30. Batas

150 7 0
                                        

Ngga ada hal yang gw mau katain, mumpung dapat feel disini...
Hm... happy reading all🤗🫠
.
.
.
.
.
Sebelum Noemi sempat membalikkan tubuhnya. Liam lebih dulu menarik tangannya hingga Noemi berada di pelukan Liam.

"Can I get that reward again?!"
.
.
.
.
Tangan besar dan kekarnya bergetar, seakan ia sedang menunggu penantian yang belum tentu di terima.

Mata tajamnya bias, dengan alis tebal yang mengernyit.

Wajahnya tampak memelas atau mungkin sengsara.

Noemi yang agak kaget terhadap kelakuannya dan perlakuan Liam, mematung sepersekian detik.

Tungkainya gemetar menahan berat tubuhnya.

Ia tak sengaja mendorong tubunya ke belakang, dan menginjak sesuatu setelahnya.

Liam refleks menangkap tubuh kecil Noemi yang jatuh. Ia memegang kepala bagian belakang Noemi dan pinggangnya agar tak sakit.

"Kau tak apa?!" Tanyanya panik. Wajah Liam berubah seketika.

Noemi mengangguk "Ya, tak apa... " Mereka membangkitkan diri secara bersamaan dan terduduk.

Liam menolehkan wajahnya ke arah lain. Namun sirat matanya tak dapat berbohong "apa aku terlalu memaksanya!" Isi hati Liam yang ditangkap Noemi.

Sebelum Liam bangkit dari tempat ia jatuh dan terduduk di depan Noemi, lalu membalikkan wajah. Noemi segera menarik kerah lengan bajunya.

"Apa kau tak akan....

Menciumku..."

Wajah yang tersenyum singkat bahkan hanya menaikkan garis bibi beberapa mili, dengen keadaan pasrah itu terlihat 1000x lebih cantik untuk dipandang saat ini.

Hingga siapapun yang memandannya takkan sanggup menoleh.

Liam menelan dahaganya. Sepersekian detik ia langsung mengecup bibir Noemi.

Noemi kali ini benar-benar menatap lekat dirinya. Tak ada reaksi penolakan atau apapun,

"Kau harus membuka sedikit mulutmu ketika berciuman Noe..."

Ucap Liam tanpa nada paksaan, hanya ingin Noemi tahu saja.

"Aslike this....?!" Noe melakukan apa yang Liam pinta kepadanya.

Seketika Liam menciumnya. Ia bahkan memasukkan lidahnya yang sudah basah sejak tadi oleh sal*va di mulut kecil yang terbuka sedikit itu.

Telapak tangannya yang hangat menyentuh pipi Noemi dengan lembut.

Jantungnya bergemuruh sampai mungkin bisa didengar oleh Noemi sendiri.

Ia memperdalam ciumannya, hingga Noemi tak bisa melakukan apapun selain menerimanya.

Tangannya meraba rambut belakang Noemi, dan menarik kepala Noemi sedikit kasar ke arah wajahnya. Hingga ciuman itu benar-benar lekat, sedang tangan satunya melingkar memegang pinggang Noemi erat.

"Ehm hm... hah.. ah... hah..." desis Noemi kehabisan nafas. Ia mendorong dada bidang Liam dengan cepat dan reflek bangkit berdiri meninggalkan Liam tanpa kata.

Noemi tak ingin sirat wajahnya ketahuan oleh Liam, bahwa dia sangat malu.

Hanya pergi sambil menutup mulut dengan satu tangannya.

Sementara Liam agak terkejut dengan refleks yang Noemi berikan. Ia memegang bibirnya. Dan berfikir beberapa detik.

"Gawat... sepertinya hari demi hari aku semakin mencintainya..." batinnya.

Sweet BrideTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang