Masih menyimpan kesal dan curiga sejak Mas Angga ketahuan sebagai perawat menjabat mata-mata bayaran, aku jadi sulit percaya Bagas lagi. Dia sudah mengaku. Ada setidaknya 3 orang bayaran tetap yang memastikan kegiatanku sejak Bagas memutuskan mau dekat-dekat aku lagi. Mas Angga, pekerja cleaning service IGD, juga residen Interna yang kini sudah menjadi staf baru di sini juga.
"Eits, sini digandeng?"
Aku sudah mau jalan, ketika Bagas cepat-cepat menutup pintu mobil untuk segera mensejajariku.
Kami tiba di Solo. Ayahanda Prabu sedang sakit. Kesehatannya semakin menurun setelah jatuh dari kamar mandi. Beliau lumayan sulit dibujuk untuk perawatan ke rumah sakit. Sehingga, terakhir, berharap kedatangan Bagas dan Bagus—anak-anak lelakinya—mampu merayu Ayahanda Prabu untuk dirawat.
"Tanganmu dingin." Bagas meremas tanganku. Menghangatkannya.
Kami baru berangkat malam setelah menunggu Bagas selesai bekerja. Besok, hari Minggu malam, kami terbang pulang. "Ada aku, Adek. Aku nggak akan larang-larang kamu lagi ngomong apapun jika itu untuk membela diri. Kita di sini bukan untuk disakiti hatinya. Tapi tetap. Harus jaga kesopanan. Mereka tetap orang tua kita."
Nggak kebalik tuh? Siapa yang terakhir ngamuk sama bapaknya sendiri? Di depan banyak keluarganya pula. Sekarang, sok menenangkan istrinya. Nggak tahu nanti. Apa dia bakal menahan marah sampai keluar urat lehernya lagi?
"Kan udah kubilang. Aku udah kebal diomongin. Tenang aja." Kuusap punggung tangannya dengan ibu jari lalu mengecup lembut tangan Bagas.
Aku mencintainya. Sungguh. Walau nggak pernah koar-koar. Bilang sama dia juga jarang. Tapi tindakan nyata dalam menyayangi Bagas, takkan kurang-kurang dariku. Ya, setidaknya, bahasa tubuhku mengurangi ketegangan yang dia rasakan juga. Kata Mbok Iyem, Bagas sudah lama memutus komunikasi dengan keraton. Ketemuan lagi hanya ketika kami meminta restu kembali dan acara pernikahan. Itu saja.
Kaki kami seirama menyusuri lingkungan di mana dulu Bagas dibesarkan. Apa nggak kangen ya dia?
Keraton ini megah, indah, teduh oleh banyak pohon, bersih, detailnya ukiran penuh makna pada kayu-kayu jati tua yang kokoh, begitu sempurna. Namun, entah kenapa bagiku, tak sanggup kurasakan kenyamanannya. Keinginan untuk berlama-lama menikmati juga tak ada. Nafasku setengah-setengah. Tak tuntas. Berbeda dibandingkan suasana di luar pagar pembatas tembok megah nan tinggi ini.
"Mas."
Bagus dan Kanjeng Ibu sudah lebih dulu menyambut. Memeluk kami. Aku mengintip dari pintu kamar yang terbuka. Ada Ratu Ratih dan Mbak Hesti juga duduk di sebelah ranjang Kanjeng Gusti Prabu. Ayahanda Prabu sedang beristirahat.
"Capek Mas? Mbak Tara? Maaf jadi bolak-balik Jakarta Solo."
Bagas menggeleng dalam senyum menjawab pertanyaan Kanjeng Ibu. Kanjeng Ibu mengajak kami duduk dulu di sofa ruangan depan Dalem Ratu Ratih, agak jauh dari kamar utama Ayahanda Prabu.
"Kamu sehat, Gus? Gimana? Aman?" tanya Bagas menepuk pundak adiknya.
"Aman, Mas. Banyak yang bantuin."
"Jangan sungkan minta tolong aku. Gini-gini aku masih bisa banyak bantuin kamu."
"Gampang. Fokus aja sama keluarga kecilmu dulu. Bahagiain Mbak Tara misalnya. Ya kan, Mbak?" Senyum jahil Bagus terseringai. Aku mengangguk mengiyakan dong.
"Jangan nangis-nangis edan sok-sokan mau ngurusin semuanya. Ternyata atine malah yang jadi keteteran."
Aku tersenyum. Lalu menyandarkan kepala di pundak Bagas. Memeluknya erat. Mengusap punggung pria itu. Meyakinkan kalau aku sudah di sini. Nggak ke mana-mana lagi. Nggak perlu risau lagi, wahai Bambang lucuku.
KAMU SEDANG MEMBACA
Langit Tak Berharap Bintang Hadir Malam Ini
RomansaTara adalah perempuan bebas. Bebas tidur sembarangan, bangun siang, belanja sekehendak hati, makan junk food, nyetir kemana aja dia suka, dan yang pasti nggak ada orang ribet yang akan negur dia. Nggak lagi-lagi akan dia ulangi hidup dalam kekangan...
