12. Wedding Dress (1) [Revisi]

675 39 2
                                        

"Ada perlu apa kak?!" Ucapnya heran.

"Bolehkah aku, meminta sedikit bantuanmu?!". Ucap Noe serius.

"Tentu saja, apa itu?!".

"Bisakah kau menemaniku ke rumah kakek?!" Noe penuh harap.

"Eh?!".

.
.
.
.
.
.

Dany terdiam sejenak

"Bukannya aku tidak mau, tapi apakah tidak sebaliknya kalau kakak diantar kak Liam saja?!"

"Ah, itu...
Kalau kau tak bisa juga tak apa...
Maaf sudah meminta hal yang tak masuk akal padamu". Jawab Noe singkat. Lalu ia pergi

"Tunggu kak, kapan ?!". Bagaimana Dany bisa melepaskan calon kakak iparnya itu dengan umur yang baru tamat SMA dan lagi ia tahu rumah kakek Noe cukup jauh.

"Sekarang..."

"Baiklah, tunggu aku di bawah. Aku akan bersiap sebentar..."

Tak selang berapa lama, Dany menghampiri Noe yang berada di luar namun di sana sudah ada Liam.

Sepertinya ada perdebatan kecil di antara mereka berdua.

....

"Aku sudah meminta izin kepada pamam dan bibi. Mereka juga sudah memperbolehkan aku pergi dengan Dany, Liam. Jadi apa yang salah...." Ucap Noe.

"Salah. Karena calon suami mu itu adalah aku bukan Dany!" Bentak Liam.

"Lalu kenapa, Dany juga akan menjadi adik iparku. Lepaskan aku!"

Nao berusaha melepaskan tangannya yang di genggam Liam.

"Ada apa ini?!" Tanya Dany.

"Jangan ikut campur. Ini urusan kami!" Jawab Liam.

Seketika Dany diam.

"Aku tak mau pergi dengan mu Liam, kalau kau tetap memaksa aku pergi denganmu. Mari batalkan pernikahan kita." Nao spontan.

Genggaman tangan Liam langsung kendor.

Badannya terasa kaku mendengar perkataan itu. Raut wajahnya begitu kecewa melihat Noe.

Kata pisah atau batal menikah adalah senjata ampuh untuknya agar tidak melawan.

"Maaf Liam, untuk beberapa hari kita harus menjaga jarak. Aku dan kau mungkin harus menenangkan diri...

Ayo pergi Dany..."

Dany hanya mengangguk dan pergi.

Liam berbisik ringan dengan kata-kata tajam untuk Dany.

"Kalau sampai kau menyentuhnya, kupastikan hidupmu juga berakhir"

Dany tersenyum singkat mendengar kata-kata itu.

"Tenang saja, aku tak akan mengambil milik orang lain. Kecuali dia sendiri yang datang padaku."

"Dasar bedebah, buah memang tak jatuh jauh dari pohonnya" seringai Liam.

"Sampai nanti..." ucap Dany singkat.

Mereka berangkat dengan mobil putih milik Dany. Dari spion terlihat Liam memandangi mobil itu dengan tatapan tajam. Rahangnya mengeras, urat yang ada di dahinya bahkan tampak menonjol dengan tangannya yang mengepal.

Setibanya di rumah kakek. Tampak raut wajah kesedihan dari muka Noe.

Ia membuka pintu.

"Aku pulang kakek"

Meskipun di sana tidak ada siapaun. Rumah itu juga tampak berdebu karena sudah di tinggal beberapa minggu.

Hati Dany berdesir melihat keadaan Noe yang tampak hancur.

Andai kata Dany berada di posisi sama seperti Noe ia pasti sudah menangis dan setres.

Bagaimana tidak kakek yang sudah menjadi satu-satunya keluarganya itu sudah tiada. Sekarang gadis itu sebatang kara.

Hampir saja ia jatuh karena kakinya terhuyung tak kuat menopang tubuhnya. Manakala Noe teringat masa indah waktu kakeknya itu masih hidup.

Namun raut wajahnya tetap tegar menahan tangis, agar tak terlihat sebagai gadis yang lemah.

Dany langsung menopang tubuhnya yang hampir jatuh.

"Kak, apa kau tak apa?!"

"Oh ... tidak apa-apa, aku baik-baik saja, tunggu di sini sebentar. Aku akan mengambil sesuatu di kamarku." Ucap Noe.

Dany hanya mengangguk.

Noe mencari-cari dress peninggalan ibunya dulu.

Ia melihat dress hitam, yang masih tampak anggun itu tersimpan dengan rapi dan masih utuh meskipun sudah lama. Karena Noemi selalu merawat gaun itu dan sesekali memakainya pada waktu pesta di desa.

"Semua orang pasti akan kaget jika aku memakai dress ini, ya kan ibu...

Biasanya aku memakain dress ini dengan gembira dan bangga karena ini dress kesukaan ibu...

Tapi besok apakah rasanya akan sama..."

Ia berdesis lirih dan keluar membawa dress hitam itu yang di bungkus dengan kotak baju yang juga berwarna hitam.

Dany sempah heran apa yang ia bawa. Tapi dia tak ingin terlalu ikut campur menanyakan apa isi kotak itu, meski ia penasaran.

Noemi memintanya untuk mengantarkan ke tukang jahit biasa tempat ia menjahitkan baju.

Dany menyanggupinya. Dan sepertinya Dany tahu apa maksudnya.

Sesampainya ke tukang jahit,

Noemi meminta Dany pulang duluan, karena ia ingin bermalam di rumah kakeknya. Meskipun Dany sempat menolak dan ingin menunggu Noemi, lalu pulang bersama. Tapi Noemi tetap menolak.

"Tenang saja, aku akan tidur di tempat kawan akrabku. Jaraknya hanya 3 rumah. Kau lihat kan rumah cat hijau, dan orang yang melambaikan tangan padaku tadi. Dia Sinzu teman akrabku..."

"Aku bisa berjalan pulang, rumah tukang jahitnya juga tidak terlalu jauh dari rumahku kan. Bibi yang menjahit itu juga biasa mengantarkan ku pulang..."

Bibi itu pun mengangguk sambil tersenyum

"Baiklah.. tapi kalau ada apa-apa tolong kabari kami secepatnya, ok..." Dany.

"Baiklah..."

Meskipun sempat khawatir Dany bersyukur orang-orang di desa tempat Noemi tinggal memperlakukannya dengan baik.

Sepulangnya Dany.

"Bi, bisakah kau merombak dress ini, menjadi beberapa bunga mawar..."

Ucapan gadis itu seraya membuat bibi kaget.

Gadis itu mengeluarkan gaun mewah berwarna putih itu.

Bukannya memperkecil ukuran dress nya ia malah berkeinginan merombak dress nya menjadi bunga.

Dan menyuruh bibi itu untuk melakukan perombakak kecil pada dress hitamnya.
.
.
.
.
Bersambung
Revisi 6/1/2024

Sweet BrideCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang