29. Di balik Fakta

30 2 14
                                    

Rasanya seluruh penunjang kinerja tubuhnya ambruk setelah bagian belakangnya menghantam kursi yang bisa memutar tiga ratus enam puluh derajat itu. Memejamkan matanya sejenak untuk menyalurkan rasa penat pada sandarannya. Untuk hari ini rasanya tidak akan ada habisnya dia menyalurkan seluruh tenaganya dipakai untuk menyelesaikan semua masalah yang ada di kantornya. Bahkan ia harus rela bangun lebih awal guna menghindari pekerjaan yang berujung berteteran.

Semenjak Ibunya absen dari pekerjaannya, dirinya harus bekerja lebih ekstra karena semua digantungkan terhadapnya. Rasanya mau menyerah tapi ini tetap harus ia lewati. Karena pada ujungnya juga seluruh beban yang diemban Ibunya beberapa tahun ke belakang ini akan turun alih pada tangannya. Mau tidak mau ia harus merasakan bagaimana mengurus masalah kantor yang tidak akan ada ujungnya. Semua proses akan mengalami naik maupun turun.

Begitulah kehidupan. Jika tidak diemban sekarang, akan bagaimana jika hidup di masa yang akan datang. Tergantung kembali pada diri masing-masing. Mau kerja keras sekarang dan menikmati hasil akhir atau berleha-leha menggantungkan hidup pada waktu yang berjalan. Semua tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi kedepannya. Bekerja keras sekarang jauh lebih baik untuk menjaga kualitas hidup.

Itulah yang dirasakan Chakra sekarang. Menjalani kehidupan dewasanya sekarang tidak pernah terbayangkan seperti ini jadinya. Jika ia dipilihkan bagian mana ia ingin hidup, kehidupan masa kecil yang ia pilih. Karena pada masa itu dirinya tidak perlu repot-repot memikirkan bagaimana ia makan dan bisa membeli mainan. Semuanya hanya ia tinggal menadahkan tangan pada orang tuanya.

Saking nyamannya ia pada posisi sekarang--yang sudah dipastikan dirinya terlelap sejenak tadi. Chakra sampai tidak ingat bahwa hari ini ia harus melakukan sesuatu setelah jam kerjanya selesai. Dengan cekatan tangannya membereskan dokumen yang sempat berantakan dan menyimpannya pada filling cabinet yang berada di samping mejanya. Mengecek sebentar telepon genggamnya sebelum beranjak keluar kantor, sudah ada belasan notifikasi yang memenuhi layar kunci ponselnya. Tangannya berniat ingin membalas pesan terakhir yang dikirim. Baru saja akan menekan tombol kirim, sudah ada panggilan masuk dengan nomor telepon yang sempat belum disimpan.

"Chakra!!"

Chakra dengan refleks menjauhkan ponsel itu dari telinganya, suara melengking yang membuat gendang telinganya berdengung kuat.

"Gak usah teriak juga kali. Sakit nih telinga."

"Abis sih nyebelin katanya mau jemput jam empat, udah mau jam lima belum nongol juga."

"Ya maaf. Baru aja kantor aku abis keteteran. Ini juga baru mau jalan."

"Sebagai tebus kesalahan, beliin aku martabak telor istimewa. Nungguin kamu tanpa ujung ngebuat nih perut keroncongan tahu gak?"

"Iya, iya nanti aku samper di jalan. Beri tahu dulu kamu di terminal berapa?"

"Terminal 3 gate 5. Buruan dateng yah, laper nih."

"Iya bawel amat dah nih sepupu satu."

Chakra melemparkan ponsel tersebut pada dashboard dan segera menyalakan mobilnya untuk melaju pada jalanan utama kota ini. Karena memang jalanan hari ini tidak ramai kendaraan, jadi ia bisa leluasa memakai jalan dengan kecepatan yang agak tinggi. Karena tidak mau membuat sepupunya menunggu terlalu lama lagi. Apalagi ditambah dirinya harus menahan lapar. Padahal setahu dia di bandara sudah disediakan kantin di setiap terminalnya. Memang agak lain sepupunya ini.

Setelah melewati jalan tol Sedyatmo Jakarta, menuruni fly over yang dihadapkan oleh dua cabang jalan. Chakra mengambil cabang pertama yang merupakan akses untuk jalur kedatangan. Setelah memarkirkan kendaraannya, kemudian Chakra berjalan kaki menuju lantai satu gedung parkir, hingga langkah kakinya menginjak pada area gate lima.

You Must be Mine (SELESAI)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang