32. Terapis

54 3 0
                                        

Happy reading🫠




Noemi!

Noemi!

Dimana kau?!

Liam tiba-tiba berada di antara kerumunan banyak orang yang ada di bandara,

Ia melihat punggung seorang gadis yang amat sangat dikenalnya,

Gadis itu melingkarkan tangannya memegang lengan seorang pria disampingnya.

Liam dengan sekuat tenaga mengejar gadis itu, ia tidak henti-hentinya berteriak. Saat ia akhirnya mampu menangkap pergelangan tangan gadis itu,

Gadis itu menoleh dan berkata

Liam selamat tinggal... Terimakasih...

Benar gadis itu adalah Noemi, gadis yang menjadi istrinya. Walau mereka tak pernah sekalipun tidur bersama.

Ia melepaskan tangan Liam dengan lembut, dan pergi bersama pria yang bergandengan tangan dengannya lagi-lagi tanpa menoleh.

Meskipun dirinya mencoba berteriak, pita suaranya seakan padam. Bahkan langkah kakinya dipaksa terhenti, seakan ada sesuatu menahannya untuk bergerak bak magnet. Menyedot dirinya kedalam kegelapan seperti lumpur hidup.

....

Noemi menelpon sekretaris Liam untuk mengizinkannya istirahat untuk beberapa hari, karena pria itu demam tinggi.

Sekretarisnya pun mengkonfirmasinya, hari ini sedikit aneh rasanya. Pimpinan yang dikenal pintar menempatkan situasi dan peluang dalam mengambil keuntungan mengembangkan perusahaan, dan gila kerja itu bisa sakit.

Aneh.

Bahkan saat Noemi menutup teleponnya, pria yang masih berbaring di tempat tidur itu masih memanggil namanya sambil merintih tak sadar.

Apa yang ia impikan sampai seperti itu?!

Batin Noemi.

Ia segera datang mengganti kompres air dingin yang mulai kering akibat suhu tubuh Liam yang tinggi.

Semalam memang Liam bersikap biasa saja, wajahnya sembab karena ia habis menangis walau hanya beberapa menit. Lalu berpamitan untuk tidur, tiba-tiba dia batuk beruntun dan anehnya beberapa jam mereka tidur di kamar masing-masing.

Noemi mendengar suara Liam yang memanggilnya. Kamar mereka memang bersebelahan hanya jarak beberapa meter saja dengan balkon yang menghadap ke perkotaan. Noemi yang merasa aneh langsung pergi ke kamar Liam yang tak pernah terkunci, kecuali saat ia mandi atau berpakaian.

Berbeda dengan Noemi yang selalu mengunci pintunya.

Ia melihat Liam yang sudah keringat dingin, wajahnya pucat dan mengigau

"Jangan pergi, tetap disini bersamaku" dan tak lupa memanggiil nama Noemi berulang kali.

Noemi menelpon ayah Liam. Anehnya ayah Liam hanya berkata ia demam biasa dan menyuruh dokter pribadi untuk memeriksanya besok.

Ia tak ingin menambah kesedihan Noemi dengan menceritakan kisah Liam yang demam tinggi saat ibu kandungnya meninggal.

Itu bukan hanya sakit secara fisik tapi psikologisnya juga tergoncang. Ayahnya berfikir Liam pasti mengalami suatu hal, makanya gejala itu kambuh lagi.

Setaunya anak itu kuat dan jarang sakit.

Noemi terjaga sepanjang malam, dan mengompres kening Liam dengan air hangat, Liam meracau sepanjang malam.

Dalam mimpinya, ia berada di kegelapan tak ada apapun disana yang menemaninya. Semua terasa hening...

Saat ia pasrah dan merasa bersalah, perlahan cahaya kecil yang datang dari atas terasa menyilaukan.

Sweet BrideTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang