Dosa nggak, sih, kalau aku memanfaatkan kebaikan Bapak Mantan ini?
Tiket gratis, makan gratis, jasa geret koper gratis, teman bantu bersih-bersih rumah mess, sampai dibeliin perabot gratis, berasa aku nih target reality show Bedah Rumah.
Kurasa enggak bakal dosa. Dia sendiri yang menawarkan kebaikan hati. Aku bisa apa? Masa orang mau sedekah, ditolak.
"Kulkasnya nggak dingin, minggu depan aku beliin di kota. Dua pintu."
What?!
"No no no!!! Saya tolak untuk bantuan yang itu?! Ente mau ane dipikir dokter manja dari kota ya? Biarin mau dingin kek, panas kek, nggak masalah!"
"Biar kalau aku datang, kamu bisa siap-siap banyak bahan makanan. Kita jauh dari kota."
"Enak bener! Situ pikir saya udah jago masak? Kagak, Pak...!! 9 tahun ane kerja bagai kuda ngumpulin duit sekebon! Boro-boro megang panci! Saya nurut aja sama orang sini! Situ nggak usah ikut campur!!"
Aku menyembur tanpa perisai. Biarin aja sampai muncrat-muncrat ke muka dia. Biar Bagas ilfeel. Menyesal, kok punya mantan begini amat. Nggak ada unggah-ungguh-nya kalau kata Gusti Prabu.
"Aku yang masak. Makanan kamu, kan, nggak pernah sehat. Untung pasar deket, kan? Selesai beli perabot, aku mau beli isi kulkas."
Kan, nggak mempan?! Aku jadi pusing. Sumpah, nih cowok rewel banget macam emak-emak mau ninggalin anaknya di pesantren! Emakku yang asli aja enggak begini. Mami santai banget melepasku ke bandara hanya dengan akang taksi.
Bagas sudah membayar seorang pemuda demi menunggui 2 boks besar berisi satu set sprei baru, taplak meja, strimin penutup ventilasi agar nggak banyak nyamuk, gorden. Sepasang sepatu boots untuk kami berdua karena ini masih musim hujan. Kasur busa juga rak plastik, lemari pakaian plastik, meja dan kursi teras lengkap dari plastik juga, pun, segala tempat bumbu dan toples-toplesnya. Kebanyakan perabot di pasar kecamatan sini memang dari plastik.
Parah emang! Mau nggak kuanggap saudara juga, nempel terus kayak cicak.
Sebenarnya, di dalam mess telah tersedia kursi ruang tamu dari kayu, tikar dan lain-lain. Hanya, Bagas merasa tempat tinggal yang disiapkan untukku terlalu kosong.
"Oh iya, kalau malem di sini dingin nggak ya? Kamu bakal kedinginan nggak, Ra? Minggu depan aku bawain bedcover yang tebelan deh."
Aku membuang pandang jengah.
"Heloowww, situ lupa barusan udah beli selimut? 4 lagi!!"
"Iya. Sekalian aku mau ngasih temen mess kamu dan Wisnu. Egois namanya kalau beli cuma buat sendiri. Kita harus baik sama orang, biar Allah jagain kamu, Ra, dari orang jahat. Kamu sendirian di sini!!"
Lah, Bagas malah bikin tambah horor. Semoga mereka baik-baik semua. Ah, bodo ah! Mau dilarang juga sungguh syulitt!
"Suka-suka situ deh! Yang penting jangan pake duit gue ya?!"
Bagas tersenyum sumringah. Badan tingginya melenggang mendahuluiku masuk lebih dalam lagi ke pasar.
Sungguh wow memang punya mantan Bapak Pangeran, dan harus kuakui, jika ini adalah berkah.
KAMU SEDANG MEMBACA
Langit Tak Berharap Bintang Hadir Malam Ini
RomansaTara adalah perempuan bebas. Bebas tidur sembarangan, bangun siang, belanja sekehendak hati, makan junk food, nyetir kemana aja dia suka, dan yang pasti nggak ada orang ribet yang akan negur dia. Nggak lagi-lagi akan dia ulangi hidup dalam kekangan...
