11. Strange Situation

58 5 0
                                        

***

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

***

"Abinar Kurniawan?"

Delusi yang parah di otak Freya benar-benar mengaburkan kenyataan yang ada. Ia cukup terkejut dengan apa yang terjadi. Kenyataan di masa lalu, benar-benar berubah. Ia yakin betul, seharusnya Jovan yang berada di hadapannya, selaku kekasih dari Freya.

Namun, kali ini Binar yang ada di hadapannya, memberi rompi seragam milik laki-laki itu untuk melindungi panas matahari agar tidak menyengat kepalanya.

"Cukup aja, yaa, larinya. Kamu udah terasa hampir mau pingsan."

Laki-laki ini mengapa peduli? Bukankah di linimasa asli 2006, kita tidak saling mengenal?

Freya mencoba menegakkan tubuhnya, namun masih memegang pundak Binar sebagai sanggaan karena tubuhnya terasa lemas.

"Aku baik-baik aja, Bin. Aku belum bisa kembali ke kelas kalau belum selesai dengan hukuman Pak Herman."

"Coba sekali aja, Frey, untuk menjadi nakal."

Menghadapi keterkejutan Freya, laki-laki itu menambahkan. Ia mengusap wajahnya kasar.

"Coba lihat keadaan kamu, Frey. Ayo ke tribun dulu. Setidaknya sampai napas kamu sedikit kembali normal."

Freya mengangguk pelan. Perempuan itu yang tadi hendak berjalan sendiri, sekarang dibantu Binar dengan cara melingkarkan tangan perempuan itu di leher Binar.

"Aku bisa jalan sendiri, Bin."

"Tidak untuk kali ini. Biar aku bantu."

Freya menoleh ke samping. Sinar matahari yang menerpa wajah laki-laki itu, bahkan semakin membuat bulir-bulir keringat itu nampak jelas. Seragam tanpa rompi lelaki itu juga sedikit basah di bagian lengan atas hingga sekitar leher.

Apa dia benar-benar lari cari gue? Bahkan sampai harus ke lapangan?

Kenapa dulu gue gak kenal cowok semanis dan se-effort Binar? Cowok ini...benar-benar tipe gue. Semua love language dia ambil. Padahal kita baru dekat beberapa hari ini?

"Ayo duduk dulu," ucap Binar membuat lamunan Freya bubar seketika. Perempuan itu menggeleng pelan mengusir pemikiran anehnya sembari mendaratkan pantat di atas tribun yang cukup sepi dan luas.

"Kamu tunggu disini dulu. Aku mau ke kantin beli air mineral. Sebentar!"

Seharusnya Freya baper saat Binar langsung cekatan turun dari tribun dan berlari menuju kantin belakang sekolah. Namun, ia menyadari, ia berada di lini masa yang berbeda. Tempat dimana wanita berusia 34 tahun bukan disini semestinya.

"Kalau masa lalu bisa berubah, apa mungkin masa depan bisa ikut berubah?"

Freya meluruskan kakinya, menatap langit-langit. "Terus, tujuan Oma bawa gue ke tahun ini, buat apa? Apa yang harus diubah? Apa Binar jadi salah satunya?"

Replay [SELESAI] ✅Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang