21

670 62 5
                                        

🌌 Sky and Ocean 🌊
.

Adara, gadis dengan bandana berwarna navy itu tengah mengikat tali sepatunya dengan santai, sedangkan laki laki di depannya sudah sibuk untuk mempercepat pergerakan Adara.

"Cepet, Ra! Lo ga liat ini udah jam berapa?" Laki laki itu menarik tangannya keatas dan kembali melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya.

"Ribut banget lo kayak cewek, kalau mau duluan duluan aja. Gue juga ga mau berangkat sama lo, kan lo nya yang datang kesini sendiri." Ungkap Adara jutek.

Gibran berdecak pelan, dia lantas ikut berjongkok di depan Adara. "Sini biar gue ikat," ucapnya mengambil alih tali sepatu Adara.

Bukan Adara namanya jika tak membantah. "Enggak, gue bisa sendiri." Ucap Adara kembali ingin mengambil alih tali sepatunya.

"Diam." Gibran tetap kekeh mengikatkan tali sepatu gadis itu, hingga keduanya terikat rapi.

"Nah, ginikan udah. Cepet masuk ke mobil." Titah Gibran.

Padahal, gadis itu sengaja melambatkan pergerakannya agar Gibran bosan dan pergi berangkat duluan. Namun, salah. Sangat tidak sesuai dengan apa yang dia pikirkan.

Dengan langkah kesal, gadis itu melangkah menuju mobil Gibran yang sudah terparkir di depan sana.

Laki laki itu membukakan pintu mobil untuk gadis itu. "Muka tolong di kondisikan." Tukas Gibran saat melihat kondisi wajah Adara yang cemberut.

Gadis itu hanya diam dan duduk di dalam dengan melipat kedua tangannya.

"Lo kenapa selalu ga mau berangkat bareng gue?" Tanya Gibran.

Adara membuang napasnya pelan. "Lo ga liat berita di tweet ??"

Gibran tersenyum kecil, dia tentu sudah tau tentang ini, dan hal ini yang membuat Adara tak mau berangkat dengannya.

"Terus?"

Adara berdecak sebal, dia membuang pandangannya kearah kaca mobil. "Gue ga suka," ungkapnya pelan.

"Kenapa?"

Adara mengerutkan kedua alisnya kesal. "Gatau!" Ketus gadis itu.

Gibran kembali menarik bibirnya keatas, dia mengambil sesuatu dari kantong celananya. Dan menyodorkannya pada Adara.

Adara melirik permen lolipop itu dengan senyuman yang lebar. Dia beralih menatap Gibran yang memberikan permen itu untuknya. Lantas dia melunturkan senyuman manis itu.

"Ambil, gausah sok jual mahal."

Adara memandang permen itu lagi, "Emang gue mahal! Lo mau nyogok kan??" Tebak Adara dengan tatapan sinisnya.

"Dih, siapa yang mau nyogok? Ambil nih, atau gue yang makan?" Ancam Gibran.

Adara kembali melipat kedua tangannya di depan dada. "Makan aja." Ucapnya sok acuh.

Gibran mengangkat kedua alisnya. "Yaudah sih, gue buka ya?" Gibran kembali menarik permen itu dari depan Adara.

Adara yang sontak melirik kearah permen itu. "Ih! Gue mau! Lo ga peka banget si!" Ungkapnya dalam hati.

Dia terus memperhatikan gerak gerik Gibran yang akan membuka bungkus itu dari sana.

Gibran yang melihat ekspresi gadis itu rasanya dia ingin tertawa, namun tertahan.

Selesai membukan seluruh plastiknya, dia kembali menatap Adara yang sejak tadi ekspresinya jutek. "Yakin?"

"Ga eh i-iya!" Kekeh Adara

"Satu.."

"Dua.."

"Ti.."

"Iyaa gue mau!" Gadis itu kemudian menatap Gibran yang tersenyum. "Kenapa lo senyum senyum?! Lucu?!" Ketusnya.

"Oh yaudah ini untuk gue!" Ucap Gibran mutlak.

"Ihh, mana boleh udah di kasih diambil lagi! Nanti tangan kamu burukan mau?" Peringat Adara. Terlihat seperti anak kecil yang tengah merepet.

"Ada syaratnya."

Adara berdecak sebal. Tidak apa, demi permen kesukaan. "Apa??"

"Muka jangan jutek dulu." Perintahnya.

Adara merubah air wajahnya menjadi lebih tenang, ditambah dengan sedikit senyuman penambah cita rasa manis.

"Udahh, siniin dong permennya." Titah gadis itu.

"Eitss, gitu cara minta yang benar?"

Adara kembali berdecak kesal untuk kesekian kalinya. "Tu?? Gimana??"

"Kiss dulu,"

***

Haiiiiii ini mimin wekaweka, sejujurnya ini draf 2024 yang belum selesai, yaudah de kasi aja ke kalian 😭

Sky And Ocean (GIDARA)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang