[JANGAN LUPA FOLLOW SEBELUM MEMBACA CERITA]
****
Wanita putus asa yang hendak bunuh diri tiba-tiba terbawa arus ke tahun 2006 melalui sebuah walkman kuno. Berbagai runtutan kejadian mengubah garis takdirnya saat kembali ke 2023.
****
Freya benci hid...
Haloo Apa kabar semuanya?? Kali ini Replay update lagi setelah Rasa penasaran yang gantung di chapter satu!
Selamat membaca, here we go!🤍
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
***
Sinar matahari mulai merangsek masuk melalui celah-celah kecil di kamar yang bergorden putih salju itu. Semenjak tidak ditinggali lagi, beberapa debu menguar saat pagi hari tiba. Bunyi alarm ponsel juga menambah kebisingan pagi itu. Tidak ada lagi ucapan 'Freya, bangun, nanti kamu terlambat ke sekolah', atau bahkan 'Freya, ayo sarapan pagi dulu!', dan ucapan-ucapan lain yang perempuan itu rindukan.
Semenjak menangis semalaman, Freya tidak bisa tidur nyenyak. Begitu mendapati alarm ponsel menunjukkan pukul 08.00 WIB, membuat jiwa perempuan itu tersentak kaget.
"ASTAGA! BISA KENA SEMPROT GUE UDAH TELAT BEGINI!"
Freya benar-benar kelabakan karena semalam suntuk ia baru bisa terlelap setelah lelah menangis. Entah apa yang mendorongnya untuk menangis, tapi ia merasa hari ini akan semakin berat untuk dijalani. Benar saja, setibanya ia di kantor, semua arah mata tertuju padanya.
Wanita itu mencepol rambutnya. Tidak seperti biasa, gadis itu tidak memberi poni, tidak menguncirnya, melainkan mencepol rambutnya hingga nampak seperti setinggi gunung.
"Eh..." Gerak reflex Freya masih berjalan normal tatkala pergelangan tangannya diraih oleh seseorang dengan cepat hingga berada di balik dinding dekat lift.
"Vena?! Gue kira siapa. Ngapain main tarik-tarik aja, sih?"
"Astaga, Frey. Lo gak sadar, kalau lo lagi jadi bahan perbincangan satu kantor? Bahkan, nih, di divisi gue rame banget bisik-bisik nama lo."
Dahi Freya mengernyit. Ia membetulkan rok hitam formal itu dengan sedikit gusar.
"Masih masalah kemarin?" Tanya Freya dengan tatapan tidak nyaman karena beberapa karyawan mulai masuk kantor.
Vena mengangguk. "Gue juga yakin kalau ini semua tipu muslihat si dukunberanakitu, deh, iya, kan? Gue juga udah cek, kalau proposal sebelum di email udah bener. Kenapa jadi salah semua data di emailnya?"
Freya terdiam. Ia tidak ada kuasa di kantor ini untuk memberontak.
"Vens, sebenernya gue semalam-"
Vena mengangkat alisnya penasaran. "Semalam lo kenapa?"
Bibir wanita itu terkatup lagi. Tidak mungkin ia akan membebankan Vena dengan komentar negative semacam itu. "Anu, semalam gue-"
"Vena dan Freya?"
Suara itu menginterogasi mereka berdua. Refleks, mereka menoleh ke sumber suara menemukan laki-laki jangkung dengan kemeja biru tua dan dasi merah marun terikat rapi melingkari lehernya.