TIGA PULUH

3.7K 176 16
                                        

Indah memasuki ruangan Shani, gadis itu sangat terkejut melihat kaki Shani yang sudah penuh dengan luka dan darah.

"Kak Cindy!! Apa yang kau lakukan pada Shani? Dia bisa kehabisan darah!" Indah membuka bajunya lalu menyobeknya menjadi beberapa bagian dan kemudian mengikat luka tembak Shani di kaki kirinya.

Indah tidak bisa menahan tangisnya melihat keadaan Shani yang sangat lemah. Bahkan Indah tidak berani menatap wajah Shani. Dia hanya menunduk, menangis sambil mengikat luka Shani yang lainnya dengan kain dari sobekan bajunya.

"Indah.. Gracia... dan Gita..." Shani tidak kuat bicara lagi.

"Mereka baik-baik saja." Jawab Indah disela isak tangisnya.

"Yaa! Kenapa kau menangis?" Tanya Cindy Yuvia sambil menarik Indah untuk bangun dan menjauh dari Shani.

"Kak! Kau keterlaluan menyiksanya! Kau bisa membunuhnya!" Teriak Indah dengan penuh emosi. "Kau berjanji padaku untuk tidak membunuhnya!" Indah memukuli dada Cindy Yuvia dengan penuh emosi.

Cindy Yuvia pun menampar Indah dengan penuh emosi. "Bahkan aku bisa membunuhmu kalau aku tidak memikirkan ayahmu yang sakit-sakitan dan menyusahkan itu!" Maki Cindy Yuvia.

Indah terdiam dan hanya bisa menahan rasa sakit di pipinya. Aninditha pun hanya bisa diam melihatnya. Anin sadar kalau Cindy Yuvia ternyata 'sakit'. Dia tidak ingin gegabah karena akan membahayakan dirinya bahkan Gracia. Indah kemudian berdiri di dekat pintu. Dia melihat Gracia dan Gita sudah bersiap di depan pintu ruangan sebelah. Kemudian, Indah memberi isyarat pada mereka agar mendekat.

Gracia dan Gita berjalan perlahan mendekati pintu ruangan Shani. Indah berusaha membantu dengan membuat Cindy Yuvia dan Anin hanya fokus kepadanya.

"Kak, mau sampai kapan kita menyekap mereka seperti ini? Kau tidak takut keluarga mereka melaporkan kita ke polisi?" Tanya Indah yang mencoba berbasa-basi pada Cindy Yuvia dan Anin. Tapi sudut matanya tidak lepas memperhatikan pintu, berharap Gracia dan Gita tidak gegabah.

Anin yang curiga dengan gerak-gerik Indah pun mengikuti arah sudut pandang Indah. Gadis itu membelalakan matanya saat melihat Gracia yang ada di depan pintu, tidak jauh dari mereka dan tengah mengacungkan pisaunya. Anin menggelengkan kepalanya pelan memberi isyarat Gracia agar tidak melakukan apa yang akan Gracia lakukan. Anin tahu kalau Gracia berniat menikam Cindy Yuvia.

"Mereka tidak akan tahu tempat ini. Kau mematikan ponsel mereka, kan?" Tanya Cindy Yuvia.

Gracia tidak menghiraukan isyarat dari Anin. Melihat Cindy Yuvia yang berdiri membelakanginya, Gracia dengan tertatih berlari ke arah punggung Cindy Yuvia dan menusukkan pisaunya sekuat tenaga lalu mencabutnya dan kembali menusukannya lagi ke punggung Cindy Yuvia.

Anin hanya bisa terdiam dan bersiaga dengan apa yang akan terjadi selanjutnya. Cindy Yuvia yang merasakan sakit di punggungnya pun berbalik dan dia melihat Gracia yang berdiri dihadapannya sambil memegang pisau yang sudah berlumur darah. Tanpa menyia-nyiakan kesempatan itu, Gracia kembali menusukan pisau ke perut Cindy Yuvia yang membuat Cindy Yuvia membelalakan matanya menahan sakit.

"Itu untuk Feni!" Teriak Gracia sambil mencabut pisaunya dari perut Cindy Yuvia.

Gracia hendak kembali menusuk Cindy Yuvia dengan pisaunya, namun Cindy Yuvia kemudian mengarahkan pistolnya kepada Gracia. Dan saat Cindy Yuvia menarik pelatuknya, secepat kilat Anin memeluk Gracia hingga pisau yang tadinya ditujukan untuk menusuk Cindy Yuvia kembali, malah menusuk perut Anin.

DOORR

Peluru panas itu mengenai punggung Anin yang melindungi Gracia dari Cindy Yuvia. Gracia yang ada di pelukan Anin seakan terpaku karena dia baru saja menancapkan pisaunya pada perut Anin dan mengetahui Anin melindunginya dari peluru Cindy Yuvia, membuat Gracia meneteskan air matanya.

Sure ThingTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang