Hai readers ku, keknya aku bakal sering up. Mumpung ingat gimana sekuel ceritanya, ah... kalian pasti seneng, hm.
Karna aku yang malas ini otaknya lagi pen bergerak...🤔
Keknya 1x sehari🤣 anjay ngibul🤣🤣🤣
But, dah lah...
Happy reading deh pokok e👇
.
.
.
.
.
.
.
Hari kedua semua barang yang dibutuhkan oleh Liam dan Noemi untuk tinggal di rumah baru sudah di angkut.
Noemi yang amat penasaran sebenarnya ingin berkunjung melihat-lihat terlebih dahulu. Tapi Liam melarangnya.
"Ini kejutan, kau pasti akan suka..."
Ucapnya singkat dengan senyum.
Noemi terdiam dengan sikap Liam sekarang, ia bahkan tidak bersikeras memaksa Noemi menerima sikapnya seperti beberapa bulan sebelumnya.
Liam sekarang seperti lebih mengikuti alur hidup mereka, pasrah dan juga fokus pada kebahagiaan Noemi.
Setelah sarapan dan bersiap
Merekapun berangkat.
Langit tampak mendung hari ini, membuat wajah Liam sedikit cemas.
Ketika mereka sudah berada di dalam mobil dan Liam mengemudikannya dengan laju kecepatan standar
Liam menggigit bibir bawahnya yang tebal.
"Ada apa Liam?!" Tanya Noemi.
"Hm.... aku hanya tak suka jika hujan turun..."
"Kenapa?! Apa kau takut mengemudi diwaktu hujan, kau bisa berhenti jika berfikir demikian." Ujar Noemi.
"Tidak bukan itu, hanya saja hujan memberi kenangan yang begitu pahit meski aku mencoba melupakannya..."
Rintikan hujan ini mengingatkanku dengan istriku yang menghembuskan nafas terakhirnya. Lalu keajaiban datang. Bahkan sekarang istriku ada di sampingku dengan wajah keheranan.
"Err, apa kau suka hujan, Noemi?!" Tanyanya.
"Entahlah... hujan sering dipakai untuk mengungkapkan sesedih akan sesuatu, seperti dalam puisi. Tapi bagiku, hujan memberikan ketenangan."
"Ketenangan saat seorang bangkit dan menyelesaikan masalahnya..." tambah Noemi lagi.
Liam melihat istrinya dengan tatapan sedih sepanjang jalan ia membisu.
Ia mengingat bagaimana istrinya dengan alas sepatu tak sama mengantarkan berkas. Menelponnya ketika mengatakan Liam saat kakeknya meninggal.
Maupun disaat terakhirnya. Selalu di saat hujan.
Seakan semesta juga menangisi kesedihannya.
Tapi Liam seakan menutup mata, telinga dan hatinya dengan penderitaan istrinya itu.
Ia merenung ketika mengingat apa yang dia alami, jika saja ia tak bisa mengulang waktu. Ia mungkin tak bisa menebus kesalahan.
Tapi apa kesalahan itu bisa ditebus dengan mudah?
Tatapannya kosong walau ia masih berkendara dengan hati-hati.
Sampai tangan Noemi memegang telapak tangan Liam.
"Liam, hei LIAM!"
Liam terkejut dengan suhu tubuh noemi yang berubah sangat dingin, ia melihat Noemi dengan wajah yang memucat.
"Noe...."
Ia memandang kedepan, sudah hujan lebat.
"Apa kau baik-baik saja?!" Liam langsung menyelimutinya dengan jacket tebal yang berada di kursi belakang.
KAMU SEDANG MEMBACA
Sweet Bride
FantasyNoemi merasa seperti hidupnya terulang kembali dengan ingatan samar bersama suaminya Liam. Entah kenapa sejak pertemuannya dengan Liam yang membahas pernikan sampai tinggal serumah Liam yang di kenal Noemi selama ini 180° berbanding terbalik dengan...
