28. Pertimbangan Ulang

26 3 13
                                    

Sejak kepulangannya selepas acara malam itu berlangsung. Theo bahkan sampai sekarang tidak beranjak dari kamarnya sekalipun. Meringkuhkan diri di atas kasur serta dibalut selimut tebal sampai pada lehernya. Entah kenapa ia bisa seperti ini, peluh dari keningnya terus bercucuran disertai badan menggigil tak karuan. Padahal kedua telapak tangan dan kakinya terasa sangat dingin dibanding dengan badannya. Sepanjang malam pun dirinya bahkan tidak bisa tidur dengan nyenyak karena rasa sakit tak dapat tertahan yang merambati kepalanya. Bahkan saat disuguhi sarapan bubur oleh Bibi ARTnya, satu suapan saja ia langsung keluarkan, karena merasa dalam mulutnya terasa sangat asam dan pahit.

"Theo! Ngapain sih kamu kok belum--" Seru Ibunya saat pertama kali membuka daun pintu, Theo tengah memunggunginya.

"Allahu karim! Heh masih aja keenakan tidur-- Aw!" Tangannya refleks mengibas kala saat memegang ceruk leher putranya itu ternyata sangat panas.

"Kenapa badan kamu panas gini. Sejak kapan?"

Theo tidak menjawabnya, menggeliatkan tubuhnya sebagai respon untuk jawabannya.

"Masa mau ketemu mertua harus sakit sih. Mana buburnya masih utuh lagi. Ayok makan, ntar minun obat."

Theo menggeleng repetitif. "Pait, Mah."

"Dikit aja. Biar gak kosong amat tuh perut pas obatnya masuk."

"Simpen dulu aja, ntar Theo makan."

"Kebiasaan. Keras kepala banget deh."

Akhirnya Ibunya menghembus napas pasrah. Beginilah kira-kiranya jika anak sulungnya ketika sedang sakit. Tak mau berbuat apa pun selain tidur sepanjang masa sakitnya berlangsung. Berniat dirinya beranjak menuju dapur untuk mengambil kain waslap dan juga air hangat. Theo masih setia dalam dekapan selimutnya saat Ibunya kembali ke kamarnya. Menyibak sedikit selimutnya dan membenarkan posisi tubuhnya agar terlentang menghadap ceiling. Tangannya menyelupkan kain itu ke dalam mangkuk stainless yang berisikan air hangat lalu diletakkan pada dahinya. Ia benar-benar sedang sakit menurutnya dan tidak berpura-pura hanya untuk menyembunyikan gugup ketika akan bertemu dengan calon mertuanya. Ciri khas yang sudah ia kenali sejak dulu ketika Theo sakit, dilihat kedua bibirnya menjadi sangat merah dan dirinya pun bingung karena bukan seperti kalangan orang lain. Biasanya akan terlihat pucat pasi.

"Mama." Jingga menoleh pada pintu yang sudah menyembulkan kepala anak bungsunya.

"Iya, Rin."

"Orang tua Kak Hanu udah ada di bawah. Tapi Kak Hanunya kok gak ada ya?"

"Mungkin dia nyusul kali. Persiapannya udah selesai semua kan?"

"Beres. Ntar tinggal disuguhin aja. BTW, Mah. Kakak kenapa tuh?"

"Gak tahu. Mungkin gugup kali mau ketemu mertuanya. Padahal tadi malam baik-baik aja.

"Ke trigger lambung kali. Kakak kan suka gitu."

"Bisa jadi. Udah biarin istirahat aja dulu, ntar kalo Hanu ke sini pasti ngedadak langsung melek."

Jingga beserta Jirin sigap meninggalkan kamar Theo. Tepat di ruang tengah sudah ada kedua orang tua Hanu yang sedang berbincang dengan Ayah Theo. Jingga menyambut Heni dengan antusias seperti layaknya Ibu-ibu awam ketika bertemu setelah sekian lama, tak luput cipika-cipiki mereka lakukan. Lantas Jingga mempersilahkan mereka duduk kembali dan menyuruh ARTnya untuk menyuguhkan beberapa suguhan makanan ringan demi menyamankan tamu yang datang.

"Hanunya ke mana, Ni?"

Heni menempatkan kembali gelas yang telah ia sesap. "Katanya tadi mau beli sesuatu dulu sama Harun buat kamu. Katanya gak enak kalo datang dengan tangan kosong."

You Must be Mine (SELESAI)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang