Bagas dengan kemeja berlengan panjang yang digulung sesikunya, topi putih yang menutupi terik, juga celana hitam dan sepatu pantofel senada, tengah berjalan bersama rombongan. Lebih tepatnya, lelaki tampan dan matang ini sedang memimpin tour pihak Kementrian Kesehatan yang berkunjung. Meninjau rumah sakit yang baru menyelesaikan pembangunan helipad di gedung A dan B untuk fasilitas transfer pasien secara udara.
Selain itu, mereka juga menengok pasien anak leukimia di bangsal Anak.
Bagas, beberapa dokter spesialis dan IGD, juga jajaran petinggi rumah sakit lainnya, Bapak Menkes beserta timnya, saling bertukar pendapat. Menyampaikan visi misi sekaligus nasehat perbaikan. Matahari mulai meninggi setelah mereka merampungkan acara potong pita, mencoba simulasi transfer pasien dengan helikopter hibah kementerian. Meski siang, Bagas tetap harus profesional. Ia melirik Rolex di lengan kiri. Biasanya jam makan siang, Tara mengirim pesan. Ini sudah sejak 2 hari lalu, Tara tak sempat on time stand by di seberang sambungan. Wanita itu sama sibuknya mengurusi kepentingan umat manusia di daerah terpencil.
"Saya rasa itu, Dokter Bagas. Kita bisa ketemuan lagi, nanti atur aja. Kalau udah oke, beberapa kekurangan sebetulnya bisa kita bantu angkat ke dewan, untuk didiskusikan bersama."
"Baik, Pak. Terima kasih atas kesempatannya. Ini sangatlah membantu untuk perbaikan mutu rumah sakit ini."
Bagas menyalami Menkes dengan ramah. Dilanjutkan arahan dari tim acara untuk mengantar mereka ke lokasi khusus di mana sedang disiapkan hidangan makan siang untuk menjamu tamu.
Bagas mengejar ke ruang direktur dengan beberapa staf untuk mengkoordinasikan beberapa perbaikan laporan hasil peninjauan hari ini. Mereka akan menghadapi libur panjang awal Ramadhan yang juga bertepatan dengan cuti tanggal merah nasional. Lumayan. 3 hari Bagas bisa kabur untuk menunaikan ibadah puasa di tempat Tara. Sekaligus menilik renovasi rumah Papi yang telah berpuluh-puluh tahun terbengkalai. Rencananya, ia akan memberikan kejutan untuk sang istri menginap di sana.
Bagas sudah masuk ke dalam Teslanya.
Setelah dari RS Samanhudi, melipir praktek poli dan visite di RS Medika, waktu Ashar terlewat tanpa terasa. Ia melipat jas dokternya ke bangku penumpang di belakang. Termasuk tas kerja. Lelah menumpuk. Tapi ia senang. Ini adalah bulan terakhir Tara di Aceh. Sebelum istrinya itu memutuskan vakum untuk membangun rumah tangga mereka lagi.
Lelah hubungan jarak jauh mereka akan segera terobati.
"Pesawat saya tepatnya jam berapa Gino?"
"Garuda jam 18.30, Mas. Koper udah di bagasi. Tadi Mbok yang bantu packing. Oleh-oleh dari Gusti Kanjeng Ratu Sekar juga sampun sedoyo (sudah semua)."
Mobil melaju ke bandara. Yang dituju pertama adalah ponsel Bagas di mana ia tak mendapatkan pesan Tara sejak 2 hari.
"Segitu nggak ada sinyalnya apa ya di sana? 2 hari nggak ada kabar," gumamnya. Gino hanya tersenyum melihat kekhawatiran Bagas. Lelaki itu juga tak butuh jawaban dari Gino.
Bagas mencoba menghubungi yang lain juga tidak ada sambungan.
"Bidan Pipi sama Wisnu yang tetanggaan Mbak kamu ini juga nggak ada yang aktif, No. Kenapa ya?"
Barulah Gino merasa ikut berpikir.
"Apa mati listrik, Mas? Pohon tumbang atau banjir mungkin?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Langit Tak Berharap Bintang Hadir Malam Ini
RomansaTara adalah perempuan bebas. Bebas tidur sembarangan, bangun siang, belanja sekehendak hati, makan junk food, nyetir kemana aja dia suka, dan yang pasti nggak ada orang ribet yang akan negur dia. Nggak lagi-lagi akan dia ulangi hidup dalam kekangan...
