22. Si Frustasi

12.5K 1.2K 98
                                        

"Payah banget kamu, sampai setahun Bapak kasih waktu nggak berhasil juga bawa calonmu ke sini! Dimana sopan santunnya? Perempuan bebas seperti itu masih kamu pertahankan?"

"Justru karena Tara, saya bisa lebih sedikit bernafas. Bagas nggak kuat, Pak. Bagas berusaha menurut apapun mau Bapak. Tapi tolong beri Bagas privilege khusus untuk satu ini. Bagas yang akan menjalani rumah tangga. Bukan Bapak. Bukan Ibu!"

"Mas, pelan, Mas. Jangan ngotot, nggih? Bapak sama Ibu—"

"Kamu nggak usah ikut campur, Sekar! Ini tugasku mendidik anak lanang kamu ini! Nduwe anak lanang (punya anak laki) kok nggak bisa diandalkan!"

"Bapak ampun ngendiko (jangan bicara) begitu! Selama ini yang mendidik Bagas sama Bagus, ya, Ibu. Kami berhasil begini karena Ibu. Bukan—"

"Mas? Udah."

Kanjeng Ibu urung mendekat pada Bagas. Kepalanya tertunduk setelah mendapat tatapan tajam dari Gusti Prabu. Ratu yang masih tampak manis di usia senjanya tersebut, mundur untuk duduk kembali di bangku anyam ruang tamu Dalem Ratu Sekar. Bersebelahan Kanjeng Gusti Prabu.

Ratu Sekar adalah istri penurut. Walaupun intensitas kedatangan Gusti Prabu terbilang lebih jarang dibandingkan keharmonisan beliau bersama Ratu Ratih, Ratu Sekar tak pernah sekalipun mengeluh. Ia sebaik-baiknya istri dan ibu yang selalu menunjukkan jika hatinya baik-baik saja menjadi istri kedua. Nggak akan ada yang sedih dalam keluarga Ratu Sekar, Bagas dan Bagus. Mereka akan menjadi keluarga harmonis meski berada dalam peringkat kedua. Mereka akan tetap saling menjaga dan menyayangi walau rasanya takkan selengkap keluarga lain.

"Ngapunten, Kangmas (Maaf, Mas)."

Gusti Prabu mendengkus. Sadar jika barusan ia berkata kasar pada istrinya.

"Jangan kamu bilang sekarang jadi orang yang berhasil! Kamu belum apa-apa, Gas." Suara Gusti Prabu merendah. Beliau membenarkan duduk setelah hampir bersitegang dengan anak lelakinya. "Buktikan keberhasilan kamu nanti setelah jadi raja! Kamu akan tahu gimana beratnya tanggung jawab yang Bapak pikul. Dan yang akan kamu pikul di masa depan! Makanya, Bapak minta, cari istri baik-baik. Yang bisa membawa nama baik keraton, keluarga dan warga Solo. Jangan yang banyak ulah tingkah slengekan—"

"Tara nggak slengekan, Pak! Dia baik, penyayang, ceria, sering diam-diam bantuin orang kesusahan. Memang susah dikekang seperti Bagas. Tapi Tara sopan dan tulus menghormati orang tua. Nggak ada pamrih apapun. Bahkan dia ketakutan sama gemerlap yang orang-orang idamkan ini, Pak. Tara bisa bikin Bagas bahagia."

Bagas meremat lengan bangku. Tangannya mengepal. Kanjeng Ibu Ratu Sekar mulai was-was melihat dari seberang. Kapan perseteruan anak dan bapak ini selesai. Apakah benar Tara pilihan terbaik bagi Bagas?

"Alah .... Jangan kamu pikir Bapak nggak ngerti. Percuma Bapaknya pejabat kalau anaknya gagal bersikap!"

Sehari sebelum Kirab Boyong Kedaton, memperingati Hari Jadi Kota Surakarta ke-268, keraton disibukkan oleh bermacam acara bahkan sejak seminggu sebelumnya. Dari perencanaan pameran budaya, temu tamu, juga gladi resik kirab yang akan diadakan esok sore.

Pikiran Gusti Prabu mulai penuh oleh banyak agenda. Tak hanya beliau. Seluruh keluarga juga sama sibuknya mempersiapkan perhelatan bersama warga Solo ini. Berkunjung ke Dalem Ratu Sekar, Gusti Prabu pikir akan sedikit merilekskan kepalanya. Bertemu Bagus yang sedang pulang dari Inggris dan Bagas yang cuti dari kegiatan residensinya, mungkin akan mengobati rindu keluarga yang jarang berkumpul ini. Nyatanya, tidak. Lagi-lagi, topik pernikahan mencuat dalam obrolan. Bagus keluar rumah karena tak mau terlibat dalam urusan yang bukan wilayahnya. Menyisakan orang tua dan anak sulung yang berdebat tanpa ujung.

"Bagas kenalkan besok kalau Bapak nggak percaya! Besok Bagas bawa Tara ke sini! Ketemu Ibu sama Bapak!"

"Bukan waktu yang tepat. Tamu kita banyak. Kegiatan kita full sampai malam."

Langit Tak Berharap Bintang Hadir Malam Ini Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang