23. Pangeran Berkuda

8K 840 43
                                        

KARENA Ketika Hanya Hati yang Saling Bicara (Alana dan Arter) udah mau kelar di sebelah,
maka aku mulai update lagi Tara Bagas ya...

Makasih yang udah nunggu mamake Hiatus jadi emak-emak momong bayi kemaren...

Muaah tuk kalian 😘

-----

"Mas Bagas emang saklek, Mbak, tapi dia baik, kan?"

Tara mengangguk. Bagus dan Tara tengah dalam perjalanan menuju hotel. Semalam Bagus pulang tanpa membawa hasil. Tara hanya masuk kamar, berjalan mondar-mandir, menggigit kukunya panik, lantas keluar menemui Bagus demi meminta waktu semalam lagi. Tara akan memesan tiket kereta pagi buta tujuan Solo jika dia telah menentukan pilihan. 

Di sinilah Tara.

Keluar dari pintu gerbang Stasiun Balapan Solo, Bagus telah menunggu di mobilnya.

Minggu, 17 Februari 2013, Solo tampak lebih meriah dibandingkan hari biasa. Dimana-mana terpasang bendera warna-warni bak HUT RI. Ratusan janur kuning menjuntai di tepi-tepi jalan utama. Beberapa toko memasang etalase diskon besar-besaran memperingati HUT Surakarta. Ratusan polisi bersiap di beberapa titik mengatur lalu lintas karena beberapa jalan akan ditutup menjelang kirab nanti sore. Kabarnya, Presiden RI juga akan hadir dalam upacara pagi hari ini.

"Kamu nggak ikut acara keraton? Kok masih bisa jemput Mbak kesana kemari?"

Bagus tertawa. Pria itu memasang kacamata hitam. Matahari pagi menyorot dari arah depan. 

"Aku nggak suka upacara. Panas. Biarin Mas Bagas aja."

Tara membalas senyum. 

"Dasar! Ngambil apa di Oxford?"

"Communication, Media and Culture. Mas Bagas nggak cerita?"

Tara meringis. "Bilang kamu di Oxford aja. Kabur dari Bapak kalian. Jarang pulang. Baru balik kalau Ibu kalian udah minta Mas Bagas buat nganterin beliau nengok kamu. Kenapa sih?"

Bagus mengedikkan bahu cuek.

"Ya, namanya hidup. Nggak ada yang sesempurna keluarga Cemara. Ada aja ujiannya. Kalo nggak di bapaknya, ibunya, mertua, anak, suami, istri, kakak, adik, ya ... bisa juga ekonomi, keimanan, jodoh, keturunan. Apalagi? Bawa santai aja lah. Hidup sekali doang. Aku sih ke sana bukan kabur aja. Mau keliling dunia juga, Mbak. Bapak merestuinya aku ambil yang bau-bau budaya. Biar bisa saling mempromosikan. Aku, sih, oke. Yang penting nggak di sini."

Tara mulai paham bagaimana kondisi keluarga Bagas dan Bagus. Tiba-tiba, Tara merasa beruntung jadi anak Papi dan Mami. Berkecukupan, bahagia, orang tua yang sayang pada anak-anaknya. Tak perlu menjadi sosok yang 'wah' dan dipuja-puji banyak orang. Tara membayangkan masa depan. Aduh, sepertinya Tara mesti mulai pelan-pelan memutuskan Bagas. Tapi, gimana dong? Tara kasihan juga sama Bagas.

"Kamu nggak ikut kirab, Gus?"

"Ikut. Makanya nanti Mbak ditemenin Pak Kirno ya? Sopir kami."

"Nggak usah. Aku palingan lihatin kalian dari depan hotel aja ya?"

"Boleh sih. Kita kirab start Sriwedari, finish-nya Balai Kota. Gampang lah. Ntar telepon aja. Mas Bagas jemput Mbak mungkin malemnya. Dia baru longgar jam-jam segitu."

-------

Bagus telah memesankan satu room di sebuah hotel bintang 5 di pinggiran Jalan Slamet Riyadi. Sedang menunggu diberikan keycard kamarnya, muncul seseorang yang mereka kenal. Berjalan cepat dengan tubuh tinggi kurusnya. Ia tersenyum hangat pagi ini. 

Langit Tak Berharap Bintang Hadir Malam Ini Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang