44. Hujan Terakhir di Solo

5.8K 659 25
                                        

Kak Tiya:

Papi sakit-sakitan, Ra. 

Apa nggak bisa kamu sekali aja kabur? Menyamar juga nggak papa.

Sebuah pesan, Tara dapatkan dari Kak Tiya. 

Hampir setiap hari Solo hujan. Ini bulan Januari. Kata orang, bulan ini memiliki singkatan dari hujan sehari-hari.

Pepohonan ringin terindang di keraton saja, terlihat makin hijau dan melebat. Keteduhan yang memberi ketenangan Tara selama berjalan-jalan di halaman sekitar Dalem Ratu Sekar. 

Deras sekali. 

Tara nekat berjalan-jalan menggunakan payung kuningnya. 

Menikmati sapaan dari langit yang biasanya ia temui mulai siang mendung lalu berakhir menjadi hujan semalaman.

Melewati teras, berputar kediamannya, lalu Dalem Ratu Sekar, lalu kakinya menjejak sekitar rumah abdi dalem. 

Terlihat hiruk pikuk yang tak biasa di sana. 

Para abdi dalem wanita tampak cemas keluar masuk bangunan tersebut. 

Tara berlari kecil mendekat. Menemukan Mbok Iyem menangis mondar-mandir. 

"Kenapa, Mbok?"

"Bapak, Gusti. Suami saya—"

Tara masih mencerna lebih lagi.

"Pak Kirno? Pak Kirno kenapa?"

"Gerah (sakit), Gusti."

"Sakit apa?"

"Asmanya kambuh. Tapi meniko Yadi kulo sampun nyuwun tulung supados mriki, kok mboten ketingalan ngantos sakniki (Tetapi ini Yadi sudah saya minta tolong datang ke sini, kok belum kelihatan hingga sekarang)..."

"Ayo, saya periksa, Mbok."

Tara masuk ke dalam rumah kecil yang ditempati beberapa abdi dalem. Sebuah area terdekat dengan dapur utama. 

Tara menemukan Pak Kirno dengan nafas satu-satu. Sulit mengambil oksigen dan mengeluarkannya. Bunyi nafas amat terdengar walau tanpa stetoskop sekalipun. Tara hafal di luar kepala. Sopir yang terbiasa melindunginya dari berbagai mara bahaya, perpanjangan mewakili Bagas agar selalu di samping Tara tersebut, tengah gelisah bukan main. Kesadarannya mulai turun.

"Mbok, ini Pak Kirno udah sesak banget asmanya. Ayo! Saya setirin! Saya ambil mobil dulu!"

"Tapi, Gusti mboten angsal (tidak boleh) nyetir. Keluar keraton..."

"Ini mendesak! Ayo! Siapkan Pak Kirno. Saya ambil mobil!" paksa Tara. Tara takut nyawa Pak Kirno tak terselamatkan. Ia lihat tadi Yadi pergi mengantarkan Kanjeng Gusti Prabu dan belum melihat mobilnya melewati depan kediaman Tara. 

Tara tak memperdulikan payung kecilnya lagi. Ia berlari dalam derasnya hujan menuju garasi. 

Jarak yang cukup jauh Tara tempuh dalam larinya. 

Pakaiannya basah kuyup. 

Dalam larinya, kilasan jasa Pak Kirno satu per satu menyeruak dalam ingatan. 

Pak Kirno yang membantunya ke rumah sakit ketika Tara sendirian keguguran. 

Pak Kirno yang melindungi Tara diam-diam atas perintah Bagas. 

Pak Kirno yang sering menasehati Tara ketika Tara mulai melanggar aturan sesukanya. 

Beliaulah yang paling sabar membela dirinya ketika Kanjeng Gusti Prabu menanyakan apa saja yang hari ke hari Tara lakukan. 

Langit Tak Berharap Bintang Hadir Malam Ini Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang