43. Sepasang Burung Dalam Sangkar

6.3K 619 10
                                        

Yusniar, Wakil Menteri Perdagangan 3 Tahun ini Ternyata Diam-diam Diduga Menggelapkan Dana 500 milyar, Melalui Kerjasama Impor Daging Sapi

Besan Keraton Solo Diduga Kuat Tersangkut Korupsi di Kementrian Perdagangan 

Ayah Gusti Raden Ayu Tarananta Terlibat Kasus Pencucian Uang. Apa Tanggapan sang Anak dan Keluarga Solo?

Tara masih berderai air mata, bersimpuh pada lantai di sudut ruang tamu Dalem Ratu Sekar. Beralaskan karpet. Menggenggam ponsel yang sejak pagi menampilkan rilis berita dari KPK dan berbagai media. Berita di sosmed benar-benar menghancurkannya. 

Remuk.

Malu.

Kecewa.

Surai pendek Tara berlumur telur busuk. Istri Gusti Pangeran Rendra Bagas ini baru pulang dari Jogja pagi sekali. Ketika kebingungan di gerbang utama, wartawan mencegatnya. Tara segera turun. Tidak tahunya, warga melempari tubuh Tara dengan telur busuk. Pak Kirno segera menarik gusti ayunya masuk mobil kembali. Dibantu pengawal yang kemudian mengamankan Tara.

Perempuan ini segera dibawa Kanjeng Ibu untuk menghadap Gusti Prabu yang telah menunggu di kediaman istrinya ini. Ia hanya ditolong oleh sebuah handuk basah yang membasahi rambut. Sedikit. Aroma telur busuk tak hilang semudah itu.

Beberapa teman mengonfirmasi melalui pesan singkat. Padahal, satu yang Tara tunggu agar membalas pesan wanita kesepian ini.

Kak Tiya atau Mami atau Papi sendiri.

Apa benar ini terjadi? 

Papi Yusniar adalah ayah yang baik. 

Para tetua duduk di atas bangku klasik dalam ruangan Dalem Ratu Sekar. Kanjeng Ibu, Kanjeng Gusti Prabu, Ratu Ratih, juga para Bude dan Bulek yang kebetulan bertempat tinggal masih di sekitaran area keraton.

Sebagian ada yang khawatir pada Tara.

Sebagian turut merasa tercoreng oleh keluarga Tara.

Sebagian lagi penasaran, apa yang akan Gusti Prabu titahkan untuk menyelesaikan masalah begini.

"Apa aku bilang. Mantu panjenengan itu, Mbak, ya Allah, mau disembunyikan ke mana muka kita ini? Keraton yang kita jaga baik-baik sekarang tercemar hanya karena mantu 6 bulan Mbak ini. Astaghfirullah. Pripun Gusti Prabu?" ucap salah seorang adik dari Ratu Ratih.

Ratu Ratih diam karena merasa ini bukan ranahnya. Ia di sini hanya bertindak sebagai permaisuri. Ratu Sekar terlihat panik dan terus melayangkan pandangan pada Tara. Ingin memeluk namun ini bukan saatnya. Sedangkan sang raja terdiam. Menatap tajam pada sang menantu. Apa yang harus dilakukannya. 

Mengusir Tara juga rasanya tak bijak dan akan jadi sorotan. Sidang belum berlangsung. Hukum praduga tak bersalah masih membayangi.

Para wartawan berjajar tetap menunggu di gerbang utama keraton walau telah diusir. Berikut masyarakat yang tidak tahu apa-apa, namun turut berkontribusi dalam memanaskan suasana. 

Sedangkan, sang suami pangeran saat ini juga kewalahan di Jogja. Ia sedang perjalanan pulang menyusul Tara.

"Bisa kamu selesaikan masalah begini, Sekar?"

Langit Tak Berharap Bintang Hadir Malam Ini Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang