Noemi memakai dress yang benar-benar tak pantas untuk dirinya.
Bahkan dress itu tampak kepanjangan dan longgar dengan tubuh mungilnya.
Sehingga ia tampak kesusahan memakainya karena sedikit melorot.
Tampak rasa puas di muka Diana yang mencoba menahan tawanya.
Beda dengan Liam yang semakin jengkel melihat gelagat Noemi yang tampak bodoh.
"Kalau dressnya kepanjangan kenapa kau tetap memakainya, pilih yang lain saja. Apa kau tak malu, dirimu tampak seperti gagak saat memakainya." Jelas Liam.
"Jangan begitu liam, itu sangat pantas untung nona noemi, dress yang sedikit terbuka cocok untuk tubuh ramping nan kecil. Coba ganti, dan berikan padaku gaunnya nona. Aku akan mencobanya sebentar..." Diana melancarkan aksinya.
Setelah mereka berganti pakaian..
Diana keluar memakai baju itu, Liam sempat terkejut dan terpesona melihatnya.
"Bagaimana indah kan..." senyum Diana melebar.
Dengan percaya diri ia menampakkan tubuh yang bagai gitar Spanyol itu pada Liam, Noemi dan pelayan itu.
"Tentu saja sangat indah nona, apalagi yang memakai nya adalah model terkemuka.." pelayan itu exited.
"Cantik kan Liam ..." senyum Diana lembut pada Liam.
Lolos membuat Noemi sakit hati dan rendah diri bahkan perasaan cemburu sempat tersedia di hati kecilnya.
Namun kebutaannya akan cinta itu lagi-lagi menutupi rasa malunya.
Berharap suaminya akan meliriknya kelak dan memberikan secuil kasih untuknya saat mereka sudah resmi menjadi suami istri.
"Ya, kau seperti balerina yang memerankan putri angsa 'odette' dengan dress panjang..." Liam membalas senyum itu.
"Apa ku bilang, nona Noemi cukup mengecilkan ukurannya saja... pasti cocok di pakai untuk nona juga, benar kan Liam!" Ucap Diana.
"Ya..." jawab Liam namun matanya masih fokus ke Diana.
Sejak saat itu Noemi sudah tahu, hati Liam bukan untuk nya. Melainkan orang yang Liam lihat dengan tatapan lembut itu.
Namun nasi sudah menjadi bubur, pernikahannya tinggal sebulan lagi waktu, membatalkannya hanya akan membuat ayah Liam dan kakek nya kecewa nanti.
Tapi dari semua itu, dia tulus mencintai Liam bahkan sejak mereka kecil. Perasaan egoisnya mengalahkan pikiran nalar dan logikanya berkali-kali.
Ketika pemilihan dress itu selesai.
Liam memang membelikan Noemi baju hangat untuk Noemi, itupun secara acak dan rekomendasi dari pelayan butik. Berbeda dengan Diana yang juga ia belikan baju hangat.
Liam tahu betul bagaimana selera Diana.
Kejadian hari itu benar-benar membuat nyali Noemi menciut dengan hati yang sedih serta cemburu.
Mereka berpisah, dan tak lupa Diana mengecup pipi kanan calon suaminya itu. Padahal Noemi sendiri tak pernah melakukannya.
Dan dalam perjalanan pulang juga, mereka tak banyak bicara. Liam asik melihat hp nya sesekali saat jalan macet. Tanpa memedulikan Noemi.
Ia sesekali tersenyum, melihat isi chatinga itu.
Hal itu benar-benar melukai perasaan Noemi.
Namun ketika sampai dirumah mereka memainkan pasangan yang akan menikah dengan sempurna.
"Bagaima, apa kau mendapatkan dress yang bagus. Nak?" Ucap ayah Liam pada Noemi.
"Iya ayah, aku sangat bahagia..." jawab Noemi menutupi situasi yang terjadi padanya tadi.
Ia menampakkan senyum cerah tanpa kekhawatiran dan juga kesedihan.
Yang tampak oleh wajahnya hanyalah wajah seorang gadis manis bahagia karena sebentar lagi akan menikah.
.
.
.
Back!
Begitulah kejadian yang lewat di ingatan Noemi saat ini.
"Ba .. bagaimana kalau nona coba memakainya..." Diana khawatir.
