29. Rumah Hantu Raden Bagas

6.8K 727 24
                                        

Tara dipertemukan dengan banyak keluarga Bagas ketika di keraton selama acara pesta rakyat. Beberapa turut menyumbang stand untuk produk lokal Solo dan sekitarnya. Seluruhnya murah senyum. Tara tak merasa kesulitan dalam berbaur. 

Tara membawa pulang banyak buah tangan ke Purworejo. Diantar Bagas langsung hingga depan mess. Oleh-oleh makanan, tak lupa rasa penasaran. Semakin seseorang diberikan informasi baru, semakin banyak yang perlu ia gali agar tak setengah-setengah kisah diterima.

Tara masih penasaran pada siapa Gayatri, aturan keraton yang ia harus lakukan, syarat dewan adat, juga masa depan macam apa yang akan Bagas emban?

Semua berjalan cepat tanpa Tara sadari. 

Maka setiap Minggu, akan datang sopir keraton dadakan—yang seringnya adalah Pak Kirno—mengunjungi Purworejo hanya demi menjemput Tara. Atau, Bagas akan sukarela mengajaknya jika sedang tak sibuk di RS. 

Segala penasaran makin terang di depan mata, sekaligus terasa bagai lorong pekat yang Tara takut masuki.

Belajar bahasa krama inggil, mengurangi intonasi dan kecepatan nada suara tinggi Tara, menghafal silsilah, gelar dan nama panggilan, cara hormat-menghormati antar kalangan keluarga, tata krama duduk, berjalan, hingga bersimpuh. Tak lupa bagaimana cara berpakaian mengenakan kain jarik, juga segala jenis kebudayaan di Jawa Tengah terutama Surakarta.

Makan tak boleh tergesa-gesa, mengambil yang di dekat dulu, senyum tak diizinkan terlalu lebar, apalagi ketawa lepas. Dituntut pula paham jika posisi perempuan tetaplah di bawah pria. Dan laki-lakilah yang sebaik-baiknya pemimpin. Diajarkan bagaimana mengelola emosi agar marah tak meledak-ledak. 

Bagi Tara ini lebih sulit dibandingkan ujian kompetensi yang menentukan hidup mati Tara bisa praktek dokter atau enggak.

Berbeda dari pertemuan Tara bersama keluarga Bagas yang penuh aturan, Bagas tidak punya kesulitan berarti manakala berkenalan keluarga Tara. Ia yang tanpa diundang, tiba-tiba menampakkan diri berkunjung ke mess ketika Tara memberi kabar jika dirinya sibuk menjamu orang tua yang menjenguk.

Papi Yusniar dan Mami menyambut baik. Iyalah! Bagas memiliki material lengkap yang dibutuhkan sebagai seorang calon suami dan menantu. Termasuk ketika ia segera mengaku akan mempersunting Tara selulus dari Internship. Soal Kak Tiya, orang tua Tara sukarela akan membantu untuk melobi kakaknya. Tanpa Tara ketahui, Bagas juga telah diam-diam berkunjung ke Jakarta di suatu waktu demi memperkuat dukungan.

Mendapat dorongan dari berbagai sudut, Tara makin terhimpit. Termasuk, minggu-minggu terakhir InternshipOtaknya dipenuhi oleh tuntutan ijasah dan ijab sah. 

Sampai akhirnya, tiba di titik Tara merasa nggak mampu.

"Udah. Cukup. Aku merasa gagal aja kemarin belajar tari. Apalagi bahasa Jawa. Itu yang paling susah." Tara mengangkat kedua tangan walaupun di tangan kanannya masih menggenggam pisang goreng. "Aku ngerti, Mas, tapi susah aku ngomongnya. Lebih susah daripada pelajaran Bahasa Indonesia."

Iya dong, Tara. Bahasa Indonesia sudah mendarah daging dari lahir, kan?

"Aku juga nggak bisa seperti Kanjeng Ibu. Aku nggak bisa kalau cuma jadi IRT atau duta kebudayaan semacamnya. Aku dokter, Mas. Aku mau jadi dokter."

Tara mengimbuhi alasan dengan nada menggebu-gebu.

Klasik. Pertengkaran dalam sebuah hubungan tak bisa dihindarkan. 

"Mana keluargamu halus-halus, lemah-lembut, akunya mirip uget-uget begini macam cacing kepanasan. Kesabaranku setipis tisu dibelah 7. Aku nggak bisa kayak mereka."

Bagas mengusap keningnya sendiri. Menghembus nafas berat di bangku panjang dari anyaman bambu depan mess. Berasa hidup kok makin capek. Andai tak ada yang namanya berbalas budi, menghormati keinginan orang tua, Bagas sudah pasti akan membawa Tara nikah lari. 

Langit Tak Berharap Bintang Hadir Malam Ini Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang