24: Dansa

58 32 8
                                        

***

Tepat ketika sesi beri-memberi hadiah selesai. Para bangsawan mulai mengerumuni Carlisle dan Putri. Hingga membuat laki-laki itu terpisah cukup jauh dari wanitanya. Kemudian ketika sesi bincang-bincang selesai, dan Carlisle hendak berkeliling mencari Putri. Tiba-tiba saja suara yang tidak asing di telinga terdengar memanggil namanya.

"Yang mulia, sudah lama tidak bertemu. Bagaimana kabar anda?" 

Suara itu berasal dari seorang gadis yang memiliki berambut ungu sepinggang. Ia tampak tersenyum ramah pada Carlisle. Membuat laki-laki itu mau tidak mau meladeninya. Karena bagaimana pun juga ia mengenal gadis itu.

"Kabar saya baik, Lady Bianca," balas Carlisle.

"Syukurlah. Bagaimana dengan Kak Glenn? Saya belum bertemu dengannya sama sekali ...," ucap Bianca dengan nada sedih.

"Glenn juga baik, walau beberapa kali aku melihatnya tampak melamun tapi mungkin saja dikarenakan pekerjaan yang menumpuk akhir-akhir ini." Carlisle menjelaskan dengan nada lembut. 

"Begitu ya, saya harap kakak tidak sakit ...," gumam Bianca.

"Oh iya, yang mulia. Saya penasaran, hubungan seperti apa yang sebenarnya anda miliki dengan Putri Ariana?" Bianca bertanya dengan senyuman yang tampak sedikit dipaksakan.

Pertanyaan itu membuat Carlisle seketika terdiam. Setelah dipikir-pikir lagi, ia juga tidak tau hubungan seperti apa yang ia miliki dengan Putri. Jika di bilang hubungan kerja, tidak mungkin karena yang Putri lakukan hanyalah numpang tidur di rumahnya. Putri memang memiliki suatu perasaan tertentu terhadapnya, tapi Carlisle tidak berpikir bahwa ia memiliki perasaan yang sama. Jadi jika ditanya apa hubungan mereka, Carlisle bingung harus menjawab apa.

"Kami tidak memiliki hubungan apapun, lady. Saya hanya ... menganggap Putri Ariana sebagai seseorang yang telah membantu dalam menyelesaikan kasus perdagangan budak ini," jelas Carlisle setelah berpikir cukup lama.

"Benarkah? Tapi entah mengapa saya merasakan aura yang berbeda disaat kalian bersama ...," ujar Bianca.

"Itu hanya perasaan anda saja, lady."

Tiba-tiba lampu di aula meredup. Penerangan yang tersisa hanya berasal dari candellier di tengah ruangan. Alunan musik piano dan biola perlahan terdengar memenuhi ruang aula. Merupakan tanda bahwa sesi berdansa sudah dimulai. Setiap orang di sana mulai mencari pasangan dansanya masing-masing.

Begitu juga dengan kedua orang disini. Gadis berambut ungu yang menyadari bahwa dansa sudah dimulai, ia pun memfokuskan pandangannya pada laki-laki di depannya. 

"Yang mulia, bagaimana jika kita berdansa bersama?" ajak Bianca seraya mengulurkan tangannya.

Carlisle yang mendapati ajakan itu pun sontak menolehkan kepalanya. Ia menatap gadis berambut ungu di depannya itu dalam diam. Seharusnya ia menerima ajakan itu, tapi entah mengapa terdapat perasaan janggal dalam hatinya. 

Terlebih ketika ia memperhatikan wajah gadis itu dan bayang-bayang akan wajah orang lain muncul dalam penglihatannya. Bayang-bayang wajah seorang wanita berambut hitam yang selalu menatap lurus kearahnya. Yang bersamanya untuk berlatih dansa semalaman. Wajah Putri itu muncul seolah menyadarkan dirinya.

"Maaf, lady. Saya memiliki janji berdansa dengan orang lain."

Tepat setelah itu Carlisle pergi meninggalkan Bianca. Gadis itu masih berdiri mematung tak percaya bahwa dirinya ditolak begitu saja. Sedangkan Carlisle kini sedang berjalan sedikit cepat seraya menolehkan kepalanya ke kanan dan ke kiri tuk mencari kehadiran seseorang.

Lalu tepat di satu sisi aula, netra merahnya menangkap sosok yang sudah ia cari-cari sedari tadi. Seorang wanita bergaun biru yang kini tengah duduk di pinggir ruangan seraya menyumpali mulutnya dengan kue. Terlihat juga matanya menatap intens kearah tiap pasangan yang sedang berdansa di tengah aula seperti sedang kesal akan sesuatu.

Carlisle mengambil langkah maju. Ia berjalan perlahan mendekati wanita yang masih sibuk dengan dunianya sendiri itu. Kemudian ketika sudah dirasa cukup dekat, Carlisle membuka mulutnya tuk berbicara padanya.

"Jika anda hanya sibuk makan disini, kenapa kita tidak berdansa saja, putri?"

Ajakan tiba-tiba dari Carlisle itu membuat Putri menolehkan kepalanya seketika. Tatapan matanya terlihat begitu kaget melihat Carlisle yang tiba-tiba berada di sampingnya. Hingga membuatnya tidak dapat mengatakan apapun untuk beberapa detik. Wanita itu baru tersadar ketika Carlisle kembali memanggilnya.

"A-anda kenapa disini?!!" pekik Putri membuat Carlisle juga ikut terkejut. 

"Saya ingin mengajak anda berdansa, anda tidak mau?" ujar Carlisle sedikit kecewa.

"Mau! Siapa yang bilang aku gak mau?!!" pekik Putri seraya bangkit dari duduknya.

Putri menatap tajam mata merah Carlisle menggunakan mata hitamnya. Carlisle yang ditatap seperti itu tanpa sadar mengangkat sudut bibirnya tuk tersenyum. Ia kemudian sedikit membungkuk dan mengulurkan tangan kanannya. Dan disambut baik oleh Putri.

Tangan kanan Carlisle memegang pinggang ramping milik Putri. Tangan kiri Putri berada di atas bahu kanan Carlisle. Sedangkan tangan mereka yang lain saling bertaut dengan sedikit mengarah ke atas. Wajah mereka yang kini hanya berjarak 10 senti saja membuat mereka dapat mencium aroma tubuh satu sama lain.

Langkah keduanya begitu serasi mengikuti alunan lagu. Mereka berputar di tengah aula hingga membuat rambut dan gaun yang Putri kenakan menari-nari di udara. Mereka tampak begitu menghayati tarian yang mereka bawakan. Membuat tiap pasang mata yang melihatnya berpikir bahwa mereka pasangan yang sangat cocok.

"Anda menari dengan sangat baik, putri," puji Carlisle seraya tersenyum lembut.

"Ya, semua berkat latihan keras yang anda berikan tadi malam." Putri tersenyum sinis.   

Mendengar itu membuat Carlisle sedikit bergidik. Carlisle hanya membalas senyuman sinis dari Putri dengan senyuman lainnya. Dan mereka terus seperti itu hingga lagu berakhir dan dansa pun selesai. Mereka saling membungkukkan badan sebagai bentuk ucapan terimakasih. Setelahnya, Putri dan Carlisle berjalan bersamaan ke pinggir ruangan untuk beristirahat.

"Loh, San. Kei mana?" tanya Putri karena ia tidak melihat batang hidung anak itu. Padahal saat ia pergi untuk berdansa tadi Kei masih terlihat berdiri di samping Sandra.

"Tadi yang mulia putra mahkota menculiknya," jawab Sandra santai.

"Culik?? Kenapa pula putra mahkota nyulik Kei, kek gak ada orang lain aja."

"Ya gak tau."

Di sisi lain ruang aula. Terdapat seorang gadis berambut ungu yang berdiri dibalik besarnya pilar aula. Gadis itu memperhatikan Putri dan juga Carlisle dari kejauhan. Bahkan ia juga sudah memperhatikan mereka sejak pria berambut putih itu meninggalkannya tadi. Ia hanya penasaran kepada siapa sebenarnya pria itu memiliki janji. Dan ternyata sesuai dugaannya, seseorang itu adalah Putri Ariana.

Tubuh gadis itu sekilas seakan diselimuti asap hitam. Matanya tampak sedikit menyala di tempat remang dimana ia berdiri. Keningnya terlihat sedikit berkerut untuk sepersekian detik. Lalu sebuah senyum seringai muncul pada wajahnya.

"Yahh ... tidak apa-apa. Tidak akan kubiarkan wanita itu menghalangi rencanaku lagi."

Senyuman gadis itu semakin terlihat. Kemudian ia menolehkan kepalanya ke belakang. Disana berdiri seorang pria berambut hijau tua yang menatap kosong gadis di depannya itu. Gadis tersebut kemudian meletakkan tangannya pada bahu pria itu. Mendekatkan wajahnya ke telinganya dan kemudian berbisik.

"Benar kan, Kak Glenn?"

.

.

.

Bersambung.

When The Genius Woman Went to Another World [TERBIT]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang