Semua orang bilang itu hanya kecelakaan. Namun, Anya tak ingin mempercayainya.
Setiap petunjuk yang ia temukan di sekolah ini, justru menggoyahkan semua hal yang selama ini ia yakini. Sebab, di balik wajah-wajah tanpa dosa, tersembunyi sesuatu yang...
Derap langkah kaki teman-temannya perlahan menghilang dari pelataran, disusul bunyi gerbang yang kembali menutup rapat. Dalam hitungan detik, rumah besar itu mendadak terasa jauh lebih luas... sekaligus jauh lebih asing.
Anya berdiri mematung beberapa saat. Tatapannya masih terpaku ke arah halaman belakang seolah berharap semua yang baru saja terjadi hanyalah lelucon yang kelewat buruk.
Namun bau amis yang masih menempel di udara terus menariknya kembali ke kenyataan.
Dengan jemari yang mulai bergetar, Anya merogoh ponselnya. Ia membuka daftar panggilan, lalu tanpa ragu menekan satu nama.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Hanya butuh dua kali nada sambung sampai suara berat khas di seberang sana menyapa.
"Kenapa?"
Anya menarik napas dalam-dalam, menahan emosi yang nyaris pecah di dadanya. "Gue butuh lo di sini. Sekarang. Anak-anak udah pada pulang, dan ada sesuatu di halaman belakang."
Hening sesaat memenuhi sambungan telepon. Nada suara Leo mendadak berubah menegang tajam. "Gua berangkat."
Waktu berjalan begitu lambat.
Setiap suara kendaraan yang melintas di depan kompleks membuat Anya refleks menoleh, lalu mengembuskan napas kecewa saat kendaraan itu terus melaju menjauh.
Jemarinya berkali-kali menggenggam ujung sweater sendiri, tanpa sadar terus melirik pintu belakang yang kini tertutup rapat.
Baru beberapa menit kemudian, raungan motor yang begitu dikenalnya akhirnya memasuki gang rumah.
Motor bahkan belum sepenuhnya mati ketika Leo sudah turun.
Helmnya dilepas seadanya lalu digantung di setang. Begitu melihat wajah Anya, langkahnya melambat sepersekian detik.
"Mana?" tanya Leo pendek, matanya masih clingak-clinguk mengedar. "Katanya ada sesuatu."
"Ikut gue."
Pintu kaca bergeser pelan, menyemburkan aroma amis yang menyengat hidung. Langkah Leo terhenti kaku. Matanya menyipit tajam menatap air kolam renang yang kini berubah merah keruh, dengan dua bangkai kelinci kaku mengapung tak berdaya di dekat skimmer box.
"...Anjing," umpat Leo rendah sambil mengepalkan tangannya rapat-rapat.
"Bukan cuma itu," timpal Anya pelan. "Pelakunya juga naruh robot rakitan yang mirip banget punya Luna dulu."
Leo terdiam sesaat, lalu menatap Anya tajam. "Yang sekarang mana?"
"Tadi gue taruh di-" Kalimatnya terputus seketika begitu matanya tertuju pada meja kayu di dekat teras. Meja itu kosong melompong.
Belum sempat Anya menjawab, terdengar bunyi pintu samping dibuka tergesa-gesa.
"Eh! Eh!"
Natalie muncul dengan napas ngos-ngosan, ponselnya sudah terangkat tinggi sejak masih di ambang pintu.