08: Putri

70 45 8
                                        

***

Tes..

Air mata menetes dari mata Putri dan mengenai kaos biru muda yang ia kenakan. Setiap orang yang melihat kejadian itu seketika membelalakkan matanya. Mereka terkejut akan Putri yang tiba-tiba menangis. Kei yang berada disamping Putri pun tak kalah kaget akan tangisan tiba-tiba tersebut. Ia bahkan sampai melepaskan tangannya yang menggendong Sandra hingga membuat gadis itu terjatuh dan tersadar seketika.

"AU!! Apa nih kok aku tiba-tiba jat- loh Putri kenapa nangis???!!" Sandra berteriak kemudian bergegas menghampiri Putri dan memegang wajah sang majikan dengan kedua tangannya.

"Huh? Eh? G-Gak, ini kena debu kayanya makanya begini," ucap Putri terbata-bata. Ia tersenyum canggung seraya mengusap pipinya untuk menghentikan tetesan air matanya.

Anak-anak yang melihat kejadian itu kemudian bergegas turun dari kuda mereka dan berlari menghampiri Putri. Mereka menyerbu Putri dengan berbagai pertanyaan akibat rasa khawatir yang mereka rasakan. Dengan cepat Putri meredakan tangisannya dan menenangkan setiap anak tersebut yang beberapa diantara mereka juga terlihat dapat ikut menangis kapan saja.

Dari kejauhan, Carlisle menatap kejadian itu dengan pupil matanya membulat sepenuhnya. Ia merasakan perasaan yang sedikit aneh tat kala melihat wanita itu menangis. Perasaan tidak enak akan perlakuan buruknya barusan seperti menghujaninya bertubi-tubi. Carlisle mengencangkan genggaman tangannya. Julian menatap raut wajah kakaknya yang perlahan menggelap itu dalam diam.

.

.

.

~Kediaman Alvonheim~

Setelah berjalan menempuh padatnya kota dan menyelesaikan banyaknya drama diperjalanan. Akhirnya rombongan mereka tiba didepan gerbang kediaman Duke Alvonheim. Namun dengan anak-anak tadi yang ditinggalkan disebuah tempat pengungsian. Karena setelah itu mereka akan dicarikan orang tuanya. Dan yang tidak memiliki orang tua akan diserahkan kesebuah panti asuhan untuk diasuh disana.

Putri menatap kediaman mewah milik keluarga Alvonheim didepannya. Sebuah mansion putih berpilar besar dengan pekarangan luas dan tembok mewah mengelilinya. Pekarangan itu memiliki tanaman-tanaman berbentuk petak dan sebuah kebun mawar disisi lain kediaman. Carlisle, Julian, Putri, Kei dan Sandra berjalan disana dengan beberapa pengawal mengikuti dibelakang mereka. 

Kemudian terlihat tepat didepan pintu utama kediaman yang berukir sangat indah berdiri seorang wanita yang berada dipertengahan usia 40an nya. Dia menatap kearah rombongan pemuda yang sedang berjalan mendekati pintu utama. Semakin dekat jarak mereka, semakin terlihat pula wanita itu menatap kearah rombongannya dengan raut wajah khawatir.

Akhirnya setelah tersisa hanya beberapa meter jarak diantara mereka. Seolah sudah tidak bisa menahan dirinya lagi. Wanita itu bergegas menuruni tangga dan berjalan sedikit cepat kearah mereka. Dia membentangkan tangannya dan kemudian memeluk anak laki-laki berambut putih disana. Tangan yang kulitnya sudah mulai mengendur itu mencengkram erat punggung sang anak.

"Syukurlah kamu akhirnya dapat kembali, Julian."

"Uhm, maaf Ibunda Giselle."

Putri menatap adegan reuni yang mengharukan itu dalam diam. Begitu pula dengan yang lainnya disana. Mereka hanya menatap tanpa mengeluarkan sepatah kata apapun. Dan membiarkan kedua insan itu saling melepas rindu. 

Akhirnya setelah beberapa menit berpelukan, Wanita bernama Giselle itu pun melepas dekapannya. Kemudian bangkit dan menegarkan dirinya untuk menyambut tamu yang Carlisle bawa. Ia tampak tersenyum begitu lembut. Senyumannya itu sungguh membuat Putri yang melihatnya terenyuh. Dalam hidupnya, ia belum pernah mendapatkan senyuman selembut itu dari seseorang.

"Siapakah mereka ini, Isle?" tanya Giselle dengan suara lembutnya seraya menyebut panggilan akrabnya dengan Carlisle.

Carlisle pun hendak membuka mulutnya untuk menjawab pertanyaan sang ibunda. Namun kalimatnya tersekat ditenggorokan tat kala ia menyadari satu hal. Yaitu ia belum mengetahui siapa nama ketiga orang dibelakangnya itu. 

"Bisa-bisanya aku lupa menanyakan nama mereka...," batin Carlisle merasakan kegagalan.

Carlisle yang tak kunjung membuka mulutnya membuat suasana mendadak tegang. Putri yang menyadari ketegangan itu pun berinisiatif untuk menjawab pertanyaan Giselle. Ia melangkahkan kakinya hingga berdiri bersebelahan dengan Carlisle. Kemudian melipat tangan kirinya dibelakang punggung dan tangan kanannya berada didepan dada. Tubuhnya sedikit membungkuk hingga kepalanya harus mendongak untuk dapat menatap mata Giselle.

"Saya Ariana Cecilia Elister. Seorang putri tunggal dari kerajaan kecil di tenggara. Dan mereka adalah pelayan saya, Kei dan Sandra. Suatu kehormatan bagi kami dapat bertemu dengan nyonya besar keluarga Alvonheim," ucap Putri penuh etika dengan senyum lembutnya. Carlisle yang melihat perubahan drastis dari sikap Putri itu pun membelalakkan matanya.

"Ya ampun, anda seorang putri? Maafkan saya karena harus menyambut anda seperti ini," ucap Giselle kemudian membungkukkan badannya.

"Tidak apa-apa Nyonya Giselle, ini kesalahan saya yang berkunjung secara tiba-tiba. Dan anda jauh lebih tua dari saya jadi saya harap anda dapat bersikap santai saja." Putri kembali berucap seraya memegang pundak Giselle untuk mencegahnya menunduk.

"Baiklah jika anda ingin seperti itu, putri. Nah, mari masuk, tidak nyaman jika harus berbincang sambil berdiri disini bukan?" ajak Giselle dan dibalas anggukan oleh Putri.

Kemudian kedua wanita itu mulai berjalan beriringan memasuki kediaman. Disusul dengan Kei, Sandra, dan juga Julian. Namun meninggalkan pria yang berstatus kepala keluarga itu berdiri kaku ditempat. Ia masih mencoba mencerna kejadian yang baru saja ia lihat tadi. Matanya menatap kearah Putri seakan tak percaya dengan sikapnya barusan. Lalu lamunannya buyar setelah ia mendapati Putri yang sudah berada cukup jauh didepan itu menatap kearah Carlisle dan mengedipkan sebelah matanya.

"Apa-apaan sebenarnya wanita itu..??"

Kini mereka sudah berada didalam kediaman. Dengan Carlisle yang juga sudah turut berjalan mengikuti mereka dari belakang. 

Putri memperhatikan setiap inci kediaman tersebut. Lorong panjang yang dindingnya memiliki ukiran-ukuran emas yang indah. Tampak juga sebuah kebun bunga mawar yang Putri lihat sebelumnya dari luar. Dan sepertinya sekarang mereka sedang berjalan menuju kebun tersebut. Mereka pun memasuki Kebun dituntun dengan Giselle. Kali ini Carlisle dan Julian tidak ikut karena ada hal lain yang lebih penting untuk mereka lakukan. 

Setelah beberapa saat berjalan, mereka pun tiba disebuah gazebo yang dibangun dengan pilar putih. Mereka pun masuk setelah dipersilahkan oleh Giselle. Terdapat satu set lengkap teh dimeja yang berada ditengah-tengah gazebo tersebut. Keempat orang itu kemudian duduk disana seraya menyeruput teh selagi menunggu camilan untuk disediakan.

Giselle menatap ketiga orang didepannya itu dengan tatapan mata yang sangat lembut. Kemudian ia pun menyadari. Tidak seperti Putri yang saat ini sedang menyeruput tehnya dengan santai. Kedua orang lainnya, yaitu Kei dan Sandra sama sekali tidak menyentuh gelas mereka. Mereka hanya duduk tenang seraya memperhatikan Putri yang sedang minum. Giselle yang penasaran pun kemudian membuka mulut tuk bertanya.

"Kalian berdua tidak ikut minum?" tanya Giselle. "Hanya karena kalian seorang pelayan tidak membuat saya membeda-bedakan tamu saya."

Kei dan Sandra yang mendengar tawaran tersebut hanya dapat diam. Mereka kemudian mengalihkan pandangannya pada Putri. Karena hanya Putri lah yang dapat memutuskan jawaban seperti apa yang harus diberikan. Mendapati itu, Putri kemudian meletakkan cangkir tehnya kembali keatas meja. Wanita berambut hitam itu menyilangkan kakinya dan tersenyum.

"Anda tidak perlu khawatir. Karena mereka berdua hanyalah robot yang tidak memerlukan makan dan minum."

.

.

.

Bersambung.

When The Genius Woman Went to Another World [TERBIT]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang