47. Jadi Basah, Kan?!

6.1K 655 19
                                        

Aku adalah cewek yang gampang disuap. Tapi yang baik-baik ya? Bukan pejabat yang gila uang lalu menghalalkan segala cara. Aku sudah kapok dengan kasus Papi. Dan masih enggan percaya apa yang mereka tuduhkan pada Papi. Pasti ada orang yang menjebak, dan sebagainya. Banyak spekulasi yang akhirnya kukubur dalam-dalam. Takut sakit lagi hatiku nanti.

Kembali ke laptop. Eh, ke mudahnya aku dirayu.

Dulu, Bagas deketin aku hanya dengan ngasih contekan rangkumannya saja, aku hore-hore diajak makan sate keliling Jogja.

Giliran udah cerai, eh, dia nyogokin aku teh Tawangmangu produksi pabriknya Kanjeng Ibu, yang aku kangen banget. Yang bikin aku lama-lama luluh dengan nasib anak sulung merana—yang aslinya nggak merana—ini.

Sekarang udah nikah (lagi), apalagi. Duit di ATM-ku tumpah-tumpah. Sampai aku mau belanja barang-barang mahal kesukaan Fiona, bisa aja. Dia bakal menjerit andai tahu berapa Bagas mentransferku tiap bulannya. Gaji Fiona yang spesialis, juga kalah. 

Atau ... aku resign aja dan jalan-jalan ke Hawai atau Maldives? Sekali-kali, Tara si pekerja rodi, juga mau jadi noni-noni cantik pakai topi pantai, tiduran di atas kain gambar bunga tropis di atas pasir pantai Hawaii sambil minum cantik jus jeruk, lihatin kukuku yang habis meni-pedi sebelum berangkat. Matahari nggak usah terik-terik tapi aku tetap bakal pakai kacamata hitam biar dikatain turis sama warga lokal.

Tara dan segala kegilaannya.

Saking banyak plot twist dalam hidup, aku beneran ada gila-gilanya ini. Sekarang Bagas mengernyit, matanya menyipit, terbengong memandangku yang terbahak-bahak memikirkan betapa indahnya khayalan barusan.

"Kenapa sih? Eh? Nggak kerasukan, kan?"

Aku makin kencang ketawa.

Siang terik. 

Panas banget puasa hari kedua ini. Besok pagi buta Bagas akan pulang, dan aku bakal sendiri lagi sampai akhir Ramadhan, dia menjemputku kembali untuk pindahan. 

Dan Bagas menepuk-nepuk bahuku kencang. "Keluar kamu dari tubuh Tara!!!"

"Heh!! Sakit Mas!!!"

Bagas seketika sadar. Aku nggak kerasukan. 

"Ini Tara istriku, kan? Bukan jin yang sok-sokan lembut kayak istriku?"

Kukerjain dia ah.

"Iya. Ini Tara, istrinya sayangku. Sayangku, nanti ke pasar ya? Beliin aku mawar 7 warna dari 7 tempat suci. Aku lagi pengen ngemil."

Aku ketawa-tiwi cekikikan seperti anak kecil manja. Kugelayuti lengannya kuat. Kuusap-usapkan pipi ke ujung bahunya. 

Muka dia pias lagi. Sambil dalam hati, aku istighfar. Jangan sampai beneran ada hantu ngumpet di badanku.

Bagas sontak melepaskan tanganku.

"Pergi kamu!! Pergi dari Tara!!" Dia nunjuk-nunjuk mukaku. Eh, seram juga. "Atau aku siram kamu nih, pakai air seember?!" ancamnya.

Sekarang aku yang panik. 

Bagas udah ngambil air ke belakang. Beneran seember. Dia takut beneran.

Langit Tak Berharap Bintang Hadir Malam Ini Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang