28

605 63 2
                                        

H A P P Y R E A D I N G
.
.

Naura menendang nendang batu-batu kecil yang berada dibawah tempat duduknya--halte

Ya, sudah 30 menit gadis itu menunggu jemputan yang tak kunjung datang. Sialnya disaat seperti ini handphone dengan casing abu itu tak kunjung menyala setelah terjatuh saat di koridor sekolah tadi.

Dia melirik kesana kesini berharap ada seseorang yang bisa ia tumpangi.

Naura menarik napasnya gusar. "Giliran kek gini aja gaada yang mau lewat, coba pas ga butuh pasti banyak yang nawarin pulang bareng." Gerutu Naura.

Dia sempat tersenyum dan melambaikan tangan saat Irsyad keluar dari gerbang sekolah, tetapi laki laki itu tak melihat Naura disana.

"Astaga, harapan gue satu satunya lenyap." Gadis itu kembali duduk dan menjatuhkan badannya pada dinding halte.

"Yaudah deh jalan aja, jalan kan buat sehat. Lagian siapa tau didepan ada pangkalan ojek jadi tinggal panggil deh."

"Kok belum pulang?"

Naura dengan spontan memutar badannya kesamping, dia sedikit terlonjak dengan satu kalimat itu. "YaAllah, gue kira siapa ternyata my suami." Naura lagi lagi terkejut dengan ucapannya barusan.

"Allahuakbar!" Sentaknya sembari menutup mulut menggunakan kedua tangannya.

Rahsya menaikkan alisnya heran, ada apa dengan gadis didepannya ini. Tunggu, dia menyebut dirinya apa tadi? My suami?

"Apa Nau?"

Naura membolak balikkan matanya bingung. "E-e anu, apa ee s-su su. Ah gausah lu pikirin. Gue mau balik dulu." Naura maju selangkah tetapi ditahan oleh laki laki tadi.

"Sama gue aja, didepan gaada tukang ojek." Seakan tau apa yang Naura baru saja pikirkan. Padahal ia memang mendengarnya sendiri.

"Eh, gapapa?"

"Aisshh, Naura kesempatan emas. JANGAN SAMPAI KELEPASANN!!" Batinnya bersorak sorak gembira, sama seperti matanya sekarang yang tengah berbinar.

"Ya, ayo naik." Rahsya lebih dahulu menaiki motor sport miliknya, lalu memasang helm sebagai pelindung dikepalanya. "Naik." Titahnya.

Naura dengan senang hati pulang dengan calon pacarnya itu, begitu katanya.

⊹₊˚‧︵‿₊୨ᰔ୧₊‿︵‧˚₊⊹

Suara pecahan gelas terdengar begitu nyaring didalam sebuah pabrik. Pabrik lama yang hanya memiliki dua lantai. Disana terdapat seseorang yang tengah meluapkan emosi dan amarahnya.

"BANGSAT! KENAPA GUE MAU SAMA LILY KEMARIN?" Suara berat itu terdengar menggema didalam. Lelaki itu terus terusan melemparkan benda yang ada di sekitarnya.

"ARRGGHH, SIALAN" Dia terus terusan mengumpat, menyesali perbuatan yang telah ia buat.

Dia menyesal telah menduakan gadis kesayangannya demi gadis lain yang menggodanya.

"Clarisa, lo harus balik lagi sama gue. Gapeduli konsekuensinya apa, intinya lo balik ke gue."

Alvaro menatap nanar polaroid yang isinya foto dia dan Clarisa yang tengah dinner di sebuah restoran. Dia menyunggingkan senyuman jahat "Sebenarnya lo masih sayang kan sama gue? IYAKAN?!" Ia kembali melempar foto itu dengan belati, namun tak kunjung tepat sasaran.

Sky And Ocean (GIDARA)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang