"Hubungan yang udah berakhir gak wajib untuk di lupakan, meski banyak orang yang coba untuk mengenang itu semua yang ternyata tujuannya agar gak terjebak dalam hubungan yang sama suatu saat nanti."
<>
Setelah sekian banyak sesi foto bersama kedua temannya, Meyyi mendapatkan satu bingkisan dari Dafa. Sebelumnya ia jelas mendapatkan pemandangan yang tak mengenakkan. Tasya dan Iki berfoto ceria dalam satu kamera canggih milik sekolah.
"Ya elah jangan diliat melulu kali, sampe keluar gitu mata lo," sindir Reva sambil menyenggol pelan bahu Meyyi. Yang di sindir mendelikkan matanya lantas memajukan bibirnya satu senti lalu memiringkannya.
"Cuma liat doang salah banget kayaknya di mata lo?."
"Iya salah besar Mey. Lagian ngapain si? Puas lo liatin tu bocah dua dari tadi, mentang-mentang lulus lo."
"Lo ngapain deh muncul tiba-tiba banget?"
"Oh iya. Tadi di panggil tuh sama ketua angkatan yang ganteng banget di deket banner 'Graduate'. "
Meyyi mengangguk pelan sambil berlalu meninggalkan Reva bersama Dede disana, dengan tangan yang memegang bingkisan dari Dafa.
Flashback on
"Anjay gila keren banget dah bestie gue bisa masuk 10 besar satu sekolah gila kece badai," Maya menyikut pelan lengan Meyyi yang terus tersenyum setelah namanya di panggil dengan nilai yang memuaskan.
"Ciahh balik-balik langsung di puji sama tuan rumah yang haus nilai," tawa Reva renyah terdengar. Reva tidak salah. Tebakannya tepat sasaran teruntuk Rodi yang akan selalu membandingkan nilai nya. Bagi Rodi, masuk 10 besar dalam predikat seluruh sekolah saja belum memuaskan. Sebelum namanya di sebut nomor satu di seluruh sekolah.
"Bagi bokap gue mah kurang cuy," Meyyi tertawa getir.
Dari kebisingan tawa dan berbagai ucapan 'Congratulation' kepada seluruh peserta wisuda, seseorang menepuk bahu Meyyi membuatnya refleks membalikkan tubuhnya melihat Dafa berdiri di sana dengan cengiran khas-nya.
"Kece amat sih lo hari ini. Udah cakep, berprestasi, baik hati dan tidak sombong lagi. Btw selamat lulus ye Mey," sapanya riang.
"Dih hiperbola banget deh lo, nangis nih gue."
"Hehehe. Eh ini ada bingkisan buat lo, ya anggap aja dari gue sih," Dafa mengulurkan tangannya yang menggenggam satu tote bag berwarna coklat.
"Makasih Dafa tumben banget baik lo sama gue," ia tertawa riang.
"Bacot banget lo, udah ah gue mau ke sana dulu."
Flashback off
Kini Meyyi sudah tepat berada di hadapan Lano. Si cowok tampan dengan seribu penggemar dan sebutan kulkas ribuan pintu itu. Meyyi tersenyum lantas melambaikan tangannya pada Lano yang masih terus menatap lurus ke wajahnya.
"Woi ngelamun melulu lo," gertak Meyyi kesal.
"Cantik."
"Hah?."
"Ayo foto sama gue, nanti gue akan pergi jauh Mey untuk lupain lo, jadi biar gue punya momen dulu sama lo," ujarnya.
"Lupain gue? Pergi jauh? Emang lo mau kemana?"
"Gue selalu coba jadi bayangan yang hantui isi pikiran lo tapi ga akan pernah bisa. Secara yang lo mau cuma dia seorang. Gue selalu berharap lo menatap gue sama seperti lo tatap dia, tapi itu hal yang sulit buat lo. Bahkan sampe saat ini perasaan gue tetep sama Mey."
"Ma-maksud lo?," mulut Meyyi menganga.
"Gue suka sama lo semenjak awal pertemuan kita Mey."
"Lano?," Meyyi semakin tidak percaya dengan apa yang di katakan Lano. Apakah benar Lano menyukainya?.
"Iya Mey, tapi tenang aja. Gue cuma minta kita foto berdua hari ini terus gue bakal ke Amerika dan lupain lo disana."
"Kenapa lo suka gue?," masih dengan wajah polosnya Meyyi terus bertanya-tanya. Ia masih terus berdiri di hadapan Lano sampai saat ini, melihat betapa tulus Lano mengatakan itu. Meski dalam benaknya selalu merasa mengapa harus dirinya yang disukai Lano?. "Gak ada alasan untuk gue jawab pertanyaan lo itu Mey. Apa suka sama seseorang itu harus ada alasan?," jawaban Lano membuat Meyyi semakin bertanya-tanya. Bagaimana bisa?
Setelah perbincangan yang cukup panjang, akhirnya Meyyi dan Lano berfoto ria bersama di photobox yang sudah di sediakan pihak sekolah. Mengambil hasil fotonya, lalu mereka memotretnya lagi lewat ponsel untuk di posting di snapgram.
"Kalo nanti di Amerika gue mau komunikasi sama lo gimana Mey?," sejenak Lano berfikir sebelum mengatakannya. Ia melirik wajah Meyyi yang masih terus melihat hasil fotonya sambil tersenyum manis. "Iya Lanooo boleh kok, kita kan masih temenan. Iya kan?," jawabnya lembut. Lano tertawa renyah sambil mengulurkan tangannya untuk mengelus pucuk kepala Meyyi.
<>
Meyyi dan kedua sahabatnya sudah cukup lelah dengan acara pelepasan siang tadi. Mereka sudah terbaring di atas kasur sejak dua puluh menit lalu. Terkecuali Meyyi yang sibuk menata baju nya untuk pulang kembali ke kota asalnya. Awalnya ia akan pulang satu minggu ke depan. Namun ia mengurungkannya sebab tak mau berlama-lama di wilayah sekolahnya. Lebih pada tak ingin satu kota lagi dengan Iki.
Oh ya, bagaimana kabar Iki dan kekasihnya saat ini?
Mengingat Iki dan Tasya berfoto ria bersama selepas pelepasan tadi siang. Kini keduanya sudah berada di suatu taman terdekat. Menikmati kebahagiaan yang mereka miliki. Meski tanpa sadar seseorang menatap dari balik pohon mengalirkan air bening dari matanya. Cukup membuat hatinya teremas sangat kuat. Pemandangan yang tak seharusnya ia lihat saat ia akan pergi meninggalkan kota ini.
KAMU SEDANG MEMBACA
01.03
Teen FictionPernah mendengar ucapan orang "sejauh apapun lo maju, orang lama tetap pemenangnya"?. Senyuman itu, yang selalu terpikirkan di kala senja di iringi gemercik hujan rintik sore hari. Tawa itu, yang selalu terdengar saat diri ini tertawa dengan yang la...
