"Kembalilah, begitu banyak orang yang merindukan mu, Brian."
_Milka Kaylistia.Sebuah rumah berdiri kokoh dengan nuansa putih yang menyelimuti nya. Hanya redup lampu yang menjadi sumber pencahayaan dirumah itu. Mungkin karena sosok yang selama ini mengisi dan menghiasinya dengan candaan tidak ada lagi dirumah itu.
Milka menghapus jejak air matanya, ia lantas menghela napas pelan. Kerinduan memang sangat menyakitkan. Sampai saat ini, ia masih berharap akan ada sosok yang melambai dari atas sana sambil berteriak, "Milka! Brian ada disini?"
Sayangnya apa yang ada dikepala Milka itu hanya sebatas hayal yang entah kapan akan menjadi sebuah kenyataan.
Tin! Tin!
Sebuah sorot lampu mobil membuat Milka menoleh. Gadis itu lantas menepi saat sang pengemudi berbelok kearahnya. Sepertinya ia hendak memasuki pintu gerbang yang tak lama sebelum itu dibukakan oleh seorang satpam."Selamat malam, pak." Sapa seorang pria yang keluar dari sana. Milka yakin itu ayahnya Brian.
Namun tak lama, atensi Milka beralih pada seorang wanita yang kemudian menyusul keluar. Tentu saja tidak asing baginya saat melihat wanita berbalut jas putih khas rumah sakit itu. Apalagi saat wanita itu mengalihkan pandangan kearahnya.
Degh'
"Dokter Risa?" Gumam Milka pelan.Risa mengukir senyum kecil. Ia sendiri masih mengenali gadis cantik yang dulu selalu bolak-balik menemuinya dirumah sakit. Detik berikutnya, wanita itu berjalan menghampiri Milka.
"Kenapa Milka disini?" Tanyanya begitu lembut. Sementara gadis itu hanya terpaku menatap dokter Risa penuh tanda tanya.
"Kenapa dokter Risa disini?" Hanya saja pertanyaan itu terlontar didalam hati."Ini rumah saya. Mari masuk." Ujar Risa seolah menjawab pertanyaan gadis itu.
Tanpa berkata panjang lebar, wanita itu meraih tangan Milka lalu mengajaknya memasuki gerbang.
"Ini Milka, Mas. Anak yang pernah aku ceritain ke kamu." Ujar Risa pada Nikol. Entah apa yang telah wanita itu ceritakan, Milka sendiri tidak tahu.Nikol tersenyum kaku, lalu pria itu berjalan lebih dulu. Dalam diam, Milka memandang punggung Nikol yang menjauh, kenapa ia melihat kesedihan yang sedang disembunyikan pria itu?
Sorot matanya tidak dapat berbohong jika Pria itu tampak bersedih dan tidak tenang.
"Dia memang banyak diam akhir-akhir ini...." Ujar Risa yang lantas membuat Milka tersadar.
Gadis itu menoleh pada wanita disampingnya. Lalu lengkungan kecil terbit dari wajah itu.
"Ayo masuk." Ajak wanita itu seraya berjalan menggandeng Milka menyusul Nikol yang baru saja menutup pintu.
°°°®°°°
"Kasus kematian Shaka masih diusut?" Tanya Ipal memecah keheningan malam itu.
Rafa lantas berdecih, "cih! Justin tu bener-bener gila ya! Mau dia apa sih?! Jelas-jelas Shaka mati karena kecelakaan."
Mereka semua menghela napas. Lalu seluruh atensi berlatih pada Malvin yang tertunduk diam memandang ujung sepatunya. "Kayaknya emang salah gue deh. Kalo memang Justin mau balas dendam untuk Shaka, gue siap menyerahkan diri ke kantor polisi."

KAMU SEDANG MEMBACA
Brian Airlangga (TAMAT)✓
Teen Fiction"Tertawalah sampai kau lupa dengan yang namanya luka" _Brian Airlangga "Mereka akan sangat bahagia dengan tawa yang kau ciptakan,hingga mereka lupa jika sedang dibohongi" _Brian Airlangga "Air mata yang ku hapus saat ini,mungkin akan tumpah lagi di...