Beberapa hari kemudian mereka mendengar kabar tentang hukuman pengasingan Reina dilakukan. Menurut informasi yang diterima Kai, wanita itu lebih banyak diam dan penurut sejak kunjungan terakhir mereka. Dia juga terlihat banyak melamun tapi juga menangis tanpa suara. Dokter yang memeriksanya menyatakan bahwa dia frustrasi. Rasa penyesalan luar biasa menggerogoti hatinya. Hanya kata-kata 'maaf' yang selalu keluar dari bibirnya.Berita itu ditanggapi Vio dengan cuek. Dia hanya tersenyum pada Kai saat mendengarnya. Tangannya membelai kepala pria cantiknya dengan sayang lalu mengecup keningnya. Tapi Kai tidak tertipu dengan itu semua. Mata Vio sangat kontras dengan prilakunya. Ada kesedihan di sana.
"Aku mencintaimu, Natayaku." Bisik Kai di telinga Vio. Jarinya membelai belakang leher pria itu pelan.
Vio mendesah lega. Dia yakin Kai tau apa yang dirasakannya. Tapi dia tidak mengungkapkannya. Cukup begitu saja. Jangan ada lagi cerita sedih itu. Vio ingin menebus kesalahan masa lalu ayahnya walaupun itu juga sebuah kebaikan. Meski begitu kebaikan Valda juga sudah mempertemukannya dengan si kembar. Perjalanan hidupnya sudah ditakdirkan. Kini dia hanya harus membahagiakan Kai dan menjalani hidup mereka dengan baik.
"Aku tau...dan aku juga." Ungkap Vio dengan mesra.
"Hei!!!! Mau sampai kapan kalian duduk di sana? Cepat turun!! Bantu aku beresin kafe! Kita mau tutup. Ack...mataku sakit ngeliat kalian."
Sam berkacak pinggang di depan pintu kafe. Wajah imutnya cemberut saat marah-marah. Dia sangat kesal melihat pemandangan di atas atap kafe. Kedua pria itu duduk santai di atas dan berpelukan mesra. Suasana malam penuh bintang membuat keduanya sangat nyaman duduk di sana. Dan ini membuat Sam benar-benar marah...atau mungkin cemburu.
Vio cekikikan. Dia hendak beranjak tapi keburu ditahan Kai. Pria cantik itu tersenyum manis lalu dalam sekejap mereka sudah berada di dalam ruang ganti. Tanpa jeda Kai langsung mendorong Vio ke dinding dan menyambar ciuman di bibirnya.
Vio tidak mau tinggal diam. Dia segera membalik posisi dan menjepitnya ke dinding. Mereka berciuman dengan rakus dan posesif. Lidah saling bertaut dan suara kecapan terdengar sangat erotis. Tangan Vio menjelajah ke bawah dan meremas bokong kecil yang padat dengan sedikit keras. Suara lenguhan seksi keluar dari bibir Kai dan ini membuat Vio semakin bernafsu. Lidahnya turun dan menjilati dagu, leher dan jakun kekasihnya. Sungguh ini membuatnya gila. Bagaimana seorang pria bisa begitu sangat sensual di matanya. Namun hanya pada Kai dia merasakan ini. Tidak pada semua pria.
Vio menciumi telinga Kai dan menjilatinya.
"Aahh...kau membuatku gila, Calmee ku sayang." Bisik Vio dengan napas terengah.
Kai mencium pipi Vio dengan sangat lembut. "Kau juga membuatku gila, Pangeranku."
"Vioooo!! Kaaaiii!! Dimana kalian???"
Teriakan Sam di luar membuat keduanya tersadar dan tertawa. Kegilaan kecil itupun berakhir.
***
"Maaf aku terlambat." Seru Sota yang buru-buru duduk di sebelah Luca. Suaminya itu langsung menarik pinggangnya dan memberikan kecupan lembut di pipinya. Senyum merekah di bibirnya dan Sota hanya bisa pasrah menanggapinya. Dia tau kalau Luca benar-benar tidak tau malu. Mencium Sota adalah hal yang tidak pernah absen dilakukannya setiap saat meskipun di depan umum.
"Oke...jadi mari kita mulai!" Sahut Vio antusias tanpa perduli dengan pemandangan itu.
Hari ini adalah pertemuan terakhir mereka sebelum hari H yaitu hari pernikahan Vio dan Kai. Vio sengaja mengumpulkan orang-orang terdekat mereka berdua. Dia ingin mereka semua hadir dan ikut memberikan restu. Selain itu, dia juga ingin memberikan kejutan buat Kai.

KAMU SEDANG MEMBACA
My Dearest 'Calmee' (BXB)
RomanceCerita ini sekuel dari 'Find Me' Vio tidak pernah menduga kalau hidupnya akan sangat berubah setelah dia menemukan secara tidak sengaja seorang pria terluka parah di sebuah gang gelap yang kecil. Hari berikutnya dia melihat pria yang sama tapi dal...