Hai🖐
Happy reading...🤗
.
.
.
.
.
"Why...." ucap Noemi, sirat wajah sedih dan khawatir terpancar dari wajahnya.
Ia menghentikan aktivitas nya lalu duduk di kasur.
Di susul dengan Liam yang duduk di sebelahnya.
"Hanya ingin saja, lagi pula ini merupakan salah satu wasiat mendiang kakek kan. Ia ingin kau kuliah... dan kau tau, aku juga cukup mampu untuk menguliahkanmu... Noe, sangat disayangkan kalau kau tak melanjutkan study belajarmu jika melihat nilai di ijazah...." lugas Liam.
"Jadi seberapa banyak kau ingin aku berhutang budi padamu, Liam...?!,
Hahah...
Apa ini ide baru untuk mengekangku pergi?!"
"Tidak, aku tidak bermaksud seperti itu, sungguh... " jawab Liam.
Liam hanya berfikir pengorbanan Noemi tidak ada apa-apa nya di banding hal ini.
Tapi hal itu jauh berbeda dengan fikiran Noemi.
Ia diam sejenak memikirkan hal itu, karena Liam beralasan itu adalah permintaan kakeknya.
"Aku akan memikirkannya..." ucapnya tampa makna.
Liam tersenyum bahagia mendengar ucapan itu "Baiklah, terimakasih"
Setelah mereka selesai membereskan rumah, Liam mengajaknya untuk makan diluar.
Sekalian untuk membeli perlengkapan rumah.
Noemi sama sekali tidak berubah, meskipun pada saat pernikahan ia terlihat begitu anggun dan cantik layaknya bidadari.
Ketika ia lebih dulu turun kebawah menunggu Liam yang tengah mempersiapkan dirinya.
Noemi hanya mengenakan kaos pendek yang dibalut dengan hoodie karena udara malam terasa dingin dan mengenakan rok panjang plisket hitam. Rambutnya pun dikucir tanpa tambahan gaya.
Berbeda dengan pria yang kini sudah berada di depannya. Sangat stylis mengenakan jacket tebal tudung bulu domba, berwarna brown dan baju kaos dan jeans serba hitam. Rambutnya pun tertata rapi.
"Apa kau mau menemui seseorang diluar sana nanti?!" Ucap Noemi yang penasaran. Dengan ekspresi datar dan tanpa rasa bersalah bertanya demikian.
"Maksudmu?!"
"Kau tampak rapi malam ini, apa kau ada janji dengan orang lain..."
"Benar ada ...( ketus) tapi tidak dengan orang lain..." ucap Liam.
"Lalu dengan siapa?! Apa aku mengenalnya?!"
"Benar kau mengenalnya. Orang itu adalah kau. Bukankah kau harus memperbaiki penampilanmu saat mengajak istrimu jalan-jalan..." Liam berkata begitu sambil mendengus. Ia tak menyangka di kehidupan keduanya ini Noemi benar-benar tidak peka. Padahal anak itu dulunya punya perasaan halus dan rapuh.
Entah kenapa Liam merindukan Noemi saat itu.
"Jadi maksudmu kita sedang kencan sekarang?!"
Mendengar hal itu alis Liam berkerut, ia sedikit kesal dan malu untuk mengakuinya.
"Tidak perlu banyak bicara, ayo kita pergi..." ucapnya berjalan lebih dulu.
Noemi tertawa kecil lalu menyusul Liam.
"Nanti kita makan apa ya~?!" Ucapnya sambil menggenggam tangan Liam.
Liam agak terkejut dengan tingkah laku Noemi dan perubahan suasana yang tiba-tiba.
KAMU SEDANG MEMBACA
Sweet Bride
FantasiaNoemi merasa seperti hidupnya terulang kembali dengan ingatan samar bersama suaminya Liam. Entah kenapa sejak pertemuannya dengan Liam yang membahas pernikan sampai tinggal serumah Liam yang di kenal Noemi selama ini 180° berbanding terbalik dengan...
