Tara adalah perempuan bebas. Bebas tidur sembarangan, bangun siang, belanja sekehendak hati, makan junk food, nyetir kemana aja dia suka, dan yang pasti nggak ada orang ribet yang akan negur dia.
Nggak lagi-lagi akan dia ulangi hidup dalam kekangan...
"Lihat begini, aku jadi bangga sama kamu, adik koasku. Pinter."
Bagas memeriksa pasienku dengan sok gayanya karena punya gelar lebih oke daripada dokter PTT ini. Aku telah membersihkan sebisaku luka si ibu. Merawat kebersihannya selama 2 hari ini dan terbukti keluarnya jumlah nanah berkurang. Rekam medis yang kubuat di coretan asal tentang grafik kadar gula darah si ibu juga bikin Bagas tersenyum puas.
"Saya pinter bukan karena situ residennya. Tapi karena saya belajar. Pengalaman juga guru yang lebih hebat dari situ. Jadi jangan sok punya peran ya!" sarkasku.
Fadil yang mendengar kami hanya geleng-geleng. Sedangkan Bagas sendiri menanggapinya dengan cengengesan. Kok aku ngeri ya? Biasanya ekspresi begini, Bagas tunjukkan kalau dia menyembunyikan sesuatu.
"Iya. Baik, Ibu Dokter," jawabnya santai. Lalu beralih menepuk bahu Fadil. "Mulai disiapkan saja Bang Fadil ke mobil pasiennya."
"Baik, Pak Dokter."
Bagas pakai celana jeans panjang dan kaos oblong hijau tua. Tumbenan dia nggak pakai putih. Aku jadi agak merasa dia bukan Bagas. Bagas mengikuti Fadil sambil ngobrol entah apaan, tapi mata mereka beberapa kali melihat ke arahku. Aku boleh GR nggak, kalau mereka menggosipkanku? Atau, mereka ngomongin kelakuanku selama aku di sini?
Ih, bodo amat. Aku mending ngasih hadiah buku ke anak-anak. Sopir yang kutitipi uang agar membelikan buku tulis di pasar, benar-benar mengabulkan permohonanku.
Aku hampir menangis membagikan ini. Saat sedang sendu-sendunya berpelukan dengan mereka, tiba-tiba ransel yang kuselempang sekenanya, langsung direbut Bagas. Seenaknya dia gendong di punggung. Melenggang santai meninggalkanku menuju mobil. Kotak perlengkapan medisku juga telah dibawakan seorang pemuda desa. Kami berpamitan.
"Kamu cukup istirahat?" tanya Bagas ketika kami bersama berjalan ke jeep.
Bagas menyewa 2 jeep ternyata. Fadil bersama pasien dan keluarganya. Sedangkan jeep ini untuk kami berdua.
"Cukup makan? Eh, duduk belakang! Aku temenin!" Perintahnya ketika kami menaiki Jeep.
Aku mengangkat kedua bahu. Jeep mulai melaju. Kucuekin pertanyaannya. Mending menikmati angin semilir dan bersih yang dihasilkan dari pohon-pohon hutan ini. Kaya oksigen.
"Situ bisa nggak, nggak datang terus? Direksi nggak marah tuh bosnya keluar kota tiap Minggu?"
Bagas bersorak. Senyumnya lebar yang segera bikin aku buang muka.
"Jadi udah tahu ya? Mana ucapan selamatnya?"
Aku baru baca pesan Fiona kemarin malam. Bapak pangeran terpilih jadi Bapak Direktur Samanhudi.
"Pesta-pesta aja sana di Jakarta. Atau di Jogja? Sama sahabat cantik situ."
Bagas tertawa. Kenapa, sih, orang-orang rajin tertawa di atas sikap ketusku? Aku hampir stres memikirkannya. Kenapa mereka nggak lihat aku yang segalak ini. Sehingga enggan dekat-dekat sama Tarananta yang menyeramkan. Mungkin, make upku perlu kutonjolin biar kelihatan garang kali ya? Besok lah, alisku kutebelin sama sudut mataku, kubuat seruncing mungkin.
"Masih cemburu ya?" godanya. Berani juga nih orang!
"Enggak sih. Cuma nggak suka aja sama attitude-nya situ sama ciwi-ciwi. Terlalu baik juga nggak bagus, kan? Bikin rumah tangga be-ran-ta-kan!!!"
Dia sakit hati nggak ya, aku ngomong gini? Semoga saja iya. Anehnya, dia malah ....
(Bersambung di KaryaKarsa atau KBM app untuk bab 31-40 ya teman)
Mengejar ketinggalan bab karena udah mau end semua, khusus untuk bab 31-40 saja akan pindah ke KK. tapi part selanjutnya (41 ke atas) menuju ending nanti tetap akan lanjut di Wattpad.
Voucher untuk buka KaryaKarsa khusus paket 31-40 ya.
Nama voucher KKnya: Tarabagaskapanakur
Nama paketnya: Tara Bagas 31-40
Akun KK mamake: shininghaha
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Makasih kawan. Jadi besok kita langsung lanjut part 41 ya dimari... 🥰