[JANGAN LUPA FOLLOW SEBELUM MEMBACA CERITA]
****
Wanita putus asa yang hendak bunuh diri tiba-tiba terbawa arus ke tahun 2006 melalui sebuah walkman kuno. Berbagai runtutan kejadian mengubah garis takdirnya saat kembali ke 2023.
****
Freya benci hid...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
***
"Binar! Kurang ajar, kamu jadi anak!"
Binar berhenti melangkah. Ia menyadari Reni pasti akan menyusul dirinya hingga ke dalam rumah. Ia sengaja membawa keributan ini hanya cukup di dalam rumah saja. Jangan sampai orang lain tahu.
"Ibu, cukup dramanya! Bisa, gak, sih, sekali aja. Sekali aja Binar hidup tenang?!"
Jari telunjuk Binar melayang di udara. Mengarah tepat di depan wajahnya. Berharap Reni mengerti, tapi perempuan itu malah meraih sebuah figura foto di atas nakas.
"Kamu mau tenang? Lupakan Mama kamu yang sudah mati itu!"
Pyar!!
Figura foto itu pecah dengan cepat. Sepersekian detik, Binar terkejut dan terdiam membeku mendapati figura itu benar-benar pecah. Binar sudah bisa menghadapi kemarahan Reni. Tapi untuk kali ini, ia tidak bisa menoleransi.
Ia berjongkok sembari meraih sebuah foto cetak yang berwarna sedikit usang. Antara peralihan pudarnya warna dengan hitam putih. Tak kuasa ia mengingat betapa sayangnya Mama dengan figura foto ini.
"Kenapa? Mau nangis? Kamu mau nyusul seperti Mama kamu itu?!"
Perasaan sesak dengan cepat menjalar di seluruh dada Binar. Serpihan kaca itu menggores permukaan tangannya sesekali, namun ia tak peduli. Foto itu yang terpenting untuknya sekarang.
Binar mendongak. Ia menahan-nahan agar air matanya tidak tumpah.
"Oh ya? Kenapa bukan Ibu aja yang nyusul Mama? Biar hidup saya dan Papa bahagia!"
"Kurang ajar kamu!"
Begitu tangan Reni sudah melayang, Binar pasrah. Laki-laki itu sudah biasa terkena pukulan, bentakan, marahan dari Reni. Ia selalu menutupi bekas luka memar itu diam-diam.
Binar terkejut. Kali ini tangan Reni tidak mendarat mulus di atas kepalanya. Ia mendongak lagi, mendapati Freya menahan tangan Reni di ambang udara.
"Siapa kamu berani ikut campur urusan saya dengan anak saya?!"
"Maksud anda, anak tiri anda?"
Freya mencengkeram sedikit kuat pergelangan tangan Reni hingga wanita itu sedikit mengeluh kesakitan. Binar dengan cepat berdiri, melempar tatapan halus ke Freya menginsyaratkan untuk menyudahi ini semua.
"Aduh, sakit! Kasar sekali kamu!"
Freya mengambil langkah mundur, mendekati posisi Binar. Perempuan itu menatap mata Reni dengan tatapan garang dan tidak terima.
"Lebih kasar mana anda dengan Binar? Itu yang Binar rasakan selama ini! Bahkan itu belum seberapa dengan rasa sakit Binar karena anda!"