7. Diana [Revisi]

928 50 0
                                        

Keluarga Liam memperlakukan Noemi dengan baik layaknya keluarga.

Tapi kehampaannya tidak bisa menutupi apapun dari raut majahnya.

Liam yang bersikukuh mengatur jalan rencana personalnya.

Ia ingin tinggal terpisah dari keluarganya setelah menikah. Walau ayahnya menentang keras, ini terjadi saat keluarganya menetapkan diskusi pernikahan.

Noemi tak tahu apa yang Liam pikirkan beberapa hari belakangan.

Tapi melihat kesungguhan Liam saat bicara, dengan memegang tangannya erat. Noemi mati rasa. Ia hanya pasrah dengan ucapan calon suaminya.

Karena ia merasa tidak punya tumpuan untuk hidup. Jalan satu-satunya tempat ia pulang adalah Liam.

Meskipun keyakinan hatinya tidak pasti, namun kesungguhan Liam membuatnya tidak bisa menolak ketika ayah Liam bertanya apakah itu baik untuk Noemi.

Noemi hanya mengangguk tanpa ekspresi.

Meski terkesan egois, dan memaksakan kehendak Liam sangat berterimakasih pada Noemi yang mempercayainya.

Siang itu, dengan langit yang tampak cerah.

Pada saat pemilihan dress pernikahan, Liam sangat tertarik dengan usulan ayahnya untuk mencari dress pernikahan calon istrinya.

Noemi hanya membalasnya dengan senyum singkat.

Namun ada perasaan aneh dalam hatinya. Perasaan buruk dan rendah diri.

Padahal Calon suaminya asik memuji tiap kali melihat dress pernikahan untuk mempelai wanita.

"Nao, kau pasti akan cantik memakai itu ..." Ucapnya berulang kali.

Sedang Nao lagi-lagi tanpa ekspresi dan mengekor saja.

Tiba-tiba saat Nao melihat-lihat katalog dari rekomendasi pelayan butik, Liam mendapatkan panggilan mendadak.

Liam pamit pergi ke tempat yang lebih sepi, walau sukar meninggalkan Noemi.

"Kenapa kau harus menelpon di waktu yang tidak tepat." Bentak Liam.

"Maafkan saya pak, anda menyuruh saya menyelidiki nona Diana bukan, saya sudah mendapatkan data dari wanita tersebut. Ia sudah tiba di bandara kemarin." Jawab seorang pria di telpon itu.

"Bagiman bisa? Bukannya masa kontrak kerjanya masih ada 1 minggu lagi?!" Liam heran.

"Nampaknya dia membaca surat kabar yang beredar di media massa kemarin. Soal pertunangan anda dengan nona Noemi. Saya harap anda berhati-hati dan bisa mengatasi rumor buruk tentang anda dengan nona Diana kemarin." Tegas pria itu. Ia lalu menutup telepon nya.

Liam dan Diana adalah teman kampus semasa kuliah. Sering hangeout dan menghadiri pesta perusahaan bersama.

Jika media massa mengabarkan bahwa mereka menjalin hubungan romantis itu memang tak salah.

Memang benar Diana adalah kekasih Liam yang ia jaga dan perjuangkan sejak dulu. Dan juga adalah awal penderitaan Noemi sebagai istri yang tidak dikehendaki oleh Liam.

Tapi bagaimana sekarang???

.
.
.
Langkah kaki cepat Liam berjalan ke arah butik tempat Noemi memilih baju. Karena melihat mobil yang terparkir di luar sangat familiar.

Liam bahkan tidak menyadarinya.

Tapi waktu dan tempatnya sama dengan kejadian yang sudah lewat.

"Sial..." desisnya sambil mengerutkan kening di wajahnya.

Benar saja, ia sudah melihat Diana berada di samping Noemi, berpura-pura akrab dan merekomendasikan dress apa yang cocok untuknya.

Toko butik itu juga sudah mengenal Diana lebih dulu. Makanya pegawainya sangat akrab dengan Diana. Karena sering membeli baju di sana.

Pertama kali bertemu Noemi. Ia melayangkan senyum tipis penuh keangkuhan melihat gadis muda di depannya. Yang melihat-lihat model dress pengantin lewat katalog.

Ternyata benar, mereka sedang di butik.

Gadis yang wajahnya ku lihat di medsos tempo hari ya...

Benar-benar terlihat seperti pohon kering yang akan tumbang, tidak menarik dan biasa, pantas saja Liam tidak suka.

Bukankah Liam pernah berkata kalau gadis desa ini sangat menyukainya. Tapi kenapa saat memilih baju ia terlihat tak tertarik. Aneh...

Diana memandang Noemi dari ujung kaki sampai kepala dengan argumen penghinaannya.

Tapi tentu saja seorang model bisa memperlihatkan 1000 wajah.

Ia memasang senyum riangnya.

"Wah sepertinya tahun ini banyak pasangan muda yang akan menikah ya, padahal aku mengharap kalau aku bisa lebih dulu menikah~" jawab wanita jangkung itu dengan rok sepan sebatas lutut, dan kaos putih yang ditutupi jas coklat kehitaman. Begitu tampak elegan di pandang mata.

"Nona Diana, kapan anda sampai?!, kenapa tidak berkabar. Ada baju model baru yang saya rasa cocok untuk anda pakai!" Kata pelayan yang awalnya melayani Noemi.

Noemi juga terkejut melihat kehadiran Diana.

"Tidak, tidak. Aku hanya sekedar mampir untuk melihat-lihat saja...

Apakah nona sudah menemukan dress yang cocok untuk di pakai?!" Diana tersenyum gembira.

Entah kenapa wajahnya terasa familiar. Pikir Noemi.

Namun ia masih bersikap positif thinking.

"Belum, aku sedang melihat-lihat saja..." jawab Noemi singkat.

"Oh bagaimana kalau saya bantu memilihkannya...?!

"Benar, nona Diana adalah model dengan selera fashion yang luar biasa nona. Kemarin dia baru saja berkolaborasi dengan Negara china untuk memamerkan baju musim semi. Hebat bukan!." Puji pelayan itu.

"Ah, jangan berlebihan, mungkin aku sedang hoki saja..." Jawabnya singkat dengan wajah profesional.

"Benarkah... kalau begitu baiklah..." Noe setuju.

"Wah, aku sangat gembira memilihkan dress pengantin untuk kaum muda~" Jawabnya.

Ia mendekat ke arah Noemi, merekomendasikan baju yang cocok, bukan untuk Noemi melainkan untuk dirinya sendiri.

Ini seperti jebakan.

Dari luar terdengar suara langkah kaki yang berat dan kasar. Ketika mereka bertiga lagi asik memilih baju.

Benar saja, itu adalah Liam.

Ia langsung membuka pintu kaca yang sedikit terbuka namun tampak transparan dari luar.

"Noemi... " Ucap Liam dengan nada tinggi. Namun wajahnya penuh kekhawatiran.

"Ada apa Liam?!" Tanya Noemi heran, melihat wajah calon suaminya itu.

"Apa kau sudah selesai menelpon?!" Tanyanya Noe dengan senyum singkat.
.
.
.
Bersambung.

Revisi 6/1/2024

Sweet BrideCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang