No protes2 lho gaes yang ga baca part 31-40 dan part seperti kepotong. Kayak ada kepingan hilang 🤣. Mamake tetap lanjut maju jalan grak...
----
Kanjeng Ibu sakit. Bagas pulang karena Bagus sudah balik ke UK. Akhirnya dia mau merelakan sisa beberapa hari ujiannya dengan pulang pergi Solo Jogja. Menginap di Solo, nanti paginya berangkat ke Jogja.
Aku sedih, tapi masih ada bersyukur karena suamiku ternyata inget pulang walaupun karena sang ibu tumbang. Demam, dibarengi batuk pilek dan asma. Jadi asmanya Bagas ternyata turun dari keluarga ibunya.
"Aku lagi nggak mau kita berantem di situasi kayak gini. Harusnya kamu minta maaf sama Mas. Aku nggak suka istriku nekat kemana-mana nggak nurut izinku."
"Iya."
Itu saja. Aku cuma berani iya-in. Daripada daripada. Bagas marah gini aku yang ngeri. Didiamkan berminggu-minggu karena ketahuan mendaftar sebagai dokter IGD, itu nggak enak. Di telepon, di chat, Bagas nggak membalas sama sekali.
Dari Pak Kirno dan Mbok Iyem saja aku tahu jika setiap hari Bagas menelepon mereka menanyakan kabarku. Alhamdulillah jika masih perhatian. Maka, melalui 2 abdi dalem Bagas ini juga aku mengirim pesan pada Bagas yang selalu minta dia pulang dan pulang.
"Mas nggak belajar? Biar aku jagain Ibu."
Kami sama-sama memandang ke arah pintu kamar Ibu. Barusan beliau tertidur setelah makan malam dan minum obat.
"Termasuk kamu yang nekat-nekat mau masukin loker IGD RS? Jangan gitu, Ra. Aku nggak tenang di Jogja."
Makanya, bakal tenang kalo aku mendampinginya di sana, kan? Lagian, apa gunanya istri dianggurin begini?
Mana aku nggak jadi hamil. Terus sekarang, para bude dan bulek masih nanya-nanya setiap kami bertemu dalam acara. 'Gimana, Nduk? Udah isi? Kamu kayaknya gemukan?'
Mau kujawab, 'udah pernah,' juga nggak mungkin. Kehamilanku dirahasiakan Kanjeng Ibu dan Bagas. Hanya kami, orang rumah sakit yang merawatku dan keluarga Pak Kirno saja yang tahu.
Sedih banget. Aku jadi tertekan mentalnya.
"Kamu istirahat aja. Nggak capek?" tambahnya.
"Aku udah tidur seharian dari semalem. Mas belajar gih. Balik rumah. Aku nginep sini ya? Jagain Ibu?"
Maunya menginap rumah, minta peluk. Lukaku kehilangan buah hati belum sembuh. Namun, demi kesopanan sebagai menantu keraton, aku nggak mungkin jauh-jauh dari Kanjeng Ibu. Lagipula, beliau telah baik banget padaku.
Bagas bermain mengetuk-ngetukkan tumitnya di lantai. Badannya bersandar tiang kayu pondasi khas rumah Jawa. Tangannya mengucek mata. Pasang matanya merah. Aku tahu dia beberapa hari ini pasti begadang belajar. Kebiasaannya residen cerdas. Dia bisa nggak tidur semaleman hanya karena bukunya belum selesai dibaca. Nggak seperti aku yang mudah menyerah saat kantuk menyerang.
Tiba-tiba dia maju. Aku mundur. Loh? Kok aku mundur?
Bagas mengernyit. Sama herannya juga.
Mungkin efek kami udah lama nggak ketemu.
Baru setelah sadar, aku maju. Menerima uluran tangannya. Kukira dia mau menggenggam tanganku. Nggak tahunya. Tangannya lanjut ke belakang pinggang dan mengunci di sana. Dia menunduk. Menyandarkan kepalanya di bahuku.
"Capek banget. Capek belajar, capek badan, capek pikirin kita ... kamu."
"Aku?" tanyaku yang membalas mengusap-usap kepalanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Langit Tak Berharap Bintang Hadir Malam Ini
RomanceTara adalah perempuan bebas. Bebas tidur sembarangan, bangun siang, belanja sekehendak hati, makan junk food, nyetir kemana aja dia suka, dan yang pasti nggak ada orang ribet yang akan negur dia. Nggak lagi-lagi akan dia ulangi hidup dalam kekangan...