"Apa kau gila!" Liam spontan, sorot matanya tajam ke arah Diana dengan raut muka yang murka.
"Apa aku wajib memakainya hanya karena aku memilih gaun ini?!" Noemi menoleh ke arah Diana dengan wajah tak suka.
"Tidak perlu, nona juga bisa mencobanya di rumah... dan bila dress itu kekecilan atau kebesaran di tubuh anda, anda bisa mengantarkannya kemari lagi untuk di perbaiki..." ucap pelayan menengahi karena situasi makin tak terkendali.
Ketika mereka membayar dress yang di beli, Diana tampak kaku. Bahkan tampak tangannya seperti gemetaran ketika seseorang dengan nomor rahasia mengirinya bukti foto.
Sebuah skandal malam panasnya bersama seorang laki-laki.
Ia kebingungan menutupinya dari Liam,
Tapi bahkan Liam tak peduli dengan keadaannya, matanya selalu tertuju pada calon istrinya.
Tiba-tiba siang yang cerah itu digantikan oleh cuaca yang mendung, dan tak selang berapa lama hujan tiba saat mereka ingin berjalan ke luar, pulang.
"Nona Diana? Apa kau tak pulang?!"
"Ah, hujan tiba-tiba datang... apa kalian tak sebaiknya berteduh dulu di sini sampai hujan reda?!" Diana.
"Tidak, aku akan langsung pulang. Kalau kau mau disini juga tak apa Liam, aku bisa menggunakan taksi untuk mengantarkanku." Tegas Noemi.
"Hah ?! Apa kau bercanda ? Tentu saja aku akan pulang dengan mu Noe. Tapi sebelum itu bagaimana kalau kita beli saju hangat untuk mu dulu. Aku takut kau masuk angin dengan tubuhmu yang masih dalam pemulihan..." Liam melembutkan bicarakan.
Sampai Diana heran dan tak menyangka kalau Liam akan melembut seperti itu pada wanita lain selain dirinya.
"Ah, apa kau akan menyuruh pelayan itu mencari baju hangat?!" Noemi bernada enteng.
"Tidak, aku sendiri yang akan mencarikannya untuk-"
Belum sempat bicara Noemi langsung pergi keluar dari butik dengan situasi hujan yang semakin deras.
Liam mengikuti langkah kakinya dengan cepat.
Jangan bilang, ingatannya mulai kembali...
Batin Liam khawatir.
Ia dengan cepat membuka jas panjang berwarna cokelat gelap miliknya yang sampai kelutut itu,
Untuk memayungi Noemi agar terhindar dari guyuran air hujan.
Baju kaos lengan pendek berwarna hitam itu basah seketika tertimpa hujan deras.
Noemi terkejut melihat prilaku Liam, namun perasaan emosi dan marah yang berkecamuk di dalam pikirannya, tidak menyisakan ruang untuk bersimpati.
Liam membukakan pintu mobilnya, Noemi pun segera masuk.
Ia berjalan ke belakang membuka jok mobil dan mengambil sesuatu.
Liam masuk ke mobil, sigap membalut tubuh Noemi dengan jacket.
"Pakailah ini sampai kita tiba di rumah. Setidaknya jacket ini bisa membuatmu tetap hangat meskipun agak kotor karena belum sempat ku cuci."
Liam menyalakan mesin mobil yang mereka kendarai lalu pergi.
Bahkan tanpa memedulikan Diana yang mengejarnya sampai ke teras butik itu.
Tampak jelas wajahnya mengeras seakan Noemi sedang mengambil lelakinya.
Noemi bahkan tak bahagia melihat hal itu,
Ia melihat Liam yang sedang menyetir pelan di tengah hujan itu untuk berhati-hati agar tak terjadi kecelakaan.
Bajunya bahkan tampak basah namun ia hanya memedulikan Noemi.
Noemi tidak ingin melihat Liam yang seperti itu, ia hanya menolehkan mukanya ke arah jendela mobil itu.
.
.
.
Bersambung
6/1/2025
KAMU SEDANG MEMBACA
Sweet Bride
FantasyNoemi merasa seperti hidupnya terulang kembali dengan ingatan samar bersama suaminya Liam. Entah kenapa sejak pertemuannya dengan Liam yang membahas pernikan sampai tinggal serumah Liam yang di kenal Noemi selama ini 180° berbanding terbalik dengan...
