POV LIAM (INGATAN)
Hari itu aku menggendong gadis kecil berusia 5 tahun, lalu membawanya pulang. Kakek kami begitu khawatir, aku melihat kakek yang begitu menyayangi cucu kecilnya itu.
Aku melihat ayah yang begitu menghormati dan menyayangi gadis itu layaknya anak sendiri. Ah, ternyata aku baru tahu dia adalah cucu dari orang yang membantu kakek semasa hidupnya dulu. Sayang kakekku sudah tiada begitu pula ibuku.
Ia juga tampak sedih melihatku.
"Aku harap, walaupun mendiang istrimu sudah tiada. Kasih sayang pada anakmu tidak berkurang. Dan ku harap istri barumu bisa membantumu di masa depan..." ucapnya.
Ia lalu pergi menggendong cucunya yang tak lupa melambai ke arahku dengan wajah bodoh itu.
Entah kenapa aku sangat senang hari itu, aku mencoba melihat orang-orang yang tulus menyayangiku. Baik bibi pembantu di rumah, supir maupun tukang kebun. Saudara tiriku bersikap aneh, tapi tetap saja aku tak bisa menerimanya kala itu.
Di tambah prilaku ibu sambungku yang makin hari semakin menjadi, namun tetap di sayangi oleh ayahku. Ah mungkin karena pengantin baru, dan ayahku yang tetap menyayangiku di atas segalanya.
Tapi saat itu di meja makan,
"Ah, Dany katanya kau juara 3 dalam kelas. Selamat ya nak, tingkatkan prestasimu..."
"Baiklah ayah, terimakasih"
Aku melihat senyum licik di bibir wanita yang telah merebut suami dari ibuku yang sakit keras. Bahkan semua waktunya hanya dihabiskan di rumah sakit 2 tahun terakhir saat itu.
Apalagi aku tak sengaja mendengar percakapan Dany dengan ibunya.
"Dany kau harus bisa belajar dengan tekun melebihi Liam nak! Siapa tahu kau punya peluang untuk menguasai salah satu perusahaan dan saham ayahmu."
Mendengar hal itu, aku yang awalnya ingin menanyakan dimana rumah gadis kecil itu berada, agar aku bisa bermain bersamanya jadi sirna.
Aku sadar, dunia memang kejam bahkan sedari awal untukku yang baru berusia 12 tahun.
Setelah itu, aku memprioritaskan diriku untuk belajar lebih giat. Dan melupakan kebahagian murni yang akan kutemui jika bersama gadis kecil itu.
Umur 16 tahun aku sengaja menyuruh orang untuk mencanpurkan obat keras di minuman wanita itu saat ia datang ke pertemuan dengan teman-temannya.
Ia langsung dilarikan ke rumah sakit dan rahimnya langsung di angkat hari itu juga.
Usahanya untuk memiliki bayi dari ayahku pun kandas.
Wanita rakus yang ingin memiliki harta ayah, dengan cara melahirkan penerus.
Hanya angan saja.
Dany (umurnya 2 tahun di bawah Liam ) anak tiri ayahku itu bahkan tidak bisa berbuat apapun, karena ia terang-terangan bilang kalau ia akan menekuni seni rupa saat masuk kuliah.
Aku memuji keberanian murninya, sekaligus peluang untuk menguasai perusahaan semakin luas karena saingan berkurang
Dan meskipun dia masih tetap diterima oleh ayah, dirinya tak lebih dari sebuah pajangan.
Aku pikir aku akan ketahuan tapi tidak ada jejak sama sekali.
Lalu aku di terima di salah satu Universitas ternama. Saat umurku genap 20 tahun aku menanyakan pada ayah kenapa dia meninggalkan ibu.
Dia hanya berkata bahwa "ibumu yang mengizinkan diriku"
"Lalu kenapa kau meninggalkannya, harusnya kau tetap di sampingnya pada masa-masa sulit seperti itu. Bukan malah bercengkrama dengan wanita lain!"
KAMU SEDANG MEMBACA
Sweet Bride
FantasyNoemi merasa seperti hidupnya terulang kembali dengan ingatan samar bersama suaminya Liam. Entah kenapa sejak pertemuannya dengan Liam yang membahas pernikan sampai tinggal serumah Liam yang di kenal Noemi selama ini 180° berbanding terbalik dengan...
