Ustad Fadil dan Bagas. Mereka harus dijadikan magnet sama kutub aja biar nggak usah saling berdekatan secara spontan.
Aku nggak enak sama Ustad Fadil. Bagas kelihatan banget cemburunya setiap menyembunyikanku di belakang punggungnya. Aku tahu cekikikan Abang Fadilnya ciwi-ciwi sekecamatan ini, adalah untuk menertawakan kebebasan yang kugaung-gaungkan harus dipunyai semua perempuan.
"Jangan gitu. Kan, udah aku bilang. Biasa aja," bisikku di telinga Bagas. Aku nggak bisa maju. Masalahnya, tangan dia megangin tanganku.
"Nggak bisa."
Aku tersenyum canggung demi mewakili salam dari balik bahu Bagas ketika masuk ke surau. Sore ini, buka puasa bersama. Spesial disponsori oleh Bapak Gusti Raden Mas Rendra Bagas ini, tentunya.
Dia memang suka menyebar uang di mana-mana. Semoga menjadikan pahala buat kami sekeluarga. Aamiinn.
"Dahlah! Mas temuin tuh Pak Camat sama Kepala Gampong."
Bagas menoleh sedikit untuk ngomong menanggapiku. "Habis Maghrib kita langsung kabur. Oke? Nggak ada acara kamu ngerumpi sama ibu-ibu."
"Oke."
---
"Sedih banget Dokter Tara bentar lagi dah nggak di sini."
Kami ngobrol sembari menunggu acara dimulai. Halaman surau yang sudah dilapisi tikar anyaman ini, masih terisi separuhnya. Beberapa warga lain belum datang. Kami menempati posisi di ujung dulu, agar yang datang tak perlu melangkah jauh mencari duduk. Dan katanya, di pojokan itu emang banyak setan. Buktinya, kami kegoda buat ngerumpi. Deuuhh!
"Penggantinya siapa, Dok?"
"Belum tahu. Yang pasti kalian harus baik-baik sama mereka. Biar betah di sini." Aku berkata dengan suara pelan, lalu para ibu-ibu desa memajukan badannya mendekat. Kami membentuk lingkaran seperti atur strategi mau maju perang. "Karena ibu-ibu gagal jodohin saya sama Bang Fadil, yang pengganti saya nanti, kalau cocok dan baik, plus jomblo, segerakan atur ide biar jodoh sama Bang Fadil. Kapan lagi kalian punya dokter tetap di sini. Ya kan?"
Mereka tertawa dan mengangguk-angguk. Tapi seakan menyetujui gagasanku. Bagas nggak tahu saja. Sudah nggak bisa dihitung jari, aku dicie-ciein emak-emak kampung jika sedang bekerja bareng Fadil.
Dari masih janda, sampai sekarang menikah, jika Bagas nggak ada, mereka kadang suka nyeletuk, "yah, sayang banget. Dokter Tara sama Bang Fadil nggak pasangan. Padahal, kan..."
Padahal, kan...
Mestinya, kan...
Harusnya tuh...
Banyak.
Aku nggak enak sendiri. Hebatnya, mereka jaga ucapan saat suami posesif ini berkunjung. Nanti aku bakal cerita sama Bagas. Kan, katanya nggak boleh ada yang ditutupin. Ya, walau sedikit menyakitkan. Nanti. Kalau sudah nggak jadi dokter di sini lagi.
"Dokter Tara tapi masih ke sini, kan?" tanya Ibu kepala gampong.
"Nggak tahu. Bisa aja. Doain ya? Pengen sekali-kali mampir juga. Saya ada rumah di Banda Aceh, kok."
KAMU SEDANG MEMBACA
Langit Tak Berharap Bintang Hadir Malam Ini
RomantikTara adalah perempuan bebas. Bebas tidur sembarangan, bangun siang, belanja sekehendak hati, makan junk food, nyetir kemana aja dia suka, dan yang pasti nggak ada orang ribet yang akan negur dia. Nggak lagi-lagi akan dia ulangi hidup dalam kekangan...
