23. Wedding day's

286 23 2
                                        

Aula pernikahan

Yang didekor megah dan meriah,

Seorang pria jangkung mengenakan setelan jas serba hitam berdiri tegap menantikan seseorang.

Acara hari ini sebenarnya sudah dimulai,

Orang-orang yang hadir mengerutkan kening seraya menerka

"Mungkin mempelai wanitanya tidak akan datang?!"

Sampai penghulu juga menanyakan hal itu berulang kali.

Namun pria itu dengan teguh menjawab  " Tunggu sebentar lagi."

Meski perkataan teguh pendirian, tapi dalam hatinya Liam hanya pasrah dengan keadaan.

Ia hanya memegang teguh janji Noemi 2 minggu sebelum pernikahan.

Hanya ada sedikit kejadian sweet yang terjadi padanya dan Noemi kemarin. Kiranya tak juga berhasil membawa Noemi kembali.

Ia sadar paksaan yang ia lakukan tak akan membawakan hasil apa-apa.

Meskipun ayahnya sudah mewanti-wanti hal itu, karena akan mempermalukan keluarganya dan dirinya sendiri karena Noemi yang bungkam.

Dalam kurun waktu 2 minggu undangan sudah tersebar.

"Aku tak akan pulang selama 2 minggu ini Liam, baik kau dan keluarga jangan menghubungiku."

Ucap Noemi saat itu.

Liam hanya menyanggupi perkataan itu tanpa membantah, walau dengan berat hati ia melangkahkan kaki pulang seorang diri.

Ia juga mengabari keluarganya untuk tidak menghubungi Noemi terlebih sang ayah yang khawatiran sekuat hati juga menahan.

Ia melihat anak pertamanya itu sangat lelah dan lesu beraktivitas. 

Terlebih kantung mata Liam menunjukkan ia memaksakan diri bekerja untu mengalihkan perhatiannya dan fikirannya pada Noemi.

Meskipun wedding operaion itu tetap berjalan.

Kembali pada saat ini

Ia mencoba menenangkan hatinya di ruang tunggu.

Siapa sangka wanita yang kelihatan mencolok mengenakan gaun putih bergaya putri duyung itu datang menemuinya.

Dengan tampilan elegan rambut lurus yang disanggul kebelakang, wajah oval dengan makeup ala barat.

Banyak orang yang mengira bahwa pengantin Liam sudah pasti dia.

Diana.

Siapa lagi kalau bukan dirinya.

Meski beredar gosip yang sudah membuat namanya terpuruk dan hampir hancur dan pihak agensi sudah menyuruhnya untuk vakum sementara.

Ternyata hal itu tak membuatnya gentar  untuk datang.

Bahkan kalau hal itu nantinya akan mencoreng mukanya.

Wanita itu mengetuk pintu ruang tunggu itu, dengan nada lembut.

"Liam apa kau di dalam..."

Pintu itu bahkan tidak terkunci.

Ia perlahan masuk, wajah itu masih tetap cantik dan mempesona.

Namun di mata Liam kini terasa biasa saja.

"Untuk apa kau kemari...?!" Dengan ketus dan tatapan tajam seraya tak suka.

Diana sudah bersiap dengan sikap Liam yang seperti itu, hal itu terasa seperti nostalgia saat pertama mereka berjuma dulu.

"Apa kau yakin gadis itu akan datang?!, bukankah aku juga ada di sini untukmu?!" Diana memelas.

Sweet BrideTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang