Seorang pria berdiri tegap di depan pintu halaman rumah dengan tangan yang mengepal.
Giginya terkatup menahan dinginnya hujan yang menderu tubuhnya kian lebat.
Matanya menatap tajam ke arah pintu, menyisakan sedikit perasaan sedih mengharap seseorang akan keluar dari pintu itu untuk melihatnya.
Banyak orang berlalu lalang menghindari hujan, terheran melihat prilaku Liam.
Bahkan ada beberapa yang bertanya "why"
Tapi Liam dengan tenang menjawab "aku sedang dihukum oleh istriku"
Ada juga yang mencoba untuk membantu, tapi Liam mengabaikan bahkan memohon tidak mengganggu istrinya yang sedang bersedih.
Terlihat konyol memang, melihat dirinya sendiri.
Bagaimana seorang Liam bisa bertahan seperti itu, bahkan ia tak pernah mengemis pada Diana sebelumnya.
Pikirannya berkecamuk.
Ia tidak tahu apa yang ia pertahankan dari huhungan ini.
Apakah tindakannya sekarang cuma obsesi, atau ia ingin berkorban karena dulu pernah melakukan kesalahan terhadap orang yang tulus mencintainya.
Ia tidak tahu.
Berapa kalipun ia sudah tau, kalau memaksa kehendaknya pada Noe hanya membuat gadis itu terluka.
Tapi ia masih mempertahankan egonya, sampai gadis itu dengan serius ingin mengakhirinya.
Namun tetap saja...
"Hal tersakhir yang kau ucapkan... Kau sudah berjanji, untuk bersamaku. Aku masih memegangnya erat, Noe..."
Lirihnya.
Sementara itu.
Waktu terus berlalu sampi sore tiba. Hingga hujan itu mulai mereda.
Gadis yang berada di kamar itu masih meringkul di kamar tidurnya.
Mencoba tetap berfikir waras, menegahkan hatinya agar tak merasa simpati terhadap apa yang dia alami.
Bohong jika Noemi tak memikirkan Liam.
Ia berfikir, pasti Liam sudah pulang ke rumah karena di usir dengan kasar begitu. Tak mungkin seseorang seperti Liam akan menunggu. Menunggu pun pasti di dalam mobil. Apalagi yang coba pria itu lakukan untuk mendapatkan simpati.
Tidak ada tanda-tanda seseorang di luar, mungkin karena ia sempat tidur sejenak menenangkan pikirannya.
Niat yang ia urungkan mungkin terlaksana sekarang, ia keluar mengenakan jas hujan dan payung. Antisipasi kalau hujan turun secara tiba-tiba.
Tapi apa?!
Ia kaget melihat pria itu kehujanan, bajunya yang basah dengan rahang yang begitu jelas, mengatupkan giginya.
Wajahnya dipenuhi tetesan air.
Meskipun terlihat pujat disiram air hujan, rona wajahnya berubah senang melihat gadis itu keluar dari pintu.
"A-" Liam hampir saja menghampiri Noemi ingin memeluknya. Tapi ia lagi-lagi mengepalkan tangan mencoba agar tidak berprilaku sesuka satinya.
Tentu saja Noemi terkejut.
"Apa kau bodoh?! Sejak kapan kau berdiri di sana?!"
Bahkan ia tak sadar sudah membuang payungnya. Menyentuh lengan bawah Liam untuk mengecek suhu tubuhnya.
Tubuh pria itu sangat dingin.
Tapi Liam masih bisa tersenyum dan berkata.
"Mungkin dari awal kau masuk setelah memarahiku tadi... hahah...."
KAMU SEDANG MEMBACA
Sweet Bride
FantasyNoemi merasa seperti hidupnya terulang kembali dengan ingatan samar bersama suaminya Liam. Entah kenapa sejak pertemuannya dengan Liam yang membahas pernikan sampai tinggal serumah Liam yang di kenal Noemi selama ini 180° berbanding terbalik dengan...
