'Minggu depan aku harap udah lihat cincin itu kamu pakai ya?'
Aku bergidik ngeri. Dih! Boro-boro mikirin Bagas. Aku masih adaptasi sama medan kerjaku.
Hingga minggu lalu dia menepati janjinya. Telah 3x Bagas datang berkunjung ke Aceh dalam sebulan ini. Aku juga nggak begitu menyambutnya bak tuan rumah. Kan yang didatangi messnya Wisnu. Bukan messku.
Beruntung, Bagas juga nggak protes. Apalagi menagih soal cincin. Ia asyik sendiri membawa oleh-oleh dari Jakarta untuk warga desa. Mengobrol, berbaur dengan kegiatan para pria di sini.
Aku agak menjauh di minggu ke-3 dia datang karena mendengar berita ada penangkapan pasangan bukan mahram di kota yang duduk berduaan di pinggir pantai. Belum tahu nasib mereka setelah dipergoki. Kalau sama-sama punya rasa lalu dinikahkan, sih, pasti bahagia. Lah, kalau aku dan Bagas, kan, jatuhnya horor. Jadi aku bilang ke dia, "Jangan deket-deket!! Ntar kita diarak sekampung pake label pasangan janda-duda me sum kalo ketahuan berduaan!!" Untungnya, Bagas nurut.
Aku diajak tim Puskesmas ke salah satu gampong terjauh di Langkahan. Melewati jalanan tanah, pakai mobil Jeep terbuka. Tangan pegangan rangka mobil sembari menahan tas obat yang kami bawa serta. Rute amat tak bersahabat. Naik-turun, kanan-kiri hutan seperti jalan di gunung. 1 jam perjalanan, kami sampai di gampong ini. Penduduk telah berkumpul di semacam balai desa.
Aku bersama nakes dari puskesmas, orang kecamatan yang membawa bantuan dari kabupaten, juga penduduk Langkahan yang terbiasa menyewakan taksi jeepnya ke desa terpencil.
Aku segera melakukan pemeriksaan kepada pasien yang telah mendaftar sebelumnya. Tercatat ada 40 orang. Puskesmas rutin ke sini 3 bulan sekali. Hanya saja, jika musim penghujan dan jalan mustahil dilalui, kata Bidan Pipi, puskesmas bisa menundanya hingga cuaca cukup bersahabat beberapa hari kemudian.
Melihat keadaan seperti ini, rasanya aku mesti banyak-banyak bersyukur. Apalagi menilik masalah rumah tanggaku yang gagal, galau memikirkan Bagas yang tengah menawarkan cintanya lagi. Hei ...! Boro-boro! Mereka memikirkan bertahan di sini bisa makan sehat, minum air jernih, juga pendidikan untuk anak-anaknya saja sudah merupakan pencapaian besar.
"Ada ibu tua sakit di rumah. Tidak bisa ke sini karena lukanya sudah parah."
Fadil mendekat dan memberi info pada kami. Orang kecamatan yang aku ceritakan tadi adalah Fadil ini. Anak camat sekaligus orang terpandang di Langkahan karena satu-satunya lulusan pesantren terkenal dari Banda Aceh. Dia jadi ustad muda yang diundang kemana-mana jika ada hajatan atau acara besar. Masih single. Tentu saja langsung terkenal se-antero kecamatan karena memang jadi bahan obrolan utama banyak gadis dan ibu yang jadi pasienku.
"Oke. Antar kami." Kataku. Aku dan Bidan Pipi segera beranjak.
Aku mau ralat. Abang Fadil nih mungkin seusia Bagas kali ya? Aku nggak nanya. Melihat sikapnya yang dewasa matang—nggak serampangan sepertiku— kurasa dia nggak seumuran denganku.
Sesampai kami di rumah kayu pasien, aku segera memeriksa luka diabetesnya. Cukup besar pada punggung namun masih bisa kami lakukan perawatan sementara, sebelum memberi saran keluarga untuk dirujuk ke RS. Sebenarnya, jika di Jakarta, pasien seperti ini langsung aku arahkan ke Internist dan Bedah. Sedihnya, melihat rumah sakit amat jauh dan medan perjalanan yang berbahaya, aku berusaha menurunkan kadar gulanya dan membersihkan luka hingga si ibu siap menempuh perjalanan ke kota.
Kami keluar dari rumah si ibu.
"Bisa nggak sih saya nginap sehari-dua hari? Kayak gini nggak mungkin keluarganya aja yang memantau. Dirujuk juga kita nggak mampu. Mana mendung, mau hujan."
Fadil terlihat berpikir. Saling tatap dengan Bidan Pipi. Aku tahu. Bidan Pipi pasti keberatan. Pun, puskesmas akan kekurangan nakes. Walaupun besok juga hari Sabtu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Langit Tak Berharap Bintang Hadir Malam Ini
RomantikTara adalah perempuan bebas. Bebas tidur sembarangan, bangun siang, belanja sekehendak hati, makan junk food, nyetir kemana aja dia suka, dan yang pasti nggak ada orang ribet yang akan negur dia. Nggak lagi-lagi akan dia ulangi hidup dalam kekangan...
