[JANGAN LUPA FOLLOW SEBELUM MEMBACA CERITA]
****
Wanita putus asa yang hendak bunuh diri tiba-tiba terbawa arus ke tahun 2006 melalui sebuah walkman kuno. Berbagai runtutan kejadian mengubah garis takdirnya saat kembali ke 2023.
****
Freya benci hid...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
****
Seharusnya Binar memang tidak perlu terlalu larut dalam bahagia. Seharusnya juga, ia sadar kalau memang Freya itu siapa dan dengan siapa ia jatuh cinta. Seharusnya juga, ia tidak menaruh rasa sedalam itu untuk Freya. Meski sekarang, perlakuan gadis itu sedikit berbeda.
Begitu menyadari Jovan ada di belakang mereka berdua, Binar langsung melepaskan secara paksa genggaman erat tangan Freya diantara jemarinya tadi. Ia berusaha berpaling dan bertingkah tidak ada apa-apa.
Freya yang melihat terkejut. Perubahan signifikan dari sikap dan senyum Binar sebelum dan sesudah laki-laki tidak dikenalnya ini datang, nampak sangat kentara.
"Freya? Aku ngomong sama kamu, loh."
Tinggi tubuh laki-laki ini cukup setara dengan Binar. Tidak terlalu tinggi. Namun terhitung lumayan tinggi juga untuk perbandingan tubuhnya.
"Ehh...iya..."
Sorot mata Freya mencari-cari sebuah nametag atau pin nama dari laki-laki ini. Namun, usahanya itu sia-sia. Laki-laki di hadapannya itu tidak mengenakan atribut seragam lengkap.
"Frey, aku duluan, ya?"
Begitu Freya hendak membalas ucapan Binar yang hendak pergi karena mungkin merasa ia di dalam momen akward, laki-laki yang tak ia tahu namanya itu langsung menarik kerah seragam Binar dan menyudutkannya hingga terbentur tembok pembatas tangga yang terbuat dari beton dan cukup kasar.
Freya terkejut. Respon alamiahnya adalah menutup mulut saat melihat semuanya secara tiba-tiba dengan jantung berdebar takut.
"Sudah berapa kali aku ingatkan? Jangan berani-beraninya kamu mendekati perempuanku. Tak dengar kau deklarasi yang aku bacakan di ruang aula waktu lampau, hah?!"
Perempuanku? Deklarasi?
Wait, ini maksudnya, apa, ya??
Bola mata Freya membulat sempurna. Rasa terkejut itu berubah menjadi dua kali lipat.
Freya meraih ponsel Vena dengan dahi mengerut. "Kok bisa gue gak kenal cowok sekeren dia? Namanya ada di mana-mana waktu itu."
Vena berdecak kesal. Perempuan itu menarik kembali ponsel miliknya. "Ah elah, lo aja dulu udah sebulol itu sama cowok lain. Gimana mau ngelirik cowok sekeren Binar, coba?"
"Hah?" Freya cengo. "Emang gue dulu ngefans sama siapa?"
"Terserah apa kata lo, deh, Freya. Begitu aja gue harus ingetin."
Memori dengan jarak 16 tahun di lini masa yang berbeda itu, membangunkan Freya dari mimpi terbaiknya memilih tahun 2006 sebagai tahun turning point miliknya. Rasa-rasanya, ia akan mencabut semua omong kosong dari bibirnya waktu tahu ternyata begini di 2006.