirik Zidan. “Minusnya lo miskin”, sindirnya. “Eh buset iya tau dah gue miskin, gak usah di perjelas kali. Untung kita temenan, coba kalo ga. Udah gue bogem lo”, kesal Zidan. “Nih”, Lano dengan wajah dinginnya malah menantangnya dengan menyodorkan wajahnya pada Zidan. Yang di tantang hanya memberi cengiran.

“Kak Iki, kakak ganteng banget”, teriak salah satu siswi di meja depan Lano. Lano melirik ke arah tiga orang laki-laki yang datang dengan gaya sok nya. “Emang temen gue mah ganteng, tajir lagi. Awas ya jangan lama lama liatnya, dia udah punya gebetan”, balas Dafa bersemangat. Baginya memiliki teman yang terkenal sangat memberinya keuntungan. Bagaimana tidak? Jelas ia juga ikut terkenal saat ini. “Kak Dafa temenku suka”. Dafa melambai-lambaikan tangannya pada siswi-siswi di kantin. Alvi hanya berjalan dengan permainan rambutnya yang membuat beberapa gadis terpesona.

Iki duduk di salah satu kursi kosong bersama kedua temannya. Ia memesan es jeruk peras pada bibi kantin. “Permisi kak, boleh minta nomornya gak? Atau username Instagram nya gitu?”, goda satu siswi cantik disampingnya. Siswi itu menyodorkan handphone nya pada Iki dan disambar oleh Dafa. “Temen saya mah gitu, lagi jaga hati untuk seseorang yang tak akan terganti walaupun gak jadi-jadi. Mending nomor saya aja ya dek, tenang aja, saya gak jauh tajir sama dia”, ocehnya. Siswi itu mengangguk menyetujui, jelas sekali ia materialistis.

01.03Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang