Kai berdiri dengan santai tapi kepalanya tidak demikian. Beberapa kali dia menelengkan kepalanya ke kanan ke kiri. Tak heran...dia penasaran dengan cermin besar yang berdiri kokoh dengan penyangga di belakangnya di lantai kamar pondok Vee. Cermin itu tinggi hingga bisa merefleksikan seluruh tubuh orang di depannya.Tubuh ramping yang proporsional tampak jelas di sana. Kai memicingkan matanya saat melihat siluet di belakangnya yang mendekat. Pria besarnya berdiri tepat di sana...sangat dekat. Kedua tangannya merengkuh pinggangnya yang ramping.
Vio mendaratkan bibirnya di tengkuk kekasihnya. Nafas hangat menyentuh kulitnya. Kecupan ringan yang lembut terasa sangat intim. Kai tersenyum.
"Kenapa ada cermin besar di sini?" Tanya Kai lembut sambil membelai kepala Vio.
Vio mengecup lagi beberapa kali, "aku ingin mencoba sesuatu." Jawabnya santai dengan suara yang terdengar seksi di telinga Kai.
"Mmmm...apa itu?"
"Melihat reaksimu saat aku melakukan ini."
Vio tiba-tiba menjilat sisi kanan leher jenjang Kai yang membuat pria cantik itu tersentak dan mendesah kaget.
Mata Vio melirik ke cermin dan seringai nakal muncul di bibirnya. Kai terlihat merona dan berusaha mengatur napas. Vio menyukainya, menyukai bagaimana Kai mencoba menghadapi gairahnya sendiri.
"Kak Yo...kau nakal sekali."
"Tapi kau suka kan?"
Kai terkekeh.
"Tentu saja...apalagi yang mau kau coba?" Tantang Kai
Kedua tangan Vio bergerak perlahan ke atas dan tepat berhenti di dada Kai.
"Ini..."
Cubitan kecil dan ringan pada kedua titik di dada Kai membuat tubuhnya bergetar. Refleks Kai melengkung kan tubuhnya ke depan.
"Kak Yo...!!!"
"Hmmm...!"
"Kau semakin mesum."
Mendengar itu tangan Vio semakin liar. Penampakan reaksi Kai di cermin membuatnya menggila.
"Kau terlihat semakin cantik." Bisik Vio menggoda.
"Ckk...Kak Yo, jangan sebut aku cantik. Aku seorang pria." Sahut Kai dengan wajah cemberut.
"Aku tau kau seorang pria tapi aku bicara jujur. Kau pria tercantik yang pernah kutemui."
"Kalau aku cantik...itu berarti...Vee juga. Benar kan?"
Vio terdiam. Pelukannya semakin erat. Perlahan dia tersenyum. Mata mereka bertemu di cermin. Kai membelai pipi Vio dengan senyum sayang.
"Aku menyayangi kalian berdua. Vee adalah adikku dan Kai adalah orang yang kucintai. Kita berdua mencintainya. Dia juga memiliki keanggunan dan wibawa yang tidak dimiliki orang lain. Aku gak mau kau cemburu karena wajah kalian sama."
"Aku gak cemburu, Kak." Sanggah Kai lembut.
"Baiklah...kau gak cemburu."
"Aku hanya ingin kau melihat perbedaan kami. Hal-hal yang membuat kita saling mencintai."
Vio menatap Kai tajam.
"Kau meragukanku?" Tanya Vio penasaran.
"Tidak pernah. Aku percaya padamu. Kita terlalu terikat untuk itu. Tidak ada celah untuk tidak percaya."
"Lalu...??"
"Aku hanya penasaran apakah kau hanya melihatku karena wajahku yang kau bilang cantik."
Kata-kata Kai terasa sangat tajam. Vio segera membalik tubuh Kai hingga mereka berdiri berhadap-hadapan. Dia merengkuh wajah putih Kai. Matanya menjelajahi setiap sudut wajah itu. Bagaimana rasanya dia melihat Kai pertama kali setelah 10 tahun, dia mengingatnya. Tidak ada penjelasan untuk itu. Perasaan itu seperti air yang mengalir. Sulit dikatakan. Dan dia baru sadar setelah beberapa lama. Dia tidak terhipnotis karena kekuatan Kai tapi diri Kai lah yang menariknya seperti magnet dari segala arah. Itu pengalaman yang berbeda dan indah.
Saat itu kakinya mengikuti Kai karena hatinya. Dia bahkan tidak mengerti kenapa. Penasaran? Tentu saja. Seorang pria terluka yang dijumpainya tiba-tiba datang tanpa luka sedikitpun. Dia bahkan sangat sehat. Tapi daya tarik Kai saat itu benar-benar tak bisa disangkal. Bola mata madunya yang membuat hatinya meleleh. Rambut yang terang dan acak-acakan. Tubuh tinggi semampai. Lalu kulitnya yang putih terlihat seperti pualam.Tapi yang paling menarik adalah sikapnya yang terkesan cuek pada saat itu. Pria itu tampak tidak perduli dengan sekitarnya yang sangat memperhatikannya. Pria dengan sisi misterius sekaligus seksi di mata Vio.
Vio menggeram hanya dengan kata seksi yang terlintas di pikirannya.
"Aku tidak tau apa yang membuatku tertarik denganmu. Itu hanya...aku tidak bisa menahannya. Aku sangat suka...sangat tergila-gila...dan aku tidak bisa menyebutkan satu alasan apapun. Apakah perlu alasan kenapa seseorang mencintai kekasihnya? Kurasa tidak...Cinta datang dari hati dan itu tidak bisa dikontrol."
Kai terdiam namun matanya mulai berair.
"Saat ini ibu dan dirimu adalah segalanya bagiku. Dan kehadiran kalian benar-benar berharga. Jadi...tolong jangan ragukan aku. Kumohon!"
Sebuah ciuman yang dalam mendarat di bibir Vio. Kai memagutnya dengan kuat. Mata Vio terbelalak karena kaget. Hal berikutnya Vio memeluk Kai erat. Napasnya sangat berat saat ciuman itu berakhir. Tangannya menggapai punggung Kai dengan posesif seakan takut kehilangan.
"Kak Yo!" Bisik Kai lembut
"Mmm."
"Terimakasih."
Vio mendesah lega saat mendengarnya. Mereka tertawa pelan karena pembicaraan ini. Sepanjang ingatan mereka, baru kali ini mereka benar-benar bicara sangat intens. Dan ini sangat berharga.
***
Vio mengecup kening Kai lembut. Pria cantiknya tidur dengan sangat tenang setelah aktivitas mereka yang intim semalaman. Vio tak kenal ampun. Dia setengah menyesal telah sangat menggila. Mereka bercinta dengan berbagai posisi. Kai berusaha menghentikannya beberapa kali tapi Vio enggan. Desahan dan tangisan Kai membuat nafsunya semakin tinggi. Air mata yang mengalir di sudut mata madu itu terlihat memabukkan.
Beberapa putaran sungguh membuat Kai lelah. Walaupun itu tidak akan berlangsung lama. Kai akan segera pulih dan ini waktu yang Vio perlukan untuk bersiap bersama yang lain.
Dia turun dari tempat tidur dengan telanjang. Beberapa bercak merah dan cakaran ada di tubuhnya. Dia berdiri di depan cermin dan tersenyum bangga. Tubuhnya yang sehat dihiasi dengan tanda cinta Kai. Tangannya membelai beberapa tanda itu. Kilauan cincin di jari manisnya mengerling. Senyum bahagia semakin lebar. Kepuasan yang tak terbatas memenuhi hatinya.
"Sekali lagi...pemandangan yang sangat indah."
Bisikan pelan dan serak terdengar di belakangnya. Vio berbalik dan melihat Kai yang masih berbaring miring melihatnya dengan mata sayu yang lembut. Sungguh sangat indah bagi Vio.
"Tidurlah lagi! Aku akan mandi lalu berkeliling sebentar."
"Ini masih gelap. Kenapa buru-buru?" Tanya Kai pelan.
"Aku ingin bertemu dengan Ratu Peri sebentar."
"Mmm...baiklah. Sampaikan maafku karena belum bisa bertemu beliau sekarang." Pinta Kai memelas.
"Oke...jangan khawatir."
Kai tersenyum lalu kembali menutup matanya. Suara dengkuran lembut terdengar dan ini adalah tanda buat Vio.
Pria besar itu segera membersihkan dirinya di kamar mandi lalu memakai pakaian sekenanya.
Dia segera keluar kamar dengan hati-hati tanpa menghampiri Kai lagi. Dia takut akan tergoda lagi. Gairahnya akan bangkit hanya dengan menyentuh kulit kekasihnya. Dan akhirnya pasti kebablasan. Rencana hari ini tidak boleh gagal. Kejutan yang sudah dia rencanakan harus berhasil.~~~~
Happy reading☺️
Jangan lupa vote ya!!!ykd_mosy
12/09/2024

KAMU SEDANG MEMBACA
My Dearest 'Calmee' (BXB)
RomanceCerita ini sekuel dari 'Find Me' Vio tidak pernah menduga kalau hidupnya akan sangat berubah setelah dia menemukan secara tidak sengaja seorang pria terluka parah di sebuah gang gelap yang kecil. Hari berikutnya dia melihat pria yang sama tapi dal...