12: Hendrix

59 40 2
                                        

***

Disuatu tempat di kediaman. Terdapat deretan meja yang ditanam bersama dengan lantai. Diatasnya terletak berbagai macam peralatan memasak yang baru saja digunakan. Dan orang-orang berseragam koki itu kini sedang duduk disalah satu meja yang diatasnya berisi sarapan mereka.

Orang-orang itu memakan sarapan mereka seraya bersenda gurau. Mereka kini tampak begitu santai berbincang setelah sesi memasak yang seperti medan perang tadi selesai. Di antara orang-orang itu, juga terdapat seorang pemuda berambut putih yang tidak berseragam koki. Tidak seperti yang lainnya, pemuda itu hanya tersenyum memperhatikan tanpa menyentuh makanannya sedikit pun.

"Kau tidak makan, Kei?" tanya salah seorang pria dewasa disana. Pria itu berbadan besar, hingga baju kokinya tampak sangat sempit digunakannya. Ia juga memiliki jenggot yang dapat membuat orang takut saat pertama kali melihatnya.

"Tidak, Pak Leo. Saya tidak perlu makan," jawab Kei masih dengan senyuman diwajahnya. 
"Karena urusan saya sudah selesai dan masih ada yang harus saya lakukan, jadi saya pamit. Terimakasih semuanya, atas apa yang telah kalian ajarkan kepada saya tentang memasak tadi. Saat jam makan siang saya akan kembali lagi."

Tepat setelah mengatakan itu, Kei pun membungkukkan badan dan berjalan keluar dari dapur. Mata semua orang tertuju padanya. Dan baru terlepas setelah punggung pemuda itu sudah tak dapat mereka lihat lagi.

"Apa maksudnya tidak perlu makan ...?" gumam Leo bingung.

"Bapak belum dengar kah rumornya?" tanya salah seorang pria disamping Leo.

"Rumor? Ada rumor apa memangnya?"

"Itu loh, rumor soal Kei itu sebuah robot," jelas pria itu dengan tersenyum miring.

"Tapi itu pernyataan dari putri langsung kan? Berarti kenyataan dong, bukan cuman sekadar rumor," timpal pria lain di sana.

"Sebentar dulu, robot itu apa?" tanya Leon bingung.

"Gak tau juga sih," balas mereka serentak. Leo menyipitkan matanya, keningnya sedikit berkerut, dan bibirnya membentuk garis lurus seolah kecewa akan jawaban tersebut.

Di sisi lain, Kei sekarang sedang berjalan dilorong kediaman. Entah menuju kemana, tapi yang ada dipikirannya saat ini hanyalah ia ingin bertemu dengan sang majikan. Sebelumnya ia selalu melakukan apapun jika ada perintah dari Putri. Namun untuk pertama kalinya tadi ia melakukan sesuatu atas kehendaknya sendiri. Yaitu ia belajar memasak agar suatu saat masakannya dapat diakui oleh Putri.

Dan sekarang, seolah ingin menyombongkan diri. Kei ingin segera bertemu dengan Putri. Lalu menceritakan semua yang sudah ia pelajari saat bersama para koki tadi. Ia tampak seperti anak kecil yang ingin mengadu ke ibunya.

Namun tiba-tiba saja Kei mendengar sebuah derap kaki dari arah belakangnya. Suara itu terdengar seakan sedang mengejar dirinya. Kemudian setelah suara itu sudah semakin mendekat, punggung Kei ditepuk cukup keras oleh seseorang itu. Tangan yang sebelumnya menepuk punggungnya itu kemudian beralih merangkul bahu Kei.

"Isle! Sudah lama tidak bertemu, apa kau rindu padaku?" tanya pria itu penuh keakraban. Ia melukiskan senyuman yang tidak tampak sehangat kalimat yang ia ucapkan. Dengan poni rambut pirangnya hampir menutupi mata biru miliknya yang sedikit menyipit.

Mata biru itu menatap lurus kearah Kei dari bawah bulu mata lentiknya. Ia memperhatikan setiap inci dari pemuda yang sedang ia rangkul saat ini. Seolah ia telah menyadari sesuatu, pria itu perlahan menarik tangannya dari bahu Kei. Tampak keningnya sedikit berkerut setelah menyadari kejanggalan itu.

"Kau ... bukan Isle. Siapa kau?"

Pria itu menatap Kei dengan tatapan menyelidik. Ia menerka-nerka akan siapakah pria yang tampak sangat mirip dengan Carlisle itu. Jika bukan karena dirinya yang mengenal dekat Carlisle, mungkin ia akan tertipu. 

When The Genius Woman Went to Another World [TERBIT]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang