***
Sebuah tempat yang gelap, sunyi dan senyap. Tak ada satu cahaya pun yang dapat masuk ke sana. Bau besi bercampur debu dapat tercium di segala arah. Dan kini bertambah dengan aroma amis yang berasal dari cairan merah dari seorang pria di sana.
Kedua tangan pria itu diikat menggunakan rantai dan di gantungkan ke dinding. Tubuhnya di penuhi dengan luka sayatan. Kemeja putihnya compang-camping dan telah berubah merah akibat darahnya sendiri.
Kepala pria itu tertunduk. Matanya menatap kosong lantai bata di bawahnya. Energi sudah tak lagi terasa di tubuhnya. Bahkan hanya sekedar untuk mengangkat kepala saja ia tidak bisa. Semua itu tidak lain karena lingkaran sihir yang tergambar di belakangnya. Bianca menggambarkan lingkaran sihir itu sebagai mantra yang dapat menyedot semua energinya.
Gadis itu sudah menceritakan semuanya padanya. Tentang siapa dia dan apa alasnnya melakukan semua ini.
Bianca Varitas, atau Vierra Cabian adalah pengikut iblis yang selama 10 tahun terakhir ini berusaha membangkitkan rajanya. Ia berpura-pura menjadi anak yatim piatu dan berakhir di adopsi oleh Keluarga Varitas. Lalu menghipnotis Glenn untuk menjadi kaki tangannya.
Terungkap jugalah alasan kematian ayah Carlisle adalah di karenakan racun yang di berikan secara rutin oleh Glenn yang dihipnotis olehnya. Dan alasan Bianca melakukan itu pada Keluarga Alvonheim adalah karena dia percaya bahwa mata merah yang turun temurun di wariskan oleh keluarga ini berasal dari darah keturunan iblis.
Memang tidak bisa di pungkiri bahwa leluhur Keluarga Alvonheim dulu lah yang mengalahkan raja iblis. Kemudian menyerap sepenuhnya energi iblis itu hingga mengubah warna matanya menjadi merah. Berkat itu mata merah selalu di turunkan pada setiap keturunan Keluarga Alvonheim.
Gadis itu juga mengungkapkan bahwa dirinyalah yang menjadi dalang dari penculikan yang terjadi di seluruh kerajaan ini. Karena dirinya memerlukan banyak sekali tumbal untuk dapat menghidupkan kembali raja iblis. Dan hari ini adalah hari dimana raja iblis itu akan bangkit.
Di dalam ruangan yang gelap itu, Carlisle dapat merasakan getaran-getaran pada lantai dan dindingnya. Langit-langit ruangan juga sesekali menjatuhkan beberapa kerikil yang diantaranya akan mengenai kepala pria itu. Membuat dirinya yang selalu hampir kehilangan kesadaran itu bangun kembali.
Ditengah-tengah situasi itu, seorang wanita muncul dalam bayang-bayang pikirannya. Senyumannya, tatapan matanya, tutur katanya dalam berbicara, semuanya terputar kembali dalam benaknya.
"Putri ...."
Nama itu terngiang di kepalanya. Ia berpikir, jika dirinya dapat bertemu lagi dengan wanita itu saat ini, maka ia akan mengungkapkan semuanya. Perasaan yang tidak ia mengerti sebelumnya.
Seolah tuhan mendengar harapan Carlisle. Suara yang tak asing terdengar memanggil namanya. Dapat ia rasakan tangan kurus yang ia genggam kemarin dengan cepat memutus rantai yang mengikat kedua tangannya. Tubuhnya yang memang sudah lemah itu langsung ambruk dan dengan cepat di tangkap oleh wanita di depannya.
Wanita itu kemudian membaringkannya di atas pangkuannya. Dengan pandangan mata yang buram dan cahaya yang remang, terlihat wanita itu yang menunjukkan wajah yang sangat cemas selagi memanggili namanya. Carlisle berpikir, apakah ia sebegitunya ingin bertemu dengan wanita ini hingga dirinya mendapatkan sebuah ilusi.
Bahkan walau hanya sebuah ilusi, Carlisle sangat senang, karena dirinya dapat melihat dan mendengar suara wanita itu lagi. Dengan penglihatannya yang perlahan semakin jelas, ia menatap lekat wajah wanita tersebut. Terdengar pula dirinya mengucapkan "Bertahanlah, jangan sampai hilang kesadaran!" dan "Yang lain akan segera datang untuk membantu!". Tapi Carlisle sama sekali tidak mempedulikan itu.
Angan-angan akan masa depan terpikir di benaknya. Ia berpikir jika saja dirinya menyadari perasaannya sedikit lebih cepat, maka wanita di depannya ini pasti sudah menjadi miliknya. Mereka akan hidup bersama. Bersenda gurau bersama. Dan akan sangat indah jika anak-anak mereka mirip dengan Putri ketimbang dirinya. Karena apa bagusnya memiliki rambut putih seperti orang tua dan mata merah yang berarti iblis? Namun semua itu tetaplah hanya anganan semata. Tapi jika diberi waktu sedikit lebih lama, ia ingin kembali bersamanya.
Dengan seluruh tenaga yang tersisa. Carlisle mengangkat tangannya. Memegang pipi yang terasa hangat itu dengan tangan berlumuran darah miliknya. Ia mengusap air yang mengalir di pipi itu. Berpikir bagaimana bisa ilusi ini terasa begitu nyata. Lalu dengan suara yang serak dan hampir habis, ia berucap.
"Aku ... mencintaimu, Aria."
Terlukis senyuman indah pada wajahnya yang berantakan. Mata wanita itu melebar akibat terkejut. Lalu tangan yang memegang pipi itu perlahan terjatuh. Namun dengan cepat di tangkap oleh Putri yang telah sadar dari syoknya.
"Jangan katakan itu sekarang!!"
Putri berteriak. Air mata mengalir begitu deras di pipinya. Namun sayang itu tidak membuat pandangan Carlisle cerah kembali.
"Kalau kau benar-benar mencintaiku maka hiduplah! Jangan kau nyatakan perasaanmu dan kemudian pergi begitu saja!!"
Putri kembali berteriak. Tapi kesadaran Carlisle sudah diambang batas. Ia sudah tidak dapat mendengar lagi apa yang Putri katakan selanjutnya. Hingga akhirnya dunianya terasa begitu gelap dan sunyi.
TAMAT
KAMU SEDANG MEMBACA
When The Genius Woman Went to Another World [TERBIT]
FantasíaAriana Putri atau yang lebih dikenal sebagai Putri merupakan seorang ilmuan jenius. Seluruh barang ciptaannya membuat berbagai perubahan besar pada dunia. Lalu tanpa sepengetahuan siapa pun, Putri pun membuat sebuah alat yang dapat membuatnya pergi...
![When The Genius Woman Went to Another World [TERBIT]](https://img.wattpad.com/cover/370765710-64-k663643.jpg)