🌌 Sky and Ocean 🌊
.
.
"Zora!" Arbil berlari kecil mendekati Adara yang tengah duduk bersama Naura dan Vio.
"Hm, muncul nih satu lagi." Naura memutar matanya malas, karena setelah Gibran ada lagi yang protektif, yaitu Arbil.
"Yaampun, Ra." Arbil menatap kedua tangan Adara yang kaku terbungkus perban. "Mana si Mawar and gengnya itu? Sok asik banget."
Adara terkekeh pelan. "Gapapa, Bill. Gausah alay deh elo." Ejek Adara.
"Dihh, gue khawatir lo padahal. Kok tega bener lo sama gue," Seperti biasa, Arbil selalu histeris. Tidak peduli dengan sekelilingnya.
Vio menampol pipi Arbil pelan. "Walah anjir, diam lo."
"Wah anjir juga lo, Violetta! Gausah sok asik deh." Balas Arbil sinis.
"Hah? Sok asik? Lo kali yang sok asik!"
"Hah?! Gue?? Gu--"
"Permisi, apa ini ribut ribut." Gadis dengan seragam PMR yang melekat di tubuhnya berjalan pelan mendekati keduanya.
"Eh, sorry kak. Memang mulut yang dua ini gabisa di rem." Tukas Naura.
Gadis itu tersenyum lembut. "Ah iya, sebentar lagi jam pelajaran masuk. Kalian boleh masuk ya, biar Adaranya kakak yang temenin disini." Ucap gadis itu.
Ketiganya serempak mengangguk. "Oke oke kak, titip Adaranya ya. Kalau bandel smackdown aja kak, gapapa kok." Ucap Naura dan diangguki oleh Vio. "Setahu."
"Kurang ajar kalian." Geram Adara.
"Ra, kalau butuh apa apa, atau mau apa apa telfon gue aja ya?" Tawar Arbil.
"Iyaa, Bil. Masuk sana."
***
Tepat pukul 14.00 seluruh siswa dipulangkan. Lebih cepat dari sebelumnya karena Guru mengadakan rapat mendadak. Koridor sekolah yang biasanya masih sepi karena jam pelajaran, kini sudah ramai siswa yang berhamburan keluar.
"Ck, ayolah Gibran, biar sesekali gue yang antar Adara balik kerumahnya." Arbil yang keras kepala sejak tadi memohon agar Adara bisa pulang bersamanya.
Gibran bersikeras memegang ransel berwarna Biru milik Adara, dia menggelengkan kepalanya keras. "Pergi sama gue, pulang juga seharusnya sama gue, Arbil."
Adara hanya membuang napasnya gusar. Memang kedua lelaki ini tidak bisa disatukan.
"Tadi pagi kan udah lo, sekarang giliran gue!" Mereka pikir? Adara mainan yang bisa dipinjam secara bergiliran?
"Lah mana bisa gitu, ngantar jemput Adara itu udah jadi tugas gue, dan lo? Lo gausah ikut ikutan deh mantan! Yang berlalu so ba abu!" Gibran membuat wajah jahilnya, lihatlah tidak ada yang mau mengalah sekarang.
Arbil mengerutkan dahinya kesal. "Anjir lo, ini besti sekaligus adek gue, apa itu mantan? Sorry nggak kenal." Timpal Arbil.
Adara hanya memijat dahinya pelan, benar benar pusing berada di antara kedua bodyguard ini.
Drrttt.. drrttt..
KAMU SEDANG MEMBACA
Sky And Ocean (GIDARA)
Fanfiction[ FOLLOW DULU SEBELUM MEMBACA ] Selama ini, Adara dikenal sebagai "cegil" yang tidak punya urat malu. Ia mengejar Gibran dengan segala cara, meski Gibran selalu membalasnya dengan tatapan dingin dan kata-kata kejam. Namun, segalanya hancur di hari G...
