[JANGAN LUPA FOLLOW SEBELUM MEMBACA CERITA]
****
Wanita putus asa yang hendak bunuh diri tiba-tiba terbawa arus ke tahun 2006 melalui sebuah walkman kuno. Berbagai runtutan kejadian mengubah garis takdirnya saat kembali ke 2023.
****
Freya benci hid...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
***
"Binar, berita gawat!"
Binar yang hendak berdiri untuk menghampiri kelas Freya karena gurunya belum juga selesai mengajar meski bel pulang sudah berbunyi, langsung mengurungkan niatnya begitu melihat Ferdi tiba-tiba datang dengan napas menderu-deru.
"Kenapa? Bukankah kau ada latihan? Batal pula latihan kau?"
"Bukan! Bukan masalah itu!"
Binar mengernyitkan dahinya. Ia baru kali ini melihat Ferdi terlihat tergesa-gesa.
"Tenang dulu, duduklah. Kenapa harus lari-larian?"
Binar mendorong kursi kosong untuk tempat Ferdi duduk. Namun, laki-laki itu tidak mau. Ia menggeleng kuat-kuat karena berita ini super penting.
"Tidak ada waktu, Bin. Kamu harus tahu kalau..."
"Iya, kalau apa? Jangan setengah-setengah."
Ferdi yang sudah berhasil mengatur napasnya itu kembali fokus. "Tadi di depan ada mobil abu-abu mirip seperti mobil yang menabrakmu waktu lampau."
"Seribu persen! Detail mobilnya persis seperti yang diceritakan Frey—BINAR!"
Ferdi kewalahan saat mendapati Binar dengan cepat keluar dari kelas dengan tas ransel di pundaknya. Ia bahkan belum selesai berbicara, laki-laki itu sudah berlari secepat kilat.
Ferdi membereskan berbagai bukunya yang berserakan. Ia tadi berniat untuk meninggalkan kelas Bu Rita karena merasa sangat bosan. Tiba-tiba pandangannya menangkap sebuah mobil familier di depan gerbang tak jauh dari sekolah.
Sedangkan Binar sudah menuruni anak tangga hingga ia melupakan janjinya dengan Freya. Begitu ia mengambil sepeda dan menerobos beberapa siswa yang berjalan kaki menuju gerbang sekolah. Sudut matanya menangkap mobil itu mulai berjalan meninggalkan lokasi awal.
Siapa pemilik mobil itu? Kenapa masih saja menganggu ketenangan hidup?
Kali ini Binar tidak akan tinggal diam. Begitu ia mencoba untuk menjaga jarak aman, mobil itu sepertinya mengetahui pergerakan sepeda yang terus mengikutinya.
"Gawat, aku tidak boleh ketinggalan jejak."
Binar semakin kuat mengayuh sepeda dan semakin lihai. Ibarat sepeda adalah kuda, ia menunggangi kuda ini seperti peliharaan jinak yang sudah lama bersamanya.
Pandangannya terus menerobos dan mengekori mobil Van besar itu. Ia sempat kehilangan jejak saat berada di perempatan jalan raya karena jalanan mulai ramai dan padat di sore hari.