20

1.7K 131 41
                                        

๋࣭ ⭑⚝ 🌅reynnᯓᡣ𐭩

🌌 Sky and Ocean 🌊
.
.

"Bused? Kenapa munculnya ke gue dah?" Anca, gadis dengan piyama beruang itu awalnya iseng membuka tweet untuk melihat postingan pacar pacar Koreanya. Tapi, yang lewat malah berita dari SMA Andromeda.

Gadis itu mengerutkan dahinya. "Bukannya ini mobil Bang Gibran?? Lamborghini! Iya ini mobilnya si Gabrin! Gue harus ngasih tau nih sama dia." Anca yang tadinya merebahkan badannya, kini dia meloncat dan berdiri untuk menemui Gibran.

***

"Nau, lo hobi banget baca komik. Gue ngeliat gambarnya ga teratur aja puyeng. Yang mulai percakapan duluan aja gue ga tau." Ujar Adara sembari menatap komik yang tengah di buka oleh Naura.

"Gue juga puyeng ngeliat tulisan novel novel lo! Mana tulisan semua ga ada gambar ilustrasinya. Mana ngerti gue!" Cicit Naura.

"HEHH! Siapa bilang ga ada ilustrasinya? Ada noh, yang judulnya Malioboro at Midnight, ilustrasinya bagus! Ada juga yang judulnya Hilmy Miland, tru-" ucapan Adara di potong oleh Naura yang membekap mulutnya.

"Udah diem! Disini bukan rumah lo yang bisa teriak teriak." Ucap Naura berbisik.

Pasalnya, beberapa pengunjung tengah memperhatikan keduanya sekarang. Hal itu tentu karena suara Adara yang besarnya melebihi toa Masjid.

"Makanya, kalau ga tau tuh diam aja." Gerutu Adara.

"Sttt! Cepat Nau. Gue lapar nih, mau sampai kapan kita di Gramed?" Vio, gadis yang sejak tadi tak berbunyi itu tengah berusaha menahan laparnya.

Adara terkekeh melihat gadis itu yang hanya diam seperti ayam potong. Jika saja dia tidak lapar, mungkin dia juga akan ribut disana.

"Nau, pucat dia, Nau! Haha, udah lapar bangat tuh kelihatannya." Adara merangkul Vio yang sudah lemas.

"Bejirr, jangan mati, Vi! Kita belum ada persiapan gali tanah kuburan!" Tukas Naura diselingi dengan kekehannya.

"Iya, Vi! Lo juga belum lunasi uang kas kelas, Vi. Lo mau mati tapi ga di terima?? Kalau gue sih ga mau ya, hihh!!" Adara menaikkan bahunya takut.

"Bangsat lo pada." Gerutu Vio.

***

"Gabrin!" Anca mengetuk pintu kamar Gibran berulangkali. "Pasti tidur! Kebiasaan deh. Padahal masih jam tujuh malam."

Perlahan dia membuka pintu kamar Gibran. Terlihat di dinding kamar laki laki itu terdapat lukisan laut dengan ombak kecil, sangat cantik. "Sejak kapan Gabrin pintar ngelukis?"

Dia melirik kasur yang diatasnya terdapat Gibran yang tengah tertidur di balut selimut.

Gadis itu meloncat tepat di samping Gibran tertidur. "Gabrin! Ada berita tentang lo, tau!" Anca menggoncang tubuh Gibran yang masih saja tenang tertidur. Dia smaa sekali tak terusik dengan kedatangan adiknya itu.

"Apasih bocah esempe?" Gibran meraup wajahnya kasar. Yah, keduanya beda dua tahun, Anca kelas sembilan SMP, sedangkan Gibran kelas sebelas SMA.

Sky And Ocean (GIDARA)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang