Bab 28🐉

57 5 0
                                    

Jangan biarkan ruang kosong dihatimu diisi oleh kesedihan. Okay?
_Brian Airlangga.


Milka duduk sendirian di halte bus yang sepi. Tak ada yang gadis itu lakukan kecuali melamun dengan air mata yang kian membasahi wajahnya.
Semilir angin sore yang menerpa wajahnya menambah kesedihan hati yang tengah dirasakan oleh gadis cantik itu.

Ya, Milka baru saja pulang dari menemui Risa dan mengatakan jika Malvin sudah berangkat ke luar negri untuk pengobatan lebih lanjut. Meskipun semuanya demi kebaikan sang kakak, tapi tetap saja Milka merasa sedikit kesal karena keputusan mereka yang tidak memberitahu Milka terlebih dulu.

"Hiks.....hiks....hiks.... Kak Malvin pasti sembuh kan? Pasti pulang kan?" Isak Milka. Dalam relung hati gadis itu, sangat menghawatirkan Malvin. Sendirian dalam keadaan seperti ini, tak ada indahnya sama sekali. Milka nyaris hancur.

Rinai hujan perlahan turun dan berubah menjadi butiran-butiran besar yang akhirnya menjadi deras. Langit kian gelap karena awan hujan yang menumpuk. Hujan yang justru membuat Milka makin larut dalam kesedihannya.

Sayup-sayup Milka mendengar raungan knalpot motor yang bergerak mendekat. Suaranya sama berisiknya dengan deru hujan yang turun. Tak lama tampaklah seorang pengendara Kawasaki Ninja Zx25R berwarna hitam yang sudah tidak asing lagi dimata Milka. Itu Brian Airlangga.

Laju motor itu perlahan melambat kala mendekati halte, lalu berhenti tepat didepannya. Benar, pemilik motor itu tak lain tak bukan adalah Brian Airlangga. Ia kemudian turun, melepas helm fullfacenya, lalu buru-buru meletakkannya diatas tangki motor. Tanpa menyadari siapa yang menatapnya, Brian kemudian berlari ke dekat Milka untuk berteduh.

"Huh! Basah semua..." Desah Brian seraya mengusap-usap wajahnya yang sudah kedinginan.

Cowok itu berdiri diposisinya, menghadap motor yang ia biarkan kehujanan dan masih belum menyadari keberadaan Milka.

Detik berikutnya, cowok itu mengeluarkan selembar kertas yang ia lipat dari dalam saku jaketnya. Kertas yang entah berisi apa dan sekarang bernasib sama seperti bajunya.

"Yah, basah.... " Brian berdecak. Tapi kelihatannya tak begitu kesal karena setelahnya ia menggulung kertas itu lalu membuangnya kedalam sebuah kotak sampah yang berada tepat disampingnya.

Beberapa menit Brian belum menyadari dan masih sibuk sendiri tanpa berniat menyapa wanita dibelakangnya. Kala menyadari kakinya terasa pegal, Brian lantas mundur dan langsung mengambil posisi duduk.

"Nungguin bus, mba? Atau emang neduh karena hujan?" Tanya Brian ramah tapi tidak berniat menatap wanita disampingnya.

Bukannya menjawab, Milka lantas diam sembari menatap wajah Brian. Saat ini jarak mereka terpaut dekat. Dari sana Milka dapat melihat jelas bagaimana tampannya cowok itu. hanya saja Brian terlihat sangat pucat.

Karena tak ada jawaban, Brian lantas menoleh dan .....

Degh'

"M-milka?" Brian tergagu dan tak menyangka diam bersikap acuh beberapa menit lalu pada sang gadis pujaannya.

"Lo kok disini? Gue kira tadi tante-tante girang, makanya gue gak nengok. Takut digodain hihi...." Brian tersenyum sampai menampakkan deretan giginya yang putih.

Brian Airlangga (TAMAT)✓Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang