28. New Idea

209 12 1
                                        

Hai semua!🫨 (oyong oyong)

Happy reading🙃

.
.
.
.
.
Liam terbangun dengan keadaan duduk menyandar di bawah tempat tidur beralaskan karpet bulu.

Hanya kali ini dia tak tidur di sana sendirian.

Pantas saja lengan besarnya merasa kesemutan, ia melihat Noemi yang menyandar di lengan dengan kedua tangannya yang masih memeluk pria besar disampingnya itu.

Wajah tenangnya di saat tidur benar-benar membuat Liam tertegun.

Ia merasa waktu seakan berhenti untuk menikmati pemandangan itu.

Ia tak memedulikan tangannya yang kesemutan lagi.

Tangannya akan menyentuh pipi Noemi, tapi seketika ia menghentikan pergerakannya dan pura-pura tertidur waktu Noemi tak sengaja bangun.

Noemi melihat posisinya dan memperhatikan Liam yang masih tertidur (atau lebih tepatnya pura-pura tidur).

Ia mengusap wajah Liam dengan lembut.

"Wajahnya masih sembab..." lirihnya.

Ia mengambil selimut, menyelimuti Liam lalu pergi.

Mencuci mukanya ke kamar mandi lalu pergi ke dapur.

Ia melihat apa saja yang tersedia di kulkas untuk di masak.

Noemi tanpa sadar melakukan hal-hal yang ia lakukan dulu di rumah itu sebelum memutar waktu.

Sebaliknya, Liam hanya tertegun melihat beberapa botol anggur yang ada di depannya.

Ia memang ingat, ia pergi ke kamar Noemi hanya sekedar minum untuk menghilangkan pikiran kalutnya.

Tapi anehnya ia tak mengingat apapun setelahnya.

Ini terasa aneh. Ia adalah seorang pria yang tidak mudah mabuk seberapapun ia meminum alkohol, dan mengingat setiap kejadian setelahnya.

Tapi hari ini ia tak bisa mengingat apapun semalam. Ia hanya mengingat ketika Noemi mengusap air mata yang jatuh kepipinya itu.

Setelah itu ia tak ingat apapun lagi.

Walaupun ia berusaha mengingatnya itu hanya membuat kepalanya sakit.

Ia pergi ke kamar mandi, mencuci mukanya lalu meminum air mineral kemasan yang ada di kulkas.

Ia tak sengaja mencium aroma masakan dari arah dapur. Lalu menuju ke sama.

Ia melihat Noemi menggunakan apron biru muda saat memasak, rambutnya di kucir satu seperti buntut kuda.

Liam hanya memperhatikan Noemi dari arah belakang tanpa suara.

Mungkin, kalau kita menikah tanpa membawa masalah masing-masing. Beginilah kehidupan kita setelah menikah...

Batinnya.

Hati Liam terasa sakit seketika melihat pemandangan itu disatu sisi dia merasa bersyukur juga.

Noemi yang merasa gerak-geriknya seperti di awasi seseorang lalu melihat ke arah belakang.

"Oh, sejak kapan kau berada di sana?!" Tanyanya pada Liam.

"Baru saja..." Liam tersenyum singkat.

"Apa kepalamu masih sakit?!"

Noemi bertanya demikian, karena kejadian semalam setelah Liam tenang. Noemi ingin kembali ke kamarnya di lantai atas tapi Liam tidak memperbolehkannya.

"Ya... sedikit lebih baik... apa aku melakukan kesalahan kemarin....?!" Tanya Liam.

Noemi melirik Liam sejenak, ia tersenyum sambil mengatakan ,"tidak ada".

Sweet BrideTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang